Sukses

Menelusuri Jejak Hitam Tambang Batu Bara di Kalimantan Selatan

Liputan6.com, Banjarmasin - Ferdinand Adaro datang ke Indonesia pada 1982. Bersama Enadimsa, semacam BUMN-nya Spanyol, ia mengeksplorasi batu bara di kawasan Kalimantan Selatan. Pada 1989, Ferdinand Adaro menemukan sumber batu bara yang diyakini tanpa jejak emisi merkuri saat menjadi bahan baku PLTU.

Sebagai penghormatan, nama belakangnya diabadikan sebagai nama perusahaan tambang. PT Adaro Indonesia punya tiga kontraktor. Untuk kegiatan penggalian (mining) diserahkan ke SIS, anak usahanya sendiri. Prosesnya harus melewati beberapa tahap. Penggalian dilakukan ke beberapa lapisan tanah hingga menemukan batu bara.

"Tanah humus di lapisan pertama tidak dibuang, itu digunakan lagi untuk menambal lubang galian," kata Indra Yudistira, Head Section External Relation PT SIS, saat ditemui, Kamis (14/3/2019).

Hasil batu bara yang terkumpul dimasukkan ke dalam room. Dari situ, batu bara diangkut menggunakan truk-truk melewati jalan khusus yang dibuat sepanjang 85 kilometer sampai ke Pelabuhan Kelanis.

Ketika hujan, penggalian pun dihentikan, mengingat medan penggalian akan menjadi licin dan berbahaya. Itu yang menjadi alasan mengapa hasil penggalian batu bara akan over pada kuartal dua dan tiga dibandingkan dengan kuartal satu dan empat.

"Kita genjot di kuartal dua dan tiga, saat musim kemarau, untuk menutupi target yang tidak tercapai saat hujan," ucap Indra.

SIS tiap tahun menghasilkan 125 ton batu bara, yang sebagian besar digunakan bahan baku PLTU milik Adora Power. Listrik yang dihasilkan 100 persen diserahkan kepada PLN dan didistribusikan ke masyarakat, khususnya di Kalimantan Selatan.

Adrian Lembong, Direktur PT Adaro Power menceritakan, Hong Kong terang benderang. Listrik di negara itu melimpah ruah. Namun, yang mengejutkan tak ada pencemaran udara dari emisi merkuri karena PLTU menggunakan batu bara dari Kalimantan.

"Sementara kita gelap gulita, itu kan bikin geli," kata Adrian Lembong.

Lebih jauh Adrian menjelaskan, untuk mengetahui kadar emisi merkuri pada batu bara, cara yang paling tepat adalah dengan mengendalikan kadar batu baranya. Banyak pembangkit listrik di berbagai negara punya masalah dengan zat-zat emisi yang dihasilkan dari pembuangan.

"Kita itu punya keuntungan, karena kita mendapatkan batu baranya itu dari Adaro, batu bara Indonesia yang memang dari sananya tingkat kontaminasinya sudah sangat rendah. Nah, kita tidak perlu kerja keras untuk menurunkan tingkat kontaminasinya itu," kata Adrian.

Secara prinsip, katanya, tiap pembangkit listrik punya filter pada gas buangnya. Jika pembangkit listrik ingin mengurangi zat emisi, mereka punya filter, salah satunya adalah diseprei dengan air untuk menyerap SOx, NOx, dan merkuri.

"Nah batu bara Adaro itu setelah diteliti nol merkuri. Di sini kita bisa related seratus persen Adaro mining dengan Adaro power," kata Adrian.

Dirinya juga mengatakan, bukan hanya gas buang, PLTU juga masih punya PR lain, yaitu bagaimana caranya mengelola abu sisa pembangkit lisrik. PLN mensyaratkan setiap pembangkit listrik harus punya extorage area sekitar 5 tahun agar bisa menampung abu pembangkit listrik.

"Kita punya itu, dan nyatanya sekarang abu itu bisa diserap sama pabrik semen. Abu itu bisa jadi salah satu bahan baku pembuatan semen," ungkap Adrian.

Sebagai Independent Power Produser pertama dan PLTU terbesar di Kalimantan Selatan, pembangkit listrik milik Adaro ini terus fokus pada bisnis ketenagalistrikan. Hal ini sejalan dengan program infrastruktur pemerintah di bidang kelistrikan sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi.

Untuk itu, Adaro berperan aktif mendukung program 35.000 MW dengan membangun pembangkit listrik di beberapa wilayah di Indonesia. Alam terbentang menjadi sahabat. Prinsip itu menjadi salah satu acuan bisnis tambang Adaro. Satu dari delapan pilar perusahaan adalah menekankan kelestarian alam.

