Sukses

Simsalabim, Sampah Plastik Disulap Jadi BBM di Sekolah Ini

Liputan6.com, Kebumen - Sampah selalu menjadi masalah yang seolah tak terpecahkan. Terlebih, jenis sampah tak terurai seperti sampah plastik.

Padahal, Indonesia adalah salah satu penghasil sampah terbesar dunia. Pencemaran limbah anorganik pun tak terelakkan.

Pengelolaan sampah yang kini dilakukan secara prinsip tak menyelesaikan masalah. Sampah, hanya dipindah dari satu tempat ke tempat lain yang bernama Tempat Pembuangan akhir (TPA) dan kini populer disebut Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST).

Sampah ditumpuk, dan kemudian menimbulkan masalah baru. Bahkan, di beberapa wilayah TPA terpaksa ditutup lantaran menuai protes warga.

Sementara solusi sampah belum ditemukan, sampah plastik terus bertambah. Itu termasuk di lingkungan-lingkungan sekolah, seperti di SMK Negeri 2 Bawang. Sampah menumpuk dan menjadi limbah yang mencemari lingkungan.

Lantas, mereka berusaha perang melawan sampah. Sampah organik dan anorganik dipilah. Sampah plastik lantas dikumpulkan dan dijual.

Namun, belakangan diketahui, di antara sampah plastik itu, ada pula jenis sampah plastik yang tak laku dijual. Jumlahnya juga cukup signifikan.

Kondisi ini memantik seorang guru di SMK Negeri 2 Bawang, Widarto untuk memuat terobosan pengelolaan sampah. Ia membuat alat untuk mengubah sampah plastik menjadi BBM atau bahan bakar minyak.

Tiga tahun lalu, Widarto membuat sebuah alat semacam destilator atau penyuling sampah plastik. Uji cobanya berhasil membuat sampah plastik kembali menjadi minyak. Namun, masih banyak kekurangan di sana-sini.

"Dibuat pada 2016. Saya coba alatnya pertama. Bikin alat besar, tapi hasilnya belum maksimal," kata Widarto, Rabu, 4 September 2019.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Selamat Tinggal Sampah Plastik

Percobaan terus dilakukan. Total, Widarto dan siswa SMK Negeri Bawang enam kali memperbarui alat pengubah sampah plastik menjadi BBM ini. Akhirnya, alat ini pun bekerja seperti yang diinginkan.

"Sekarang alatnya berkapasitas 10 kilogram sampah plastik. Kecil tapi cukup efektif," dia mengklaim.

Secara prinsip, alat kerja ini sangat sederhana. Semua sampah plastik dimasukkan ke dalam semacam tabung kedap. Kemudian, wadah dipanaskan dengan api bersuhu antara 300-400 derajat Celsius sehingga bertekanan tinggi.

Di dalam wadah, sekitar dua hingga tiga jam kemudian, limbah plastik mencair dan menguap. Uap lantas keluar melalui sebuah pipa dan ditampung.

Plastik pun berubah menjadi BBM. Tiap 10 kilogram sampah plastik menghasilkan sekitar lima liter BBM.

"Ya semacam penyulingan. Uap itu yang kemudian jadi BBM. Karena bahan dasar plastik kan minyak," dia menjelaskan.

Meski begitu, Widiarto mengakui alat ini belum bisa disebut menguntungkan secara ekonomi. Karenanya, alat ini tidak dibuat untuk tujuan komersial.

Sebab, antara biaya produksi dengan produk yang dihasilkan belum menguntungkan. Pasalnya, bahan bakar untuk mengubah sampah plastik menjadi BBM adalah gas elpiji. Akibatnya, biaya produksi pun tinggi.

Hasil BBM yang dihasilkan pun masih perlu diteliti kandungan maupun nilai oktannya. Namun, dari hasil percobaan lapangan, BBM itu bisa digunakan untuk sepeda motor, mesin pemotong rumput, hingga mesin diesel.

"Jadi kita sudah coba. Memang bisa digunakan," ujarnya.

Menurut Widarto, meski belum menguntungkan secara ekonomi, alat pengubah sampah plastik ini bermanfaat menjadi media pembelajaran bagi siswa. Siswa dirangsang untuk berani berinovasi saat menemukan sebuah masalah.

Loading
Artikel Selanjutnya
5 Strategi Penanganan Sampah Laut dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Artikel Selanjutnya
Indonesia Gandeng Timor Leste Tangani Sampah Plastik