Sukses

Menyingkap Misteri Situs Gunung Padang Cilacap

Liputan6.com, Cilacap - Jalan menanjak menembus hutan belantara itu seakan tak berkesudahan. Baju dan celana basah kuyup akibat menyerap keringat yang keluar. Langkah kaki semakin berat saat sandalĀ gunung tertancap di lumpur sungai yang dilewati.

"Satu jam lagi kita sampai di Gunung Padang," ucap Ganda Sasmita selaku juru kunci Situs Pabahan Gunung Padang di Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (19/3/2016).

Lelaki berusia 59 tahun itu menjadi juru kunci situs tersebut sejak 40 tahun lalu. Ia biasa mengantar tamu yang sekadar ingin melihat formasi batuan unik maupun orang-orang yang ingin berdoa di situs itu.

Situs Pabahan Gunung Padang, Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Ia menuturkan, Situs PabahananĀ Gunung Padang konon merupakan peninggalan Kerajaan Padjadjaran. Di situs itu tampak batuan panjang berbentuk heksagonal tertumpuk begitu saja. Ia berkisah batuan tersebut diyakini dulunya merupakan kayu yang akan digunakan untuk membangun Kerajaan Padjadjaran.

Namun, karena tak jadi dipakai, kayu tersebut teronggok begitu saja dan lambat laun berubah menjadi batu. Dulunya, imbuh Ganda, formasi batuan itu masih tampak indah. Tersusun rapi dan membentuk latar menarik dengan tinggi 14 meter dan lebar 12 meter.

Situs Pabahan Gunung Padang, Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Awalnya, menurut Ganda, situs tersebut oleh penunggunya tidak boleh dipublikasikan. Namun, lambat laun, sang penunggu memperbolehkan agar bisa dipublikasikan. "Saya menjaga cerita ini agar lingkungan di sekitar situs terjaga," ujar dia.

Ganda menyadari, jika cerita lokal itu sampai pudar, masyarakat akan kembali menjarah kayu besar yang masih banyak terdapat di tempat itu. Jika hutan gundul, masyarakat di bawah gunung akan kesulitan mendapatkan air, ancaman tanah longsor dan banjir.

Meski demikian, Ganda menerima penjelasan ilmiah bagaimana batuan itu terbentuk.

Pengunjung Gunung Padang

Sementara itu, Siti Juhariyah mengatakan, ia biasa berdoa di tempat itu jika mempunyai keinginan.

"Banyak warga yang datang ke situ untuk sekadar berdoa meminta rezeki, dilancarkan jodoh dan usahanya," beber perempuan 58 tahun tersebut.

Siti menyebutkan, bukit yang oleh masyarakat disebut sebagai Gunung Padang itu mempunyai sebab tertentu. Pada waktu tertentu, di atas bukit akan terlihat cahaya merah memancar.

Dari situlah, bukit tersebut dinamakan Gunung Padang. Sebelum dinamakan Gunung Padang, bukit tersebut dinamakan Gunung Cendana, karena banyaknya kayu cendana di tempat itu.

Menurut dia, untuk bisa berdoa di tempat itu, pengunjung harus mengambil air wudu untuk membersihkan diri. Air diambil dari Sungai Cikahuripan atau air kehidupan. Jika tak mengambil air ini, jangan harap permintaan pengunjung bisa dikabulkan.

2 dari 2 halaman

Penjelasan Pakar Geologi

Adapun Muhammad Aziz, dosen Geologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, yang meneliti formasi batuan tersebut mengatakan, Situs Pabahanan Gunung Padang terbentuk sekitar 5,2-12 juta tahun lampau. "Ada patahan yang membentuknya," ungkap dia.

Aziz menjelaskan, Situs Pabahan merupakan suatu tubuh batuan beku yang berupa retas andesit dengan pola struktur kekar kolom, akibat adanya tegasan ketika mendingin dan mengkerut.

Struktur kekar kolom, lanjut dia, umumnya berbentuk pola prisma segi lima, empat, enam maupun delapan yang banyak dijumpai di tempat itu.

Pola tersebut, kata Aziz, bukan seperti hasil karya peradaban manusia pada zaman megalitikum, yang umumnya menggunakan pola bentuk segi empat.

"Pabahan rocks is the real a columnar joint (batuan pahahan sejatinya adalah struktur kekar kolom)," Aziz menegaskan.

Situs Pabahan Gunung Padang, Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Aziz menyebutkan, struktur batuan yang terbentuk mirip dengan batuan yang ada di Situs Gunung Padang, Garut itu yang saat ini sedang banyak diributkan. Ia menganalisis, kemungkinan masa pembentukan batuan di Gunung Padang Majenang dan Garut sama, kurun waktu pembentukannya.

Menurut Aziz, dalam peta geologi regional daerah peninjauan Gunung Padang dan sekitarnya tersusun oleh litologi batuan beku dan batuan klastika (sedimen-piroklastik). Litologi penyusun umumnya berupa tubuh retas andesit, breksi volkanik, dan breksi tuf.

Sementara, situs Gunung Padang Majenang atau yang juga dikenal dengan Situs Pabahanan oleh masyarakat setempat banyak dikaitkan dengan Situs Gunung Padang yang ada di Garut, Jawa Barat. Padahal, menurut penelitian geologis, batuan tersebut terbentuk murni karena proses alam.

