Sukses

Mencicipi Brownies Cokelat Lumer, Idola Baru Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta - Yogyakarta memang gudangnya kuliner dan buah tangan. Brownies di kota ini pun beragam bentuknya. Salah satu yang sedang hit adalah Melted Brownies. Sesuai namanya, brownies ini memiliki isi cokelat lumer yang meleleh seperti lava ketika dipotong.

Ada dua varian rasa yang ditawarkan, cokelat dan keju. Keduanya sama-sama memiliki khas meleleh. Soal rasa, jangan ditanya.

Melted Brownies benar-benar memanjakan lidah penyuka cokelat. Rasa manis yang menyatu dengan lidah tidak meninggalkan jejak eneg di kerongkongan.

Brownies seberat 500 gram dengan ukuran 23x7x5 sentimeter ini sudah menjadi idola di Yogyakarta dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Pembeliannya pun bisa lewat Gojek atau datang langsung ke rumah produksi yang berlokasi di Banguntapan Bantul.

Tidak susah mencari lokasi rumah produksi Melted Brownies. Google Maps sudah mencatatnya, tinggal klik, dan mengikuti petunjuk yang tertera di ponsel.

Sejak empat bulan yang lalu, Melted Brownies juga membuka outlet di Bandara Adisutjipto. Tidak perlu khawatir ada perbedaan harga jual, brownies yang dipesan lewat Gojek, dibeli langsung di outlet maupun rumah produksi harganya sama.

Brownies cokelat dibanderol Rp 65.000 dan keju seharga Rp 85.000. Sekadar saran, bagi konsumen yang menyukai sensasi cokelat lumer dan keju lumer sebaiknya tidak menyimpan brownies ke dalam kulkas karena cokelat dan keju bisa membeku.

Di dalam suhu ruang, Melted Brownies rasa cokelat bisa bertahan sampai enam hari, sedangkan rasa keju awet sampai tiga hari. Pengemasan Melted Brownies juga menarik, ada pita dan kartu ucapan serta desain dus yang memberi kesan eksklusif.

2 dari 2 halaman

Produksi Mencapai 150 Kotak per Hari

Antusiasme masyarakat, baik penduduk Yogyakarta maupun wisatawan domestik, yang tinggi terhadap Melted Brownies membuat pasangan Etik Sugianti (29) dan Fadil (31) harus membuat 150 buah brownies setiap hari. Kondisi ini jauh berbeda saat mereka merintis usaha pembuatan brownies.

Etik bercerita semula hanya iseng membuat aneka kue karena sang suami suka memasak dan membuat roti. Setiap kali ada teman yang datang berkunjung, ia memberi kue buatannya.

"Waktu itu pernah bikin brownies dan semua teman suka, mereka yang mendukung untuk coba dijual saja, ditawarkan via media sosial," ujar Etik, Jumat (4/1/2019).

Ia pun iseng menawarkan via media sosial dan pesanan pun mulai berdatangan. Awalnya, ia tidak berani membuat brownies dalam jumlah besar.

Etik dan Fadil hanya membuat sesuai jumlah pesanan. Kian hari pesanan dan permintaan menumpuk. Mereka pun memutuskan untuk mengembangkan usahanya.

"Awalnya rumah produksi di rumah saya di Piyungan, tetapi ternyata banyak pembeli yang ingin datang langsung ke rumah produksi, akhirnya kami pindah ke Banguntapan sejak dua tahun lalu," ucapnya.

Pekerjaan yang semula hanya dipegang oleh mereka berdua pun mulai berubah. Saat ini, terdapat sembilan orang yang bekerja membantu produksi Melted Brownies.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Sambut Baasyir, Ponpes Ngruki Mulai Berbenah

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Doyan Pedas, Yuk Menyantap 'Buntut Bakar Bledex' di Yogyakarta
Artikel Selanjutnya
Harapan Keluarga Mempelai Wanita Usai Ijab Dhaup Ageng Pura Pakualaman