Sukses

Jurus Jitu Meningkatkan Taraf Kebahagiaan Remaja

Liputan6.com, Yogyakarta - Tiga dosen Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta berbagi cara meningkatkan taraf kebahagiaan atau subjective wellbeing kepada remaja. Mutingatu Sholichah, Sri Kushartati, dan Erny Hidayati mengukur taraf kebahagiaan 40 siswa di salah satu SMK Muhammadiyah di Yogyakarta.

"Hasilnya, menunjukkan beberapa indikasi subjective wellbeing (kebahagiaan) dalam taraf sedang dan rendah semua yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)," ujar Mutingatu Sholichah, Selasa (19/11/2019).

Ia menuturkan remaja merasa tertekan ketika mengalami KDRT karena belum memiliki keterampilan coping atau mengendalikan situasi yang penuh tekanan. Akibatnya, remaja merespons dengan cara yang cenderung destruktif, seperti bullying kepada teman yang lebih lemah, melarikan diri dari rumah, atau bergabung dengan kelompok klitih. Namun, ada pula remaja yang merespons dengan menyimpan persoalannya sendiri.

Ia bersama dengan dua rekannya pun melakukan pengabdian masyarakat di sekolah itu. Pertimbangannya, SMK Muhammadiyah itu belum memiliki program pendampingan khusus untuk mencegah atau mengatasi masalah yang dialami oleh remaja

Pendekatan yang dipakai adalah religious cognitive behavior yang memandang bahwa cara seseorang dalam memaknai beberapa kejadian dalam hidupnya itu menentukan bagaimana perasaan dan perilakunya. Sudut pandang ini dianggap tepat karena kebanyakan masyarakat Indonesia memiliki kehidupan yang religius dan pengajaran agama yang dilakukan sejak dini.

"Jika suatu peristiwa dimaknai dengan pikiran negatif, maka akan diikuti oleh perasaan negatif dan perilaku yang tidak adaptif. Oleh karena itu perlu diajarkan cara baru dalam berpikir dan memaknai berbagai peristiwa dalam kehidupan remaja," ucapnya.

Teknik yang diterapkan dalam pendampingan remaja ini adalah cognitive behavioral yang dapat mendukung aplikasi ajaran Islam. Agama ini memandang pentingnya unsur akal (pikiran) dan perbuatan yang selaras dengan akal dalam kehidupan manusia.

"Dalam program ini peserta diajarkan untuk menggunakan doa sebagai pengganti pikiran negatif terhadap suatu peristiwa," tutur Mutingatu Sholichah.

 

2 dari 2 halaman

Memahami Distorsi Kognitif

Intervensi kepada 40 siswa terbagi menjadi dua kelompok yang berbeda. Setiap kelompok mengikuti empat kali pertemuan.

Setiap pertemuan untuk konseling selalu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Alquran dan terjemahannya. Tema yang diangkat pun sesuai dengan tujuan intervensi.

Pertemuan ini membuat remaja memahami distorsi kognitif, yakni pikiran negatif tentang diri sendiri yang muncul setelah mengalami pengalaman emosional yang tidak menyenangkan. Peserta belajar memaknai pengalaman dengan cara mengubah distorsi kognitifnya dengan pikiran positif disertai doa sehingga tercipta narasi baru tentang pengalaman emosionalnya.

"Peristiwa tidak menyenangkan tidak dapat diubah, akan tetapi remaja bisa memaknai dengan cara yang berbeda melalui perubahan pola pikir," ujarnya.

Ia mencontohkan, salah satu peserta yang sering dimarahi orangtuanya ketika pulang terlambat. Semula, anak itu berpikir orangtuanya cerewet dan tidak sayang kepadanya. Ia marah tetapi tidak berdaya.

Namun, setelah berhasil mengubah pemaknaan terhadap peristiwa itu, si anak dapat belajar mengubah pikirannya. Misal, kemarahan orangtua sebagai bentuk rasa kekhawatiran dan kepedulian.

 

Simak video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Menikmati Gelato Rasa Lokal di Kafe Hotel Bercita Rasa Global
Artikel Selanjutnya
Cerita Miller Khan dan Kezia Aletheia Beradu Akting di Drama Religi