Sukses

Kisah Manusia Tertinggi di Berau, Tak Bisa Jongkok dan Berjalan Normal

Berau - Rahmadi (22), seorang warga Kampung Tanjung Parangat, Berau, Kalimantan Timur, punya ukuran tubuh berbeda dari kebanyakan orang. Dia punya tinggi badan mencapai 2,2 meter, tinggi yang tak normal untuk orang Indonesia seusianya.

Sang ayah, Tongat mengatakan, saat dilahirkan semua anak-anaknya dalam keadaan normal, termasuk Rahmadi.

"Postur badannya seperti saya dan ibunya-lah," kata Tongat dikutip Jawapos, Jumat (26/4/2019).

Namun ketika berusia 12 tahun, kata Tongat, setelah disunat, tinggi badan Rahmadi terus bertambah.

"Saya tidak pernah menimbang berat badannya, jadi tidak tahu," kata Tongat.

Sang ayah juga merasa prihatin, sebab Rahmadi sejak usia lima tahun sakit. Rahmadi tidak bisa jongkok. Untuk berjalan pun hanya bisa maju beberapa meter. Bila sudah terlanjur di kebun, biasanya memilih tidur ketimbang harus pulang ke rumah, padahal jaraknya tidak jauh.

"Kami hanya mengantarkan makanan. Porsinya memang lebih dari biasanya," kata Tongat.

Prihatin dengan kondisi Rahmadi yang merupakan manusia tertinggi di Berau, Wakil Bupati (Wabup) Berau, Kalimantan Timur Agus Tantomo mengunjungi kediamannya di Kampung Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung, pada Minggu (21/4). Bersama salah satu komunitas di Berau, Agus memberikan bantuan berupa sembako kepada Rahmadi dan keluarganya.

"Bantuan itu sebenarnya sudah biasa, yang terpenting itu adalah bagaimana caranya menangani masalah kesehatannya. Itu menurut saya yang penting," katanya dikutip dari Berau Post (Jawa Pos Group), Rabu (24/4).

Agus pun meminta kepala kampung setempat segera membawa Rahmadi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai, Tanjung Redeb untuk pemeriksaan kembali kondisi kesehatannya. Terlebih dari informasi yang ia terima Rahmadi menderita tulang lemah.

Atas dasar itu, melalui pemeriksaan ulang di rumah sakit nantinya akan diketahui permasalahan yang dialami Rahmadi saat ini.

"Kalau hasilnya tetap diminta untuk dirujuk maka akan kami usahakan agar dia tetap dirujuk. Apalagi teman-teman komunitas juga sudah berkoordinasi dengan RS di Balikpapan dan pihak rumah sakit mengaku bisa menanganinya," tuturnya.

Mengenai biaya yang digunakan apabila Rahmadi dirujuk, Agus menyebut pengusaha lokal dan komunitas siap menanggung. Sehingga menurutnya tidak perlu meminta bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.

"Dengan adanya bantuan ini tentunya kami ingin memberikan dia harapan dari sisi kesehatan agar bisa sembuh. Sehingga bisa tumbuh dan sehat, serta bisa beraktivitas seperti biasanya," harapnya.

Baca juga berita Jawapos.com lainnya di sini.

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

Loading