"Formasi ini sudah umum ditemukan dan banyak di tempat lain," ujar Gali Purnama Parikesit, mahasiswa semester akhir program studi Geologi Unsoed.

Gali mengaku sudah banyak melakukan penelitian di Jawa dan luar Jawa. Menurut dia, formasi batuan tersebut tergolong muda jika dibandingkan dengan formasi batuan di Karangsambung, Kebumen yang merupakan tertua di Jawa.

Keterangan di Peta Geologi

Dalam Peta Geologi Lembar Majenang, skala 1 : 100.000 terbitan Pusat Survei Geologi (PSG) Bandung, posisi yang diyakini sebagai Situs Batu Pabahanan termasuk dalam batuan terobosan (intrusi) andesit yang berupa retas (dyke/korok) berbentuk struktur kekar kolom (columnar joint).

Dengan penyebaran di bagian tepinya (wall rocks/batuan samping) berupa batuan klastika breksi volkanik dan breksi tuf yang merupakan bagian dari Formasi Halang (Tmh).

Penampakan singkapan (outcrops) batuan retas andesit memiliki dimensi penyebaran yang tidak begitu luas, dengan dimensi lebar singkapan sekitar 7 meter dan tinggi singkapan sekitar 15 meter, tersingkap di punggungan di bagian tenggara Gunung Cendana (masyarakat lokal Gunung Padang), memiliki struktur kekar kolom yang berbentuk blok-blok persegi lima, enam, tujuh maupun persegi delapan, namun sebagian besar berbentuk blok kolom persegi enam dan delapan (hexagonal to octahedral blocks).

Situs Pabahan Gunung Padang, Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Liputan6.com/Aris Andrianto)

Singkapan batuan andesit ini berada pada elevasi sekitar 600 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karakteristik secara megaskopis dari batuan ini umumnya merupakan tubuh batuan yang segar (fresh) dengan kenampakan berwarna abu-abu terang sebagian berwarna abu-abu gelap, fanerik halus, hipokristalin, equigranular, subhedral, struktur kekar kolom, komposisi umumnya berupa silika, piroksen, hornblende, dan feldspar, mempunyai sifat moderate magnetite.

Struktur kekar kolom yang terbentuk karena adanya tegasan yang terjadi pada saat mendingin dan mengkerut, atau dengan kata lain bahwa struktur kekar ini terjadi akibat pengerutan saat pendinginan batuan beku, di mana gaya pendinginan tiang ini arahnya memusat bila dipandang dari kenampakan atas.

Pembentukan kekar kolom ini juga disebabkan karena adanya pendinginan dan penyusutan yang merata dalam magma dan dicirikan oleh perkembangan lima, empat, enam atau delapan sisi prisma.

Batuan retas andesit ini diinterpretasikan sebagai batuan intrusi dangkal (intrusi batuan yang letaknya relatif dekat dengan permukaan bumi) yang diduga berumur Miosen Akhir atau Upper Miocene, sekitar 5-10 juta tahun lampau.

Batuan penyusun lain yang dijumpai berupa breksi volkanik yang memiliki kenampakan kecoklatan-kekuningan, kondisi sebagian lapuk dan altered, bidang kontak tidak jelas terlihat dengan retas andesit dikarenakan lebatnya vegetasi yang menutupi areal singkapan, dan breksi tuf yang menempati bagian bawah dari jalur penelusuran (track).

Zona Struktur

Penampakan adanya indikasi zona struktur di sekitar lokasi penelitian dijumpai adanya mata air di bagian timur dari Situs Batu Pabahanan, yang terefleksikan dalam aliran Sungai Cikahuripan, selain adanya kelurusan sungai.

Indikasi zona struktur juga terekam dalam Peta Geologi Lembar Majenang yang mengindikasikan di sekitar daerah penelitian terdapat 2 zona struktur sesar normal yang membatasi penyebaran dari batuan retas andesit.

Pola struktur sesar membatasi penyebaran Formasi Halang (Tmh) yang tersingkap di daerah penelitian yang berada di antara Gunung Cendana dan Gunung Bujalgunung di bagian tenggara.

Kesimpulan yang diperoleh, menurut Aziz, pemahaman terhadap adanya bangunan arsitektur hasil peradaban manusia di sekitar lokasi Gunung Padang dari hasil penelitian singkat, mengenai faktor litologi batuan dan fenomena geologi yang ada.

"Tidak ditemukan adanya batuan yang tersusun akibat peradaban manusia pada saat itu (zaman Kerajaan Padjadjaran). (Namun) Menjadi sebuah bangunan (situs) yang disakralkan," beber Aziz.

Ia menambahkan, bukti konkret bahwa batuan yang tersusun di sekitar lokasi tersebut merupakan akibat proses fenomena geologi murni. Yaitu, pembentukan suatu tubuh batuan beku yang berupa retas andesit dengan pola struktur kekar kolom, akibat adanya tegasan ketika mendingin dan mengkerut, struktur kekar kolom yang ada umumnya berbentuk pola prisma segi lima, empat, enam maupun delapan, dengan dijumpai di lokasi.

"Situs Batu Pabahanan dominan berbentuk pola segi enam dan delapan. Batuan itu tidak seperti hasil karya peradaban manusia pada saat itu teknologi megalitikum," pungkas Aziz.

Loading