Sukses

Singolangu, Napak Tilas Jalur Prabu Brawijaya di Gunung Lawu

Liputan6.com, Magetan - Biasanya pintu jalur pendakian Gunung Lawu ada tiga, yaitu Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Kini pendaki mempunai pilihan satu lagi yaitu via jalur klasik Singolangu. Bagaimana jalurnya?

Walau jalur tersebut baru dibuka secara resmi dua bulan lalu, namun telah dilewati ribuan pendaki. Sejatinya, jalur tersebut merupakan jalur klasik yang dijadikan para spiritual pendaki pada era 1980-an.

"Sebenarnya jalur spiritual. Sudah dari 30-an tahun lalu. Ya sekitar tahun 1980-an sudah dibuka," kata Ketua Sanggar Margolawu pengelola jalur klasik Singolangu , Krisna Bayu, Minggu (14/7/2019).

Ia menyebutkan bahwa, jalur Singolangu mempunyai keunggulan tersendiri, terutama bagi penyuka sejarah. Keunggulannya sepanjang jalur tersebut terdapat prasasti peninggalan Prabu Brawijaya. Sehingga, pendaki Gunung Lawu bisa sekaligus untuk napak tilas peninggalan Prabu Brawijaya.

Krisna menccontohkan, di pos penjagaan atau pos 1 terdapat batu yang berdasarkan sejarah pernah digunakan sembahyang Prabu Brawijaya. Pendaki juga dapat menemukan prasasti batu lapak yang dipercaya sebagai bekas tapak kuda Prabu Brawijaya.

Ia menambahkan dalam perjalanan jalur tersebut pendaki dapat menemukan Cemoro Lawang yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya Prabu Brawijaya bersama patihnya.

Menariknya, pendaki bakal melewati kobongan menyan. Berdasarkan kepercayaan seluruh pendaki yang melewati tempat tersebut harus membakar kemenyan.

"Membakar menyan di Cemoro Lawu. Gunanya untuk penunggu. Jika tidak membawa kemenyan boleh meninggalkan bekal. Pokoknya meninggalkan sesuatu. Jika tidak biasanya nanti bingung atau tidak bisa kembali," lanjut Krisna.

Menurutnya, selama ini belum ada yang sampai menghilang. Karena sebelum naik, petugas sudah mewanti-wanti pendaki Gunung Lawu.

2 dari 2 halaman

Cocok bagi Pemula

Jalur Klasik Sengolangu tidak melulu tentang mistis. Jalur tersebut menyuguhkan eksotisme pemandangan hijau hutan yang masih alami.

Sumber mata air yang berlimpah dengan udara yang cukup sejuk juga disajikan. Pendaki juga disuguhkan track berupa jalan tanah yang cukup landai. Ia mengklaim, jalur klasik ini cocok bagi pemula.

"Hanya saja ada satu track yang cukup menanjak. Cocok bagi pemula yang baru menjajal naik gunung," ungkapnya.

Namun, untuk pendaki yang suka dengan jalur menanjak bakal melewati Tanjakan Penggik. Tanjakan sepanjang 500 meter itu cukup menguji tenaga dan adrenalin lantaran memiliki kemiringan 45 derajat.

"Untuk yang suka tantangan juga ada. Tapi cuma satu. Yang jelas paket lengkap buat yang baru dan yang lama," katanya.

Untuk sampai di puncak Gunung Lawu melalui Jalur Klasik Singolangu para pendaki harus menempuh jarak 8,2 kilometer. Dapat ditempuh dengan estimasi waktu delapan jam. Sementara jalur lain seperti Cemoro Sewu dapat ditempuh dengan jarak 6-7 kilometer, Cemoro Kandang 14 kilometer, dan Candi Cetho 15 kilometer.

Ia mengungkapkan jalur tersebut memiliki lima pos yang dapat digunakan beristirahat bagi pendaki. Tiap pos memiliki ciri khas pemandangan masing-masing yang dapat membuat pendaki takjub. Misalnya hamparan Bunga Eidelweis hingga tembus ke Sendang Sunan Drajat.

Selama ini, jalur tersebut dikelola dengan anggaran bersumber dari swadaya pemuda setempat. Harapannya jalur tersebut mampu menumbuhkan perekonomian dan mengurangi pengangguran dan membuka potensi wisata baru di sepanjang jalur.

"Pantangan terkahir berpakaian hijau, dan terpenting dilarang membawa tisu basah serta membawa turun sampah yang dibawa. Naik dan turun kami cek," katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Kebiasaan Baik Mbah Masirin Jadi Penyelamat Saat Terpeleset di Gunung Lawu
Artikel Selanjutnya
Doa dan Ritual Pendaki di Gunung Lawu saat Malam Satu Suro