Sukses

Ironi Temuan Batuan Candi Kuno Dieng dalam Pembangunan Rest Area

Liputan6.com, Banjarnegara - Dataran Tinggi Dieng dikenal dengan panoramanya yang benar-benar unik. Kompleks Candi Arjuna menjadi wajah Dieng sehingga begitu mudah dikenal hingga mancanegara.

Ternyata, lima candi yang kini ada di kompleks Candi Arjuna hanya sebagian kecil dari candi dan situs kuno yang sebelumnya terdapat di Dieng.

Catatan pemerintah Belanda, terdapat sekitar 400 candi dan situs kuno di Dieng. Namun, sejak kedatangan Belanda pertama kali, candi dan situs penting itu lenyap.

Ironisnya, sebagian besar batuan candi digunakan untuk menguruk kawasan Dieng yang saat itu berawa. Menumpuk batu adalah cara paling cepat untuk mengakses Dieng, kala itu.

"Dulu, ketika Belanda datang itu kan Dieng berair. Sehingga agar bisa dilalui, itu memang harus menumpuk batu-batu begitu," Aryadi Darwanto, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dieng, mengungkapkan, Selasa (17/9/2019).

Akhir-akhir ini, warga heboh oleh temuan batuan candi dan situs kuno di Desa Dieng Wetan. Ratusan material batuan berbagai bentuk dan ukuran itu ditemukan ketika alat berat mulai menggali dalam persiapan konstruksi rest area.

Menilik lokasinya, diduga, batuan yang ditemukan tersebut adalah material Candi Prau dan situs Watu Sikelir. Namun, Aryadi bilang penemuannya bukan di lokasi candi.

Lokasi dibangunnya rest area hanya berdekatan dengan Candi Prau dan Watu Kelir. Rest area dibangun di atas bekas pesanggrahan, yakni tempat untuk menyimpan benda-benda purbakala saat Pemerintah Kolonial Belanda mengekskavasi sejumlah candi di Dieng.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Batu Candi Ditemukan, Bagaimana Pembanguan Rest Area?

"Batu-batu candi iya, tapi bukan lokasi candi. Dari sejarahnya dulu, yang akan dibangun rest area itu kan namanya pesanggrahan, itu tempat untuk mengumpulkan arca-arca temuan di Dieng," dia mengungkapkan.

Aryadi mengungkapkan, saat pemerintah Belanda menemukan situs candi di Dieng, kawasan Dataran Tinggi Dieng yang berada di lembah bekas kaldera rakasa ini merupakan rawa. Untuk dapat dilalui, batu-batu candi diambil dan ditumpuk untuk meninggikan jalan.

Akibatnya, material candi dan situs kuno penting hilang. Di antaranya, Candi Prau, Magersari, Parikesit, Candi Nakula dan Sadewa, serta Watu Kelir.

"Catatannya waktu Belanda datang itu ada sekitar 400 situs candi dan situs kuno," ucapnya.

Aryadi mengemukakan, temuan material candi ini sudah dilaporkan ke Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Tim BPCB mengambil sampel untuk diteliti di Semarang.

Namun, pembanguan rest area tak dihentikan. Alasannya, artefak yang ditemukan tidak in situ, alias bukan dalam kondisi asli dan bukan berada di tempat aslinya.

"Belum, dan memang tidak ada ekskavasi sampai sekarang," dia menjelaskan.

Alasan lainnya, masih banyak situs di Dieng yang juga perlu diekskavasi. Ekskavasi material kuno yang sudah bukan lagi dalam kondisi asli dan berada di tempatnya sangat sulit dilakukan.

"Jalan-jalan di Dieng itu dulunya juga dibangun dari tumpukan material batuan candi," dia mengungkapkan.

Loading