Sukses

Siap-Siap, Bakal Ada 'Tuyul' di Borobudur

Liputan6.com, Borobudur Nun jauh di sisi barat laut candi Borobudur, semilir angin menembus sela-sela pohon di perkebunan pepaya. Riuh anak-anak bermain bola di tanah lapang, menyempurnakan pemandangan deretan bangunan dari bambu.

Selamat datang di Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Omah Guyub Wringin Putih. Berada di Desa Wringin Putih, Kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, Omah Guyub menjadi salah satu dari dua puluh Balkondes yang tersebar di sekitar kawasan Candi Borobudur.

Omah Guyub Wringin Putih dihadirkan di desa yang dinobatkan sebagai desa terluas kedua setelah Borobudur. Bayangkan saja, Omah Guyub ini memiliki luas lahan sebesar 2 hektare, di atas tanah bekas perkebunan Pepaya California. Momentum pendirian ini sangat tepat karena akan menopang Candi Borobudur mendapatkan gelar baru sebagai Memory of The World dari Unesco.

Menurut Susanto, kepala Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang mengelola Omah Guyub Wringin Putih, pembangunan itu difasilitasi dengan dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertamina. Menghabiskan dana sebesar 2,5 miliar rupiah.

"Sampai sekarang Pertamina telah dan masih memberikan pelatihan dan bimbingan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan masyarakat sekitar untuk menggali budaya lokal," kata Susanto kepada Erlinda Puspita Wardani, grandfinalis Citizen Journalist Academy Energi Muda Pertamina Semarang, Sabtu (4/11/2017).Kerajinan bambu, diantaranya alat musik anglung menjadi salah satu penopang keberadaan Omah Guyub. (foto: Liputan6.com/Erlinda PW/edhie prayitno ige)Susanto kemudian menunjukkan sanggar kerajinan bambu milik Hartono warga desa Wringin Putih, yang lokasinya tak jauh dari Omah Guyub Wringin Putih. Hartono mengakui bahwa bangunan dan isi kerajinan bambu di Omah Guyub, berasal dari dirinya dan warga masyarakat lain di sekitar Omah Guyub.

"Saya sering terlibat kegiatan Omah Guyub. Itu bangunan bambu sama barang-barang dari bambunya juga pesan di saya kebanyakan. Kalo ada acara disitu juga kadang saya ikutan," kata Hartono.

Didirikan dengan ciri khas Bambu yang hadir di setiap bangunannya, ternyata disebabkan kehadiran hutan Bambu Klatakan di Dusun Bojong. Hutan inilah yang awalnya akan dijadikan Balkondes.

"Awalnya hutan Bambu Klatakan yang akan di-push untuk dijadikan Balkondes, tapi karena butuh waktu lebih lama untuk membangunnya dan sulitnya mengubah mindset warga sekitar, jadi kami pilih disini," kata Susanto. 

 

2 dari 2 halaman

Ujung Tombak

Omah Guyub dibuka resmi untuk umum sekitar dua bulan lalu oleh Presiden Joko Widodo. Meski demikian, diakui bahwa Omah Guyub masih banyak kekurangan. Sebagai Balkondes harusnya memang menjadi ujung tombak perekonomian desa, namun belum mampu menjadi penopang utama.

"Sisi marketing kami lemah. Belum lagi kurangnya jadwal pameran dan pelatihan kesenian lokal," kata Susanto.

Sesuai tujuan awal sebagai Badan Perekonomian, Omah Guyub didesain sebagai etalase produk warga sekitar. Kerajinan batik, kerajinan batu, kerajinan bambu, dan makanan tradisional sekitar. Semua akan dirangkai menjadi sebuah pameran. Jemparingan, seni memanah tradisional dengan duduk bersila sehingga butuh tenaga lebih besar untuk menarik busur, menjadi andalan kegiatan Omah Guyub. (foto: Liputan6.com/Erlinda PW/edhie prayitno ige)Omah Guyub juga sudah dilengkapi dengan fasilitas homestay dengan kapasitas inap hingga seratus orang. Jika ditambah ekstra bed, tentu kapasitas itu akan meningkat. Sebagai sarana olah raga, disiapkan pula arena "Jemparingan". Tradisi lomba memanah tradisional yang dilakukan sambil duduk.

"Sejauh ini, sudah banyak yang memanfaatkan. Pasangan calon pengantin untuk sesi foto pre wedding, hingga pertemuan berbagai komunitas," kata Susanto.

Omah Guyub di desa Wringin Putih ini jelas berpotensi menjadi "tuyul" bagi keberadaan Candi Borobudur sebagai destinasi utama. Apalagi saat mendapatkan gelar baru sebagai Memory of The World, peran "tuyul" yang akan menguras kocek pelancong ini hanya bisa berlaku jika Omah Guyub berbenah. Tentu saja Pertamina sebagai perintis ide harus terus memberdayakan dengan pelatihan berjejaring dan sejenisnya.

Siap-siap, ada tuyul di Borobudur.

Penulis : Erlinda Puspita Wardani, grand finalis Citizen Journalist Academy Energi Muda Pertamina Semarang, kelas menulis.

Loading