2 dari 2 halaman

Upaya Pelestarian Alam

Melalui program CSR, banyak hal yang telah dilakukan Adaro untuk bisa bekerja bersama masyarakat sekitar sambil terus melestarikan alam. Maskuni dan komunitasnya berhasil mengembangkan produksi madu khas Kalimantan yang dihasilkan dari lebah kalulut.

Dengan bantuan Adaro, dirinya kini tidak perlu lagi mencari madu di hutan lantaran tersedia lahan yang luas untuk budidaya lebah madu kalulut.

"Sekali panen satu titik itu bisa 10 liter, ada 4 titik panen tiap bulan. Ada 250 sarang di tiap titik," ungkap Maskuni.

Madu kalulut hasil budi daya ini pun sudah dijual ke banyak tempat, termasuk luar daerah yang ingin merasakan kesegaran rasa dan khasiat madu murni dari hutan Kalimantan.

"Madu ini agak asam, seperti ada rasa jeruknya, beda sama madu lain. Karena kalulut beda dengan lebah pada umumnya," kata Maskuni.

Adaro juga punya lahan nursery seluas 2 hektare. Lahan ini digunakan untuk budi daya tanaman endemik Kalimantan, mulai dari sengon, trambesi, mahoni, meranti, hingga tanaman buah. Sebanyak 2.000 bibit ditanam tiap harinya di Green House yang mencakup tanaman fast growing dan slow growing.

"Kita juga tanam pohon-pohon pembawa burung, ada sepatudea. Jadi kita mengajak burung balik ke alamnya. Paringin sudah 15 tahun, itu lahan reklamasi Adaro sudah banyak burung lagi sekarang," kata Muhammad Mesijan, orang yang bertanggung jawab di Nursery.

Tak hanya itu, air dari bekas pembuangan tambang batu bara juga bisa dikonsumsi kembali oleh masyarakat secara gratis. Adaro punya unit pengelola air, mengubah air buangan tambang menjadi air seperti semula, bahkan bisa dikonsumsi secara langsung tanpa proses dimasak.

Ahsan Saputra, orang yang menjaga di unit pengelolaan air kepada Liputan6.com mengatakan, tiap hari ada 800 kubik air yang masuk ke unit pengelolaan. Dari jumlah tersebut dihasilkan 20 liter air bersih per detik.

Tambang dengan metode open pit cenderung menghasilkan kolam-kolam bekas galian. Berangkat dari hal ini, Adaro melihat adanya potensi besar sebagai perusahaan yang bisa menghasilkan air bersih.

Air dari beragam tahapan panjang pengolahan sebelum keluar ke badan sungai penerima maupun ke pipa-pipa masyarakat harus memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Pergub Kalsel No 36 tahun 2008.

"Sudah beroperasi dari 2008, pipanisasi bisa langsung diminum warga tanpa dimasak. Sementara yang dialiri baru tiga desa, yakni Adahai, Padang Panjang, dan Laburan," ungkap Ahsan.

Sebagai indikator air di lingkungan sekitar tambang tetap terjaga kelestarian dan tingkat kesehatannya, PT Adaro Indonesia juga memiliki kolam penelitian. Kolam ini digunakan untuk budi daya ikan khas sungai-sungai Kalimantan.

Menggandeng LIPI sejak 2009, kolam penelitian ini sudah membudidayakan berbagai jenis ikan lokal dan air tawar, antara lain ikan pepuyu, pipih, dan gurame.

Yunesto, salah seorang yang bertanggung jawab di kolam penelitian mengatakan, lahan yang digunakan untuk kolam penelitian seluas 1,5 hektare. Lahan tersebut mencakup proses pemijahan, pembesaran bibit, pembesaran ikan, sampai panen.

"Kelompok tani di sini kami berikan bibit maupun indukan juga. Kami pantau terus mereka dari mulai pembuatan kolam sampai pascapanen," kata Yunesto.

Hasilnya bukan hanya dijual, Yunesto mengungkapkan, sebagian ikan yang dipanen dari kolam penelitian juga dirilis ke Sungai Tabalong. Hal itu dilakukan sebagai indikator meski ada galian tambang, sungai-sungai di kawasan itu tetap lestari dan menjadi habitat banyak ikan.

Pada akhirnya tambang tidak melulu soal eksploitasi, pertambangan juga sangat berpotensi menjadi agen perubahan di suatu daerah.

Adanya aktivitas tambang di daerah tertentu bisa membuka akses dan infrastruktur, sehingga pengembangan suatu daerah mudah dilakukan. Tambang yang baik memanfaatkan seefisien mungkin sumber alam dengan mengedepankan nilai lingkungan dan keadilan sosial. 

Simak video pilihan berikut ini:

Detik-Detik Mobil Jatuh dari Ketinggian 4 Meter
Loading