Sukses

Mengurai Sejarah Bahasa Belanda di Nagari Koto Gadang

Liputan6.com, Koto Gadang - Nagari Koto Gadang Kabupaten Agam Sumatera Barat merupakan tanah kelahiran H Agus Salim, Rohana Kudus, dan orang hebat Indonesia lainnya. Dikenal dengan sebutan "Gudang Kaum Intelektual" menjadikan daerah ini ramai dikunjungi, meski pengelolaan pariwisatanya belum memadai.

Desa ini memiliki daya tarik tersendiri bagi penggali ilmu pengetahuan, sejarah kemerdekaan, peradaban, hasil alam, kerajinan tangan, dan bahasa. Hal ini lantaran, warga dan tokoh asal nagari ini mampu bernegosiasi dengan penjajah karena mampu berbahasa asing, yakni Belanda dan Inggris.

Bahasa merupakan hal vital dalam kehidupan sosial. Tak memahami bahasa takkan mampu berbicara. Itulah mengapa warga Koto Gadang begitu menghargai sebuah bahasa. Kaum intelektual Indonesia asal Sumatera Barat, seperti Agus Salim mampu membantu memerdekakan nusantara dengan kemampuan berbahasanya.

Salah seorang penduduk asli Koto Gadang, Denizar, mengatakan dahulu mayoritas masyarakat Koto Gadang mampu berbahasa Inggris dan Belanda dalam keseharian. "Sesama anggota keluarga, kami berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris," ujar perajin perak ini.

Ia mengaku selalu mengingat pesan Agus Salim kepada masyarakat Koto Gadang, bahwa jika ingin menguasai dunia maka harus padai berbahasa. "Terutama bahasa Inggris," kata Deni seraya mengenang sosok pahlawan itu.

Seiring berkembangnya zaman, perlahan bahasa asing yang dimiliki masyarakat Koto Gadang memudar. Kini, sulit mendapati penduduk yang mampu berkomunikasi dengan bahasa asing di sini.

Deni menuturkan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab bahasa asing tidak eksis lagi di Nagari ini. "Mayoritas penghuni Koto Gadang saat ini adalah pendatang," jelas wanita paruh baya ini.

Penduduk asli Koto Gadang memilih meninggalkan tanah kelahiran mereka, bukan karena desanya tak makmur, melainkan penduduk Koto Gadang memiliki hasrat yang tinggi untuk merantau mencari pengalaman dan ilmu. "Mereka lebih tertarik pada bidang ekonomi, perindustrian, politik dan lainnya," ucap Deni.

"Penduduk asli Koto Gadang sangat meninggikan ilmu pengetahuan, anak-anak disekolahkan di tempat yang berkualitas," dia menambahkan.

Menurut Deni, masyarakat yang kini menetap di Koto Gadang 80 persen adalah pendatang. Mereka hanya fokus mencari pendapatan sehingga tidak terlalu memedulikan pendidikan. "Akibatnya anak-anak tak lagi bisa berbahasa Inggris atau Belanda," kata Deni.

Deni melanjutkan, saat ini bahasa Inggris dan Belanda belum hilang sepenuhnya di Koto Gadang karena penduduk asli berumur 60-an masih menggunakan bahasa asing ini. "Lansianya masih aktif berbahasa Inggris dan Belanda, jika saling bertemu sesama mereka," ia menceritakan.

2 dari 2 halaman

Kondisi Koto Gadang Saat Ini

Fadhel seorang murid kelas dua Sekolah Dasar (SD) Nagari Koto Gadang menuturkan ia tak paham dengan pelajaran Bahasa Inggris di sekolahnya. "Susah bahasa Inggris itu, lain tulisan, lain bacanya," ujar Fadhel.

Ia mengaku guru bahasa Inggrisnya pun tak lancar berbahasa asing ini. Guru di sekolah hanya memberikan kosakata, tetapi pengucapannya tidak diajarkan. "Nama binatang tahu, tapi bacanya tidak bisa," jelasnya.

Begitu pun dengan penjelasan warga, Eri salah seorang pendatang, mengatakan bahwa ia tak tahu sama sekali tentang bahasa Inggris karena ia tidak tamat sekolah. "Saya ke sini buat cari hidup (pekerjaan)," katanya.

Ia mengakui dalam mendidik anaknya, ia tak memberikan pengajaran mengenai bahasa Inggris. "Anak-anak di sekolah mereka belajar, jadi biarlah gurunya saja yang memberikan pengetahuan," perajin kain tenun ini menandaskan.

Saksikan video menarik berikut ini: