Sukses

Abah Toto, Raja Kendang dari Garut

Liputan6.com, Garut - Bagi pecinta musik dangdut, reog hingga pencak silat di kabupaten Garut, Jawa Barat. Sosok abah Toto sudah tidak asing lagi sebagai pembuat kendang kelas wahid di lingkungan pecinta seni kebudayaan lokal Jawa Barat saat ini. Garut

Bahkan dengan kemampuannya itu, pemilik nama asli Toto Suharyanto, 60 tahun, sudah mendapat julukan sebagai raja kendang di kalangan pemain dangdut Garut sejak tiga dekade silam.

"Awalnya iseng lihat yang memperbaiki, kemudian dipraktekkan membuat sendiri, mau membeli tidak punya uang, eh malah banyak yang pesan, katanya kualitasnya bagus," ujar dia saat ditemui Liputan6.com, Minggu (13/5/2018).

Kendang adalah seperangkat alat musik tradisional yang terbuat dari kayu dan bantalan kulit binatang untuk mendapatkan suara yang berdendang. Alat ini kerap menjadi pengiring kesenian daerah, mulai dangdut, pencak silat hingga pertunjukan lain, alat ini terdiri dari kendang besar dan kecil serta satu set gong.

Toto mengenang, awal mula terjun menggeluti pembuatan kendang tidaklah mudah seperti membalikan telapak tangan. Minimnya bayaran yang ia peroleh sebagai pemain kesenian daerah, membuatnya harus berfikir cermat untuk mengatur pengeluaran yang dialokasi untuk membeli peralatan pertunjukan.

“Saya belajar reog sampai bisa membuat dog-dognya, saya belajar calung sampai bisa buat alat calungnya, atau pencak silat sampai bisa membuat kendang lengkap satu paket seperti saat ini,” ujar dia bangga.

Menggunakan bahan kayu pilihan memang keharusan. Untuk menghindari kayu curian, Ia sengaja tidak menggunakan kayu perhutani semisal jati, mahoni ataupun kayu keras lainnya. Toto justru lebih menyukai menggunakan kayu dari perkampungan penduduk jenis Kenanga dan Nangka.

Kedua kayu itu menurutnya, memiliki filosofi mendalam dalam pembuatan kendang. “Ken kan dari Kenanga, ang itu dari Nangka,” ujar dia menyambung-nyambungkan kata dari kedua nama pohon lokal itu.

Sedangkan mengenai kulit yang digunakan sebagai lapisan kendang di muka kepala atas dan bawah, kulit kerbau betina paling banyak dicari, selain menghasilkan suara yang nyaring, kulitnya tidak terlalu keras dan tidak mudah sobek.

Sedangkan kulit kerbau jantan, sapi, domba dan kambing tidak terlalu baik buat lapisan penutup kendang. “Kulit domba dan kambing terlalu tipis gampang sobek sehingga mudah rusak,” ujarnya menambahkan.

Menggunakan kayu nangka kualitas satu, Toto selalu mengerjakan pembuatan kendang dengan telaten hingga menghasilkan kendang aduhai dengan suara yang tepat.

Saat menyambangi bengkel produksinya di kampung Sadang, Desa Sadang, Kecamatan Sucinaraja, Garut, Jawa Barat, nampak belasan perkakas tradisional, mulai pahat, kapak, golok, pisau hingga gergaji mesin modern, tertata lengkap di sana.

"Salah sedikit dalam memahat lubang kendang, nanti suaranya akan aneh, inilah rahasia utamanya kendang," ujar dia sambil menunjukan bulatan muka kendang bagian bawah yang baru saja ia pahat.

Toto menyatakan, keahliannya dalam dalam memainakan dan membuat kendang didapat secara alami alias otodidak. Tidak ada guru yang mengajari, namun dengan ketekunan dan keuletan, ia mampu mengkombinasikan diri sebagai seniman plus pembuat alat musik tradisional sunda itu.

