Sukses

Hasil Pantauan Atas Harimau Rima di Hutan Riau

Liputan6.com, Pekanbaru - Rima, Harimau Sumatera betina yang terekam kamera pengintai sudah dipantau Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau sejak 2014. Rima mendiami salah satu hutan di Provinsi Riau itu bersama anak-anaknya bersama satu ekor jantan yang diberi nama Uma.

Menurut Kepala BBKSDA Riau Suharyono, Rima hingga 2018 sudah melahirkan dua generasi. Pertama pada 2015 dengan tiga ekor anak dan pada 2018 melahirkan empat ekor anak.

"Untuk generasi pertama, kemungkinan satu jantan dan dua betina. Diperkirakan usianya saat ini sudah tiga tahun, sudah remaja," kata Suharyono di Pekanbaru, Senin (30/7/2018) siang.

Sementara untuk generasi kedua, BBKSDA belum bisa memastikan jenis kelamin empat ekor anak Rima karena masih kecil. Empat anak ini masih bergantung kepada induknya, baik itu makanan ataupun air susu.

Video pengamatan bekerjasama dengan World Wide Fund for Nature (WWF) ini dilakukan di sebuah kawasan konservasi di Riau. Lokasinya dirahasiakan BBKSDA Riau karena ditakutkan Rima dan keluarganya menjadi korban perburuan liar.

Perburuan liar menjadi ancaman serius bagi Harimau Sumatera. Ancaman lainnya berupa perburuan liar terhadap pakan harimau, seperti babi, rusa, dan monyet ekor panjang.

"Ancaman berikutnya adalah deforestasi pada habitat harimau," ucap Suharyono.

Suharyono menyatakan, keberadaan Rima dan Uma serta dua generasi yang dilahirkannya menjadi kabar baik dalam usaha pemerintah menjaga perkembangan harimau di alam liar. Dengan perkembangbiakan ini, setidaknya sudah ada sembilan ekor harimau di kawasan itu.

Jumlah itu belum termasuk keberadaan harimau lainnya di Riau yang belakangan mencuri perhatian berbagai kalangan. Misalnya penampakan harimau di Pelalawan, Siak, Indragiri Hilir serta penemuan tapak-tapak kaki diduga jejak Harimau Sumatera.

"Ini tentu saja kabar baik karena BBKSDA Riau punya target meningkatkan populasi harimau hingga 10 persen. Apalagi harimau termasuk di antara 25 satwa yang terancam punah," katanya.

Suharyono menyebutkan, kunci utama keberhasilan menaikan populasi harimau adalah kerjasama antara pemerintah, begitu juga dengan WWF serta masyarakat lokal. Pemerintah harus memastikan bahwa masyarakatlah penerima manfaat adanya konservasi harimau.

"Publik harus didorong agar dapat memilih dan membeli produk-produk yang tidak berasal dari pengrusakan habitat harimau," tegas Suharyono.

Sebelumnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan WWF merilis dua video singkat Rima dan Uma beserta anak-anaknya. Video itu memperlihatkan generasi pertama yang dilahirkan Rima dengan tiga ekor anak hingga beranjak remaja.

Di video itu juga diperlihatkan Rima bersama empat ekor anaknya yang merupakan generasi kedua keluarga Harimau Sumatera ini. Mereka layaknya sebagai keluarga yang bermain di tengah hutan.

Saksikan video pilihan berikut ini: