Sukses

Curhat Ulama Garut Usai Isu Teror Orang Gangguan Jiwa Merebak

Liputan6.com, Garut - Sekitar 200 ulama yang menjadi pimpinan pondok pesantren, madrasah, dan imam mesjid se-Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyampaikan curhat mereka kepada Kapolres Garut. Mereka mengaku merasa terancam setelah merebaknya teror kepada ulama.

"Adanya ancaman itu membuat kami dan masyarakat kami resah. Ini bukan hoax lagi tapi benar, jangan membuat penyesatan yang bilang hoax," ujar KH Basari, Ketua MUI Pamengpeuk, Garut dalam dialog bersama di Pendopo Garut, Rabu (21/2/2018).

Menurutnya, isu ancaman pembunuhan yang berlangsung saat ini sengaja diciptakan pihak tertentu untuk mengacaukan situasi keamanan masyarakat. "Masa orang gila bawa hp, orang gila dijemput motor, dijemput mobil dan banyak kecurigaan lainnya," ujar dia.

Bukan hanya itu, para pelaku yang diidentikan tidak waras itu, sengaja menandai tempat tinggal ulama atau kiai yang akan menjadi target berikutnya. "Malam senin kemarin, di depan rumah saya ada tanda X. Ini jelas ada rekayasa menghancurkan Garut dan mungkin Indonesia," kata dia.

Situasai yang sama dialami KH Anwar dari Kecamatan Wanaraja. Pasca-kedatangan orang tidak dikenal beberapa waktu lalu, di depan rumahnya didapati tanda merah.

"Seperti ciri ada tanda untuk tindakan berikutnya," kata dia.

Khawatir dengan ancaman itu, ia langsung berkoordinasi dengan kepala desa hingga polsek Wanaraja. Bukan hanya itu, agar ancaman masif tidak semakin menyebar, ia meminta kepolisian membuat sistem untuk mengamankan para ulama.

"Ini seperti orang gila membuat sistem mengarahkan orang pintar, seperti kiai, kapolres, makanya kita harus lebih waspada," ujarnya.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna membantah tudingan penyesatan informasi terkait ancaman kepada ulama sebagai hoaks semata. Kalaupun ada ancaman, ia memastikan polisi akan memprosesnya.

"Mobil saya juga dilempar orang gila. Saksinya sopir saya. Ya kita proses, tapi nggak usah dibesar-besarkan lah," kata dia.

Untuk menberikan rasa aman bagi masyarakat, terutama ulama, ia telah menginstruksikan seluruh kapolsek untuk berpatroli keliling. "Ulama di dalam ruangan ini adalah orangtua saya semua. Kita wajib menjaga, saya siap 100 persen mengamankannya, laporkan saja," kata dia.

 

 

1 dari 2 halaman

Lawan Berita Hoaks

Ketua MUI Garut KH Sirojul Munir mengatakan, ancaman teror yang dialamatkan kepada para ulama dan ustad saat ini, merupakan rekayasa terstruktur yang sengaja disebarkan pihak tertentu untuk merusak ketentraman masyarakat. "Makanya kita harus lawan," ujarnya.

Ceng Munir, panggilan akrab dia, menyatakan, ancaman itu sengaja disebarkan untuk melemahkan kekuatan dan persaudaraan umat Muslim. Maka itu, ia mengajak seluruh umat islam, termasuk kiai, ulama, dan masyarakat sekitarnya, bahu-membahu mengahadapi teror tersebut.

"Jangan takut, dakwah tetap jalan. Justru kalau itu (ketakutan) terjadi, rencana propaganda mereka berhasil," kata dia.

Hal yang sama disampaikan Ketua MUI Kecamatan Cisurupan KH Cecep Jayakarama. Menurutnya, munculnya fenomena ancaman terhadap ulama tidak perlu ditanggapi berlebih, tapi harus ditangkal dengan pikiran yang jernih.

Memasuki musim politik nasional, kondisi suhu keamanan dalam negeri meningkat, sehingga peran ulama sangat dibutuhkan. "Kalau istilah kebakaran itu, maka para ulama menjadi pemadaam kebakaran bukan menjadi bensin. Ulama itu harusnya menyejukkan umat," tuturnya.

Untuk itu, ia mengajak seluruh ulama Garut bersepakat memberikan isi materi pengajian atau khotbah yang lebih bijak, agar masyarakat lebih tenang. "Di daerah kami di Cisurupan aman kondusif tidak ada yang meresahkan, di Cisompet pun binaan kami sama aman," ungkap dia.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Artikel Selanjutnya
Orang Tak Dikenal Serang Kiai di Lamongan, Pengidap Gangguan Jiwa?
Artikel Selanjutnya
Pria Bermukena di Ponpes Cianjur, Incar Kiai atau Mau Mencuri?