Sukses

Kisah Heroik Gusti Ketut Jelantik Perang Puputan Usir Belanda

Liputan6.com, Buleleng - Kisah heroik I Gusti Ketut Jelantik hingga kini masih lekat dalam ingatan sebagian besar warga Kabupaten Buleleng, Bali. Sebab, ketika rakyat Bali menyatakan perang puputan (perang hingga titik darah penghabisan), Gusti Ketut Jelantik memimpin pasukan di Kabupaten Buleleng untuk mengusir penjajah.

Ia mengembuskan napas terakhir pada pertempuran perang puputan yang selalu dikenang publik Bali. Kisah I Gusti Ketut Jelantik dirajut dengan apik oleh Yayasan Pelestarian Bali Utara. Beberapa peninggalannya seperti keris yang digunakan untuk berperang, saat ini masih tersimpan dalam museum yang terletak di Kabupaten Buleleng tersebut.

I Made Palija, pengelola museum menuturkan, kala perang puputan bergolak, I Gusti Ketut Jelantik merupakan patih di Kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh I Gusti Made Karangsem pada 1825.

Kala itu, imbuh Palija, Belanda menuntut agar Raja Buleleng mengganti kerugian atas kapal-kapal Belanda yang dirampas. Perampasan tersebut sesuai dengan hukum Tawan Karang yang menyatakan kapal-kapal yang memasuki wilayah Bali akan menjadi milik raja.

"Belanda juga menuntut agar Raja Buleleng mengakui kekuasaan Belanda. Tuntutan Belanda tersebut mengakibatkan Patih Gusti Ketut Jelantik sangat marah," ucap Palija kepada Liputan6.com, Sabtu 4 Juni 2016.

Ia menuturkan, Patih Gusti Ketut Jelantik tidak mau tunduk terhadap tekanan dan tuntutan Belanda. Begitupun dengan Belanda. Belanda tetap berkeras hati untuk menuntut raja dan rakyat Buleleng.

Akibatnya, pada 27 Juni 1846 terjadilah pertempuran antara pasukan Buleleng dan tentara Belanda. "Pasukan Buleleng kalah, sehingga pada 29 Juni 1846 Buleleng jatuh ke tangan Belanda," ujar Palija.

Patih Jelantik Susun Strategi

Akibat kekalahan tersebut, lanjut Palija, Raja Buleleng dan Patih Jelantik mengungsi ke Jagaraga. Dalam pengungsian, Patih Jelantik menyusun strategi untuk melawan kekuasaan Belanda. Patih Jelantik dan pasukan Buleleng membangun benteng di Jagaraga.

"Patih Jelantik dan pasukan Buleleng mendapat dukungan dan bantuan prajurit dari kerajaan-kerajaan lainnya," ia menambahkan.

Menjelang akhir 1846, lanjut Palija, di Jagaraga telah berkumpul laskar atau pasukan perang yang beranggotakan 7.000 sampai 8.000 orang dengan persenjataan lengkap. Akhirnya pada bulan Juni 1848, terjadilah perang antara laskar Buleleng dengan tentara Belanda. Dalam peperangan ini, Belanda tidak mampu merebut Benteng Jagaraga.

Benda-benda peninggalan Gusti Ketut Jelantik di museum yang terletak di Kabupaten Buleleng, Bali. (Liputan6.com/Dewi Divianta)

Pihak Belanda kehilangan 14 perwira dan 242 prajurit. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jagaraga I. Lalu meletuslah perang Jagaraga II. Dalam perang ini, tentara Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Van Der Wijk tidak mampu menahan serangan laskar Buleleng yang dipimpin oleh Patih Ketut Jelantik.

"Belanda tidak puas dengan kemenangan Laskar Buleleng. Kemudian pada 31 Maret 1849, tentara Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Michels melancarkan tembakan meriam dari atas kapal. Akibatnya pada 16 April 1849, Benteng Jagaraga jatuh ke tangan Belanda, sehingga Patih Jelantik bersama pasukannya mundur ke pegunungan Batur Kintamani," tutur Palija.

Namun, menurut Palija, Belanda tidak melepaskan Patih Jelantik begitu saja. Belanda terus menyerang Patih Jelantik dan pasukannya hingga gugur. Perang ini dikenal dengan nama Perang Puputan Jagaraga artinya perang sampai titik darah penghabisan.

Hingga kini, peninggalan I Gusti Ketut Jelantik masih tersimpan rapih di museum yang dikelola Yayasan Pelestarian Bali Utara. Hanya saja di museum ini cuma ada beberapa benda bersejarah milik I Gusti Ketut Jelantik. "Ada keris, ada beberapa barang lainnya milik beliau," ujar Palija.

Benda-benda peninggalan Gusti Ketut Jelantik di museum yang terletak di Kabupaten Buleleng, Bali. (Liputan6.com/Dewi Divianta)

Kendati demikian, ia mengungkapkan masih banyak benda bersejarah milik I Gusti Ketut Jelantik yang berada di tangan masyarakat. Misalnya baju beliau, Palija mengaku masyarakat Buleleng banyak yang memilikinya.

"Baju masih banyak yang terpendam di masyarakat. Di desa-desa, kalau mau cari butuh biaya. Kalau ke sana ambil punya masyarakat, kita kan harus memberi pengganti dalam bentuk sumbangan," kata dia.

Yang membuat miris, tak ada upaya dari pemerintah untuk mendorong terkumpulnya benda-benda bersejarah milik I Gusti Ketut Jelantik dari tangan masyarakat. Palija menilai selama ini yayasannya bergerak sendiri mengumpulkan benda-benda berharga tersebut.