Sukses

Takut Corona, Tamu pun Mengungsi hingga Dalam Laut

Liputan6.com, Semarang - Pandemi Corona di dunia disikapi bermacam cara oleh publik. Bagi yang berkecukupan, ternyata banyak yang memilih paket menginap di hotel. Mereka tak sayang keluar uang tapi hati merasa tenteram. Apalagi saat menjalani puasa Ramadan.

Adalah Matromli, seorang juragan besi tua asal Madura yang mencoba mengungsi di Semarang. Sebenarnya ia memang sudah lama tinggal di Semarang, tapi pembawaan Madura-nya tak pudar.

Kisah berawal ketika Matromli mengantar besannya di Kota Sidoarjo. Saat itu Sidoarjo sudah dianggap sebagai daerah zona merah. Maka sekembalinya dari Sidoarjo