Sukses

Mitos Nyalakan Api Unggun Saat Merapi Meletus

Liputan6.com, Boyolali - Warga Dusun Stabelan, Desa Tlogolele Selo, Kabupaten Boyolali yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) III diminta lebih waspada. Pasalnya, Gunung Merapi kembali mengeluarkan suara bergemuruh saat terjadi letusan freatik pada dini hari tadi, sekitar pukul 03.31 WIB.

"Kami sudah meminta warga Dusun Stabelan lebih waspada, dan meningkatkan ronda malam yang bergilir oleh tim siaga desa (TSD)," kata Kepala Desa Tlogolele, Widodo, Rabu (23/5/2018), dilansir Antara.

Widodo mengatakan warga Stabelan yang tinggalnya berjarak sekitar 3,5 kilometer dari puncak Merapi tersebut sempat mengungsi di tempat penampungan Sementara (TPS) pada Senin, 21 Mei 2018, tetapi sudah kembali pulang ke rumah masing-masing.

Pada letusan freatik tadi pagi, warga Stabelan yang berdiam dekat puncak sempat keluar melihat kondisi Merapi. Namun, warga tidak sepanik sebelumnya, meski tetap diminta lebih waspada dan bersiap-siap jika sewaktu-waktu diminta mengungsi.

Sementara itu, Kepala Dusun Stabelan, Maryanto menuturkan suara gemuruh dari puncak Merapi terdengar saat warga sedang sahur. Asap terlihat membumbung tinggi ke arah Magelang.

Warga kemudian membuat api unggun di depan rumah masing-masing. Menurut kepercayaan warga setempat, hal itu bisa menghindarkan diri dari hujan abu dan bahaya lainnya.

"Stabelan akibat kejadian itu, hanya terkena abu tipis karena embusan angin saja. Warga tidak panik sehingga tidak ada pengungsian seperti sebelumnya. Kondisi puncak Merapi saat ini normal dan warga banyak yang beraktivitas seperti biasa," katanya.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Buat Grup

Wakil Bupati Boyolali M Said Hidayat meminta jajarannya untuk segera berkoordinasi demi kemanusiaan yang terjadi di wilayah Boyolali. Selain itu, ia menekankan kewaspadaan dan meningkatkan kesiapsiagaan dari jajarannya menyikapi kondisi Merapi yang bergeliat.

Ia juga meminta agar jajarannya selalu memantau arahan dan perkembangan dari pihak terkait atau Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Teknologi (BPPTKG).

"Jalin komunikasi yang baik, selalu siap siaga, hal ini sangat penting. Kami tidak boleh lengah, harus tetap waspada," kata M Said usai memimpin Rakor dengan jajarannya.

M Said berharap agar semua elemen dapat bekerja sama dengan solid menangani masalah kebencanaan. Maka itu, mereka membentuk sebuah grup komunikasi tanggap bencana yang mampu memberi informasi terkait bencana yang ada di Kabupaten Boyolali.

Loading
Artikel Selanjutnya
Kilat Cahaya Pertanda Bahaya bagi Warga Lereng Merapi
Artikel Selanjutnya
Status Galau Letusan Merapi, Freatik atau Magmatik?