Dengan kemampuannya itu, hingga kini Abah Toto selalu menjadi rujukan utama dalam menghasilkan alat musik kendang berikut perangkatnya yang berkualitas. "Hampir semua jenis kendang ada di sini, dog-dog juga buat seni reog saya buat sendiri," ungkap dia.

 

 

 

2 dari 5 halaman

Tembus Pasar Eropa

Meskipun dengan garasi dan peralatan seadanya, jangan salah produk kendang, dog-dog dan tam-tam yang ia hasilkan, telah digunakan berbagai kalangan penikmat sekaligus pelaku musik dangdut tanah air.

Bahkan untuk produk satu set kendang yang biasa digunakan untuk musik dangdut, beberapa kali mendapatkan pesanan dari Belanda dan Malaysia. "Memang tidak langsung (memesan) tapi melalui pelantara pengusaha dalam negeri,”" kata dia.

Kendang yang ia hasilkan memiliki berbagai ukuran, ada yang biasa digunakan untuk musik dangdut, ada pula ukuran kendang yang biasa digunakan dalam pementasan kesenian pencak silat.

"Bahkan kalau mau sesuai ukuran, kendang buat anak-anak dan dewasa pun harusnya berbeda," kata dia.

Namun secara garis besar ukuran kendang yang biasa digunakan terbagi dua bagian, yakni kendang ukuran kecil atau kulanter memiliki panjang 70-73 centimeter, dengan diameter kepala atas 21-22 centi meter dan diameter bawah 28-29 centi meter.

Sedangkan ukuran kendang besar atau buhun, biasanya memiliki panjang 80 centi meter, dengan diameter atas 22-23 centi meter dan kepala bawah 32-33 centi meter.

"Satu set kendang itu komposisinya satu kendang kecil, kendang indung dan empat kendang anak, tambah gong," kata dia.

Saat ini harga rata-rata untuk satu set kendang berada di interval Rp 10-12 juta harga di tempat pembuatan, namun angka itu bisa berkurang sesuai kebutuhan. “Bisanya gongnya pada beli sendiri, sebab saya juga dari orang lain,” kata dia.

Sedangkan harga satuan kendang mulai kendang kulanter atau kecil hingga kendang buhun atau besar berada di kisaran Rp 2 juta hingga Rp 500 ribu. "Tergantung yang dibutuhkannya kendang jenis apa dulu yang mau dipesan," ujarnya.

3 dari 5 halaman

Tips Menyimpang Kendang Agar Awet

Toto menyatakan, untuk menjaga kualitas kendang usai digunakan, perhatikan pola perawatan dan penyimpanan kendang dengan baik. Pertama, hindari penggunaan kantong atau tas buat kendang yang terlalu tebal.

"Biarkan saja jangan dibungkus agar tidak lembab," ujar dia.

Kedua setiap kendang yang sudah digunakan, hindari penyimpanan perangkat kendang di atas tanah secara langsung, namun harus menggunakan alas dari papan kayu untuk menghindari kelembaban dari tanah.

"Lebih baik digantung, sebab jika lembab nanti kulit dan kayu akan berjamur, kualitas suaranya akan rusak," ungkap dia.

Ketiga, hindari tempat gelap atau lembab dengan sedikit penyinaran matahari, sebab dengan kondisi itu kualitas kulit dan kendang kayu akan mudah terkena jamur akibat suasana lembab.

"Terakhir kendorkan tali pengikat atau ari-ari kendang, agar kulit tidak sobek," ujar Toto mengingatkan.

Dengan pola penyimpanan seperti itu, tak jarang satu set kendang yang ia produksi mampu bertahan di atas lima tahun pemakaian. "Bahkan kalau rapi dan rajin dicat, ada yang kuat sampai 10 tahun lebih," ujarnya.

4 dari 5 halaman

Seniman Multi Talenta

Menggeluti berbagai kesenian daerah sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) sekitar tahun 1970-an silam. Bah Toto dikaruniai kemampuan bakat seni dari alam cukup lengkap, tercatat kesenian domba Garut (Dogar), calung, reog hingga pencak silat ia kuasai dengan mahir tanpa guru resmi.

"Ya, cukup lihat saja, baru dipraktekkan, ternyata bisa,” ujar dia.

Bahkan dengan kemampuannya itu, tak jarang Toto muda kerap diundang menggantikan peran pemain utama dalam sebuah pertunjukan seni, saat sang pemain berhalangan hadir.

"Kadang malah akhirnya jadi pemain utama di pertunjukan selanjutnya," ujarnya.

Sudah tak terhitung berapa pertunjukan seni reog, calung dan silat yang ia ikuti, namun hal yang paling utama adalah harus ada pihak yang mau melestarikan kebudayaan lokal agar tidak punah.

"Jangan sampai anak cucu kita malah tidak tahu apa itu reog, calung, lais dan sebagainya," ungkap dia.

Toto menyatakan, kecintaannya pada seni membuatnya semakin banyak pengalaman yang ia peroleh. Ia berharap ditengah ancaman meleburnya kebudayaan barat saat ini, warga lokal harus mampu mempertahankan corak kesenian tradisonal termasuk seluruh alat seni yang digunakan.

"Semua yang kami buat di sini masih manual dengan harapan agar bisa dipelajari buat generasi mendatang," kata dia.

5 dari 5 halaman

Butuh Bantuan Modal Pemerintah

Naiknya pamor musik dangdut tanah air saat ini, seakan membuka jalan untuk meraih kesuksesan bagi kakek yang satu ini. Namun sayang, minimnya modal menjadi kendala berarti yang mesti ia hadapi. Sebagai seniman tulen yang multi talenta sejak muda. Ia tidak pernah sekali pun tersentuh bantuan permodalan pemerintah

Menurutnya, takdir hidup yang ia jalani selama ini sebagai pembuat kendang, harus tetap berlangsung tanpa pamrih dan mengharapkan bantuan dari yang lainnya.

"Tapi kalau pun pemerintah mau bantu modal ya syukur Alhamdulillah saya terima," ujar dia sambi tertawa lepas.

Besar jasa dan karya Bah Toto dalam mengenalkan kesenian Garut, termasuk produk kendang kelas wahid yang ia produksi. Namun minimnya akses, serta sulitnya mendapatkan bantuan moal, membuat dirinya hanya mengganntungkan dari pesanan yang datang.

"Abah tidak bisa buat proposal, tidak punya caranya harus bagaimana, banyak yang menjanjikan, tapi hanya janji saja," kata dia.

Di dalam garasi produk kendangnya yang saat ini ia sewa dari keluarganya, ia berharap ada bantuan permodalan yang masuk untuk mengembangkan usahanya. Orderan ujar dia, cukup banyak bahkan untuk pesanan luar negeri pun berdatangan.

"Ya itu tadi, tidak ada modal," ungkap dia.

Minimnya permodalan usaha, menyebabkan hanya bisa menahan dan menghela nafas dada dengan panjang, peluang yang datang pun akhirnya hilang sia-sia.

"Ini bengkel juga kan sewa, katanya mau dipakai sama yang punya, gak tahu nanti di mana (produksi)," ujar dia. 

Dengan adanya bantuan permodalan itu, kakek anak empat ini berharap mampu membeli lahan yang akan digunakan sebagai bengkel atau galeri khusus untuk memproduksi kendang berkualitas dunia.

"Minimal ada lahan dulu, biar nanti abah yang urus soal bagaimana penggunaannya, sebab lahan bengkel sekarang sudah kekecilan," kata dia.

Tak jarang saat pesanan melimpah, kendang yang telah siap dikirimkan, terpaksa diparkir terlebih dahulu di rumahnya yang tidak jauh berseberangan dengan garasinya saat ini.

"Pekan lalu sebelum diambil yang pesan, sampai bingung ini barang (kendang) mau disimpan dimana, rumah juga sempit," ungkap dia.

Dengan semangat tak patah arang, rasanya sudah pantas pemerintah memberikan permodalan yang memadai bagi Bah Toto. Ribuan kendang yang telah ia produksi penghasil nada bagi biduan dangdut itu, sangat membantu dalam menghibur masyarakat Indonesia saat ini.