Yuk, Nostalgia Naik Delman di Garut

Delman-delman itu lebih banyak dipilih warga transportasi dari pasar menuju rumah, walaupun banyak angkot yang melewati pasar.

Diterbitkan 12 Juli 2013, 19:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Ada yang menarik jika melintasi pasar di daerah Limbangan, Garut, Jawa Barat. Tim Liputan6.com Journey of Ramadhan menyoroti rentetan delman yang terparkir dengan rapih di pasar Limbangan, Garut.

Jejeran kereta delman ini bukan parade untuk bernostalgia di masa lalu. Ini memang sarana publik utama bagi warga setempat. Delman-delman itu digunakan masyarakat sebagai 'angkot' dari pasar ke rumah.

Delman-delman itu lebih banyak dipilih warga sebagai transportasi utama dari pasar menuju rumah. Sekalipun banyak angkot yang melewati pasar. Seperti Dilla (28), warga Limbangan ini memilih menaiki delman untuk pulang ke rumah.

"Kalau naik delmannya ramai-ramai, ada orang lain juga. Tapi bayar masing-masing, ya biasanya Rp 2.500 sekali jalan," papar Dilla yang sehabis berbelanja kebutuhan dapur di pasar Limbangan, Garut, Jawa Barat, Kamis (12/7/2013).

Pemilik delman Aceng menuturkan, dirinya bisa mengantongi sekitar Rp 60.000 per-harinya dari menarik delman. Tarifnya sekali jalan Rp 10.000. "Dapatlah sehari 5 sampai 6 rit (putaran). Sekali jalan, muatlah ini sampai 6 orang dewasa naik," ujar Aceng.

Untuk memenuhi kebutuhan angkutan pelanggannya, Aceng yang memang tinggal di dekat Pasar Limbangan harus mengganti kudanya dengan satu kuda lain miliknya. Hal tersebut dimaksudkan agar kuda yang dipanggilnya itu tidak kelelahan.

"Kalau sore, saya pulang dulu, tuker (kuda). Beri makan rumput dan gabah," kata Aceng yang sudah menjadi kusir dari tahun 1975 ini.

Hingga kini sudah ada sekitar 100 pengusaha delman yang beroperasi di pasar Limbangan itu. "Sudah banyak memang, tapi rejeki mah ada saja, sudah ada yang atur. Alhamdulillah sampai bulan puasa ini saya bisa narik," tutur Aceng sembari tersenyum. (Sul/Ism)