Sukses

Mengenang Rasuna Said, Singa Betina dari Minang

Liputan6.com, Padang - Sejarah mencatat banyak perempuan hebat di Indonesia. Salah satunya Hajjah Rangkayo Rasuna Said, yang disingkat menjadi HR Rasuna Said. Namanya diabadikan di berbagai sudut negeri, tapi tak semua mengetahui jejak kehebatannya.

Syahdan, dua tahun pasca-Bung Karno dijebloskan ke Penjara Sukamiskin, Bandung, Pemerintah Hindia Belanda kembali mendapatkan perlawanan karena memenjarakan Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Orator ulung ini ditangkap tahun 1939, saat usianya baru menginjak 22 tahun.

Penangkapan Rasuna Said sempat menjadi bahasan utama surat kabar yang terbit saat itu. Pendiri Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) pada 1930 ini ditangkap karena alasan hate speech (ujaran kebencian) pada pemerintah Belanda.

Ini menjadi kasus pertama pemerintah Belanda memenjarakan perempuan dengan alasan speek delict. Siapa pun yang berbicara menentang Belanda dapat diberi sanksi. 

Sejarawan Universitas Andalas Prof Gusti Asnan mengatakan kemampuan berorasi Rasuna Said luar biasa. Hal ini yang membawa perempuan kelahiran Panyinggahan, Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 14 September 1910 itu layak menyandang gelar Singa Podium.

"Kalau mendengar Rasuna Said berpidato, sangat mempesona, sulit untuk beranjak," kata Gusti Asnan pada Liputan6.com, Selasa, 19 April 2016.

Kemampuan ini yang membawa Rasuna Said selalu dikuntit polisi mata-mata Belanda, Politike Inlichtingen Dienst (PID). Tak jarang, dalam setiap pidato di depan umum maupun rapat PERMI, anggota PID kerap memantau dan menghentikannya.

Hingga puncaknya, saat berpidato di Payakumbuh dalam rapat umum PERMI, Rasuna Said ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Pengadilan kolonial menjatuhi hukuman 1 tahun 2 bulan yang kemudian diasingkan di Penjara Bulu, Semarang. Karena sikapnya yang kritis itu, dia mendapat julukan Singa Betina.

2 dari 2 halaman

Nasionalisme, Islam, Emansipasi

Menurut Gusti, gerakan yang dibangun Rasuna Said tidak sebatas pada tatanan politik menentang kolonialisme. "Rasuna Said konsisten memperjuangkan kaum marginal, perempuan," kata Gusti

Hal menarik dari perjalanan politik Rasuna Said adalah konsistensinya dalam jalur politik berbasis nasionalisme, Islam, dan memperjuangkan kaum perempuan.

"Ini dipertahankannya hingga tahun 1950-an. Beliau tidak pernah berubah," kata Gusti.

Keinginannya menepis perlakuan buruk terhadap perempuan ditunjukkan lewat aktivitasnya di bidang politik hingga pendidikan.

"Pidato politiknya tidak hanya menyerang kolonial, tapi juga ketidakadilan terhadap perempuan, dibabat semuanya. Kritis sekali," ujar Gusti.

Kemampuan pidato Rasuna Said juga ditunjukkannya lewat tulisan. Ia tercatat pernah dua kali memimpin media cetak, yakni majalah Raya dan majalah mingguan Menara Poetri.

Majalah Raya yang dibentuknya 1935 menjadi tonggak perjuangan di Sumbar. Karena kerap menyudutkan pemerintah Belanda, majalah ini pun tak bertahan lama.

Di Medan, Rasuna Said menerbitkan Menara Poetri yang akhirnya gulung tikar karena persoalan keuangan. Ia juga dikenal sebagai guru di Diniyah Putri yang kemudian aktif berpolitik. Ia sadar, perjuangan kaum marginal tidak cukup hanya menggeluti dunia pendidikan, tapi juga politik.

Karier politiknya dimulai dari di Sarekat Rakyat (SR) sebagai sekretaris cabang. Ia kemudian bergabung di Soematra Thawalib dan mendirikan (PERMI) di Bukittinggi, setelah berhenti dari Diniyah Putri tahun 1930.

"Mengingat Rasuna Said, yang ada dalam kepala saya, PERMI: daerah (lokal), Islam, dan nasionalisme," ujar Gusti.

Pasca-kemerdekaan, Rasuna Said diangkat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat RIS. Sebelum meninggal pada 2 November 1965 dalam usia 55 tahun, Rasuna Said dipercaya menjadi Dewan Pertimbangan Agung.

Ia meninggalkan seorang putri, Auda Zaschkya Duski, dengan enam orang cucu: Kurnia Tiara Agusta, Anugerah Mutia Rusda, Moh Ibrahim, Moh Yusuf, Rommel Abdillah dan Natasha Quratul'Ain.

Rasuna Said dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 1974.

Loading