Sukses

Mengenal Mandi Penolak Petaka di Kampung Terih

Liputan6.com, Batam - Ada tradisi mandi dalam budaya Melayu. Dengan mandi Safar, warga Melayu berharap terhindar dari 360 ribu bala yang diturunkan Allah pada hari tersebut.

Ketua Lembaga Adat Melayu kecamatan  Nongsa Mazlan Madiun  mengatakan tradisi mandi Safar melekat dengan adat istiadat Melayu. Namun saat ini tradisi mandi safar sudah  jarang dilaksanakan.

Mazlan Madiun mengatakan itu dalam gelaran mandi safar di Kampung Terih.

"Orang-orang tua adat jelas khawatir kalau tradisi ini ditinggalkan generasi sekarang," kata Mazlan, Rabu (7/11/2018).

Menurut Mazlan, masyarakat di Kampung Terih, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, tradisi mandir safar sendiri berfungsi membentengi diri dari 360 ribu bala yang diturunkan Allah pada hari tersebut.

"Insya Allah masyarakat akan terhindar dari ancaman bencana yang diturunkan," kata Mazlan.

Menurut tradisi Melayu, mandi safar hakikatnya memohon perlindungan kepada Allah. Karenanya digelar rangkaian doa bersama usai prosesi mandi tersebut.

Simak video pilihan berikut:

 

2 dari 2 halaman

Penuh Simbol

Pelaksanaan mandi safar menggunakan kelengkapan cukup rumit. Mulai dari tepung beras, kayu ulin, hingga daun jeruk. Tepung beras  itu dicampur dengan kayu ulin dan daun jeruk, kemudian diusap ke wajah sebelum turun ke laut.

Tetua Kampung akan memimpin ritual mandi safar ini. Kali ini dipimpin seorang kakek berusia 64 tahun, Seno bin Asnan. Menurutnya tradisi sudah dilakukan turun temurun.

"Kali ini ada 36 Kepala Keluarga yang turut serta mengikuti ritual mandi safar," kata Seno.

Untuk ritual mandi tak bisa dilakukan sembarangan. Sesuai hukum adat, harus dilakukan acara Kadi terlebih dahulu. Kadi adalah upacara untuk menentukan tempat mandi. Kemudian warga menyiapkan segala piranti sebagai syarat wajib pelaksanaan mandi.

"Warga yang hendak terlibat hingga prosesi mandi, harus seizin orangtua yang paham dengan kampungnya. Penentuan tempat mandi juga harus permisi karena selain manusia, ada warga lain. Alam ini tak hanya dihuni manusia, sehingga harus permisi," kata Seno.

Setelah semuanya siap, masyarakat diarahkan untuk menyelam ke arah laut sebanyak tiga kali. Kemudian menyelam lagi ke arah daratan sebanyak tiga kali. Usai menyelam, harus mengikuti doa bersama.

Mandi safar rutin dijalankan warga Kampung Terih setiap tahunnya. Banyak simbol budaya yang menyiratkan sebagai manusia yang kokoh dalam berbudaya.

Kesucian disimbolkan warna putih tepung beras. Kerasnya kehidupan disimbolkan kayu ulin yang warna merah. Namun semua harus disertai sifat-sifat baik yang disimbolkan dengan harum daun jeruk.

Artikel Selanjutnya
Siap-Siap Mandi Safar di Sungai Mentaya Sampit