Sukses

Buset, Banyak Sampah Pembalut di Gunung Kerinci

Liputan6.com, Kerinci - Tumpukan sampah yang makin memprihatinkan di Gunung Kerinci membuat belasan porter dan pemandu lokal gunung tersebut menggelar operasi bersih (opsih). Ada total 20 karung sampah pendaki yang berhasil dibawa turun. 

"Ini memprihatinkan, harus dilakukan tindakan," kata kordinator aksi opsih, Ferdi Andrea kepada Liputan6.com, Kamis (18/7/2019).

Ferdi mengatakan, banyak turis mancanegara komplain banyaknya sampah yang ditinggalkan para pendaki di Gunung tertinggi si Pulau Sumatera itu. 

Aksi pembersihan sampah itu sendiri, kata Ferdi, telah dilakukan selama tiga hari dan mendapatkan dukungan dana dari warga Belanda yang bermukim di Singapura. Warga negara asing itu pernah melakukan pendakian dan merasa prihatin dengan kondisi sampah di Gunung Kerinci sehingga berani mendukung aksi tersebut.

"Artinya mereka orang luar saja merasa prihatin dan peduli terhadap kondisi sampah. Meskipun dananya tidak besar dan atas keprihatinan tersebut kami sepakat untuk melakukan aksi nyata, karena kalau bukan kita siapa lagi," kata Ferdi.

Dalam aksinya itu, mereka melakukan pembersihan sampah yang dimulai dari shelter III (camp terakhir) hingga ke bawah pintu rimba. Mereka harus susah payah menyusuri jalur tebing yang banyak terdapat sampah yang terbawa arus air.

Kebanyakan sampah yang mereka bersihkan itu adalah sampah-sampah lama rentang waktu 1-5 tahun bekas logistik pendaki yang sulit terurai.

Setelah opsih digelar, 95 persen kondisi gunung yang berketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut itu sudah bersih dari sampah.

"Sekarang dibutuhkan komitmen dan kesadaran dari pendaki untuk bersama-sama bertanggung jawab membawa sampah turun kembali," katanya.

 

2 dari 3 halaman

Pembalut Wanita

Ferdi mengaku, selain sampah plastik, aksi opsih juga menemukan banyak sampah pembalut.

"Bekas pembalut yang sengaja dibuang di area kemping oleh pendaki yang tidak bertanggung jawab," katanya.

Untuk meminimalisasi sampah di Gunung Kerinci, Ferdi menyarankan kepada pengelola pos penjagaan pendakian Gunung Kerinci di R10 untuk mengontrol dan memberikan sanksi tegas bagi pendaki yang tidak membawa turun kembali sampah pendakiannya.

"Misalnya dibutuhkan cek logistik, kalau membawa lima botol mineral, yang dibawa turun itu yang harus lima lagi, begitu juga dengan sampah lainnya harus begitu, kalau yang dibawa turun tidak sesuai diminta untuk mengambil kembali sampahnya yang ditinggal," ujar Ferdi.

Kepala Resort 10 Pendakian Gunung Kerinci, Evarizal Mirzal mengapresiasi inisiatif yang dilakukan para porter lokal dengan aksi pembersihan sampah.

Untuk mengontrol sampah di gunung, pihaknya kini telah menerapkan sistem tahan KTP bagi para pendaki saat melakukan pendaftaran pedakian di pos penjagaan.

"Sekarang sudah mulai ketat, kita tahan KTP-nya kalau tidak bawa sampah turun. Kita juga ke depan berencana akan membatasi jumlah pendaki dengan sistem pendaftaran online," kata Evarizal kepada Liputan6.com.

Gunung Kerinci merupakan puncak tertinggi gugusan Bukit Barisan di Sumatera. Gunung tersebut berada pada perbatasan antara Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Barat, atau dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang.

Gunung dengan julukan puncak "Top Sumatera" itu menjadi magnet bagi pendaki dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara karena memiliki pemandangan yang indah dan jalur yang sulit.

"Sekarang rata-rata perhari ada 100 sampai 200 pendaki yang melakukan pendakian di Gunung Kerinci lewat pos penjagaan R10 di Desa Kersik Tyo, Kayu Aro, Kerinci," demikian Evarizal.

 

3 dari 3 halaman

Simak juga video pilihan berikut ini:

Loading