Sukses

Yogyakarta Hujan Deras, Temukan Kehangatan di Tempat-Tempat Ini

Liputan6.com, Yogyakarta - Hujan yang mengguyur Kota Yogyakarta beberapa hari ternyata berdampak juga pada rencana liburan para pelancong. Namun tenang saja, banyak alternatif destinasi untuk menghibur hati. 

Kendati tidak bisa berwisata ke pantai atau candi, para turis bisa mengganti tujuan wisata dengan berkunjung ke kafe modern dengan suguhan kuliner khas Yogyakarta. Berburu kuliner khas Yogyakarta ini dijamin bisa menjadi pelipur lara saat jadwal liburan terhambat hujan.

Seperti di depan Stasiun Yogyakarta, ada dua pilihan kafe pinggir jalan yang bisa menjadi alternatif jika ingin menghabiskan waktu di saat hujan turun dengan derasnya.

Kafe Abadi Hotel yang berada tepat di depan Stasiun Yogyakarta, bisa menjadi pilihan bagi turis atau pengantar penumpang Kereta Api Indonesia (KAI). Terlebih saat terjebak hujan di kawasan Stasiun Kereta Api (KA).

Berlokasi di Jalan Pasar Kembang Yogyakarta, kafe kopi yang buka pada pukul 09.00 WIB bisa menjadi tempat santai menyeruput kopi pagi. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, yaitu antara Rp 8.000 hingga Rp 20.000.

Di dekat kafe ini juga, tersedia ATM Center, sehingga bisa sekaligus melakukan penarikan uang tunai tanpa harus bingung bertransaksi saat berbelanja. Jika ingin sedikit menikmati suasana ala kafe anak muda dengan tampilan barista yang keren ada The Civet House.

Kafe kopi kekinian tersebut berada tak jauh dari Kafe Abadi Hotel. Kafe yang mengusung konsep wood decoration ini bisa dikunjungi dari pukul 08.00 WIB hingga 23.00 WIB.

Ada beragam jenis menu yang bisa dipilih. Salah satunya yang sangat cocok saat udara dingin saat hujan, yaitu wedang uwuh hangat.

Minuman ini terasa berbeda dari minuman wedang pada umumnya. Ada beberapa rempah-rempah khas yang bisa menghangatkan saat meminumnya. Seperti daun dan rantai cengkeh, daun manis jangan, kayu secang, jahe, gula batu dan pala.

Safitri (32), turis asal Sumatera, mengatakan dirinya baru sekali mencicipi wedang uwuh dengan banyak rempah-rempah khas Indonesia.

Sembari menyeruput wedang uwuh, Safitri dan temannya menebak-nebak apa isi rempah yang digunakan dalam campuran wedang uwuh.

"Rasanya berbeda dari wedang pada umumnya. Baru kali ini saya minum wedang uwuh. Lumayan melepas rindu, saat kami tidak bisa menikmati wisata di Yogyakarta," ujarnya kepada Liputan6.com, Rabu (29/11/2017).

Kafe Nuansa Jawa

Kalau masih belum merasakan suasana Jawa atau keraton khas Yogyakarta, ada beberapa kafe yang bisa jadi pilihan untuk di kunjungi. Seperti Warung Kopi (Warkop) Semesta, di Jalan Abubakar Ali, Kotabaru, Yogyakarta.

Atmosfer Jawa terasa kental saat mulai memasuki kafe ini. Ornamen kayu berwarna cokelat gelap, kursi kayu ukiran panjang, meja bulat berwarna gelap, serta pot air mancur mini yang menambah kesan khas Yogyakarta.

Salah satu menu yang sangat cocok dinikmati saat cuaca dingin adalah kopi jahe hangat. Campuran bubuk kafein dan rendaman air jahe semakin pas untuk menghangatkan tubuh serta menghilangkan rasa kantuk.

Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, hanya sekitar Rp 12.000 per porsi kopi jahe. Jika ingin menambah rasa manis, bisa meminta dicampur dengan susu kental manis.

Ada juga kafe lainnya yang lebih kerasa suasana keratonnya, yaitu Kafe Klangenan. Angkringan yang disulap berbentuk kafe ini berada di Jalan Patahpuluhan, Wirobrajan, Yogyakarta.

Beberapa pajangannya mengangkat ciri khas Kota Gudeg, salah satunya pajangan wayang kulit di beberapa sudut ruangan, piring bambu serta perabot makan yang terbuat dari tanah liat.

Di kafe ini, banyak sekali menu angkringan seperti sate hati ayam, telur puyuh, sosis, usus, jamur, kolang Kaling dan lainnya. Meskipun berada di dalam rumah, namun konsep angkringan khas Yogyakarta masih kental.

Pelayan kafe akan menyediakan tungku tanah liat yang terdiri dari bara kayu panas di bawah besi pemanggang. Pemanggang tersebut bisa memuat hingga delapan tusuk sate. 

Tungku mini tersebut disediakan di tiap meja pelanggannya, bersama mangkuk berisi bumbu cair dan kuas, untuk mengoleskan ke sate yang akan dipanggang.

Resti, pelanggan Kafe Klangenan mengungkapkan, sajian menu angkringan bernuansa modern ini sangat cocok untuk pecinta sate junk food.

"Saya bersama teman-teman bisa menikmati menu angkringan tanpa hujan-hujanan. Biasanya kan angkringan itu berada di pinggir jalan, lesehan dan tidak bisa menghindar jika hujan mendadak turun," katanya.

Jajanan Pinggir Jalan

Jika dana terbatas dan masih ingin berbelanja di kawasan Malioboro Yogyakarta, alternatif lainnya yaitu mencari jajanan pinggir jalan yang tak kalah nikmatnya.

Seperti di Jalan Sastrowijoyo, di kawasan pusat perbelanjaan  Malioboro, Yogyakarta ini juga terdapat banyak jananan murah, seperti sate angkringan, soto ayam Yogyakarta hingga Wedang Ronde.

Pengunjung Malioboro bisa langsung berjalan kaki menuju ke Jalan Sastrowijoyo Yogyakarta. Satu porsi Wedang Ronde dihargai sebesar Rp 8.000 per mangkuk.

Isi Wedang Ronde itu sendiri terdiri dari ronde putih isi kacang tanah halus , potongan kolang Kaling, roti yang dipotong petak kecil dan taburan biji kacang tanah.

Bahkan saat hujan, banyak pelanggan Wedang Ronde yang memilih  membungkusnya  dan menikmatinya Sertijab.

Maman, pengusaha Wedang Ronde mengatakan, usahanya sudah lama dirintisnya. Saat musim hujan juga, penjualannya lumayan lancar.

"Kalau lagi hujan lumayan ramai, tapi pelanggan tidak bisa duduk di dekat gerobak saya," ucapnya.

Karena rasa yang nikmat dan hangat, pelanggan Wedang ronde pak Maman rela sedikit berhujan-hujanan agar bisa menikmati hangatnya Wedang Ronde khas Yogyakarta.

Wedang Ronde juga di jual di beberapa kota di Pulau Jawa. Salah satunya di Kota Solo, Jawa Tengah, dengan komposisi yang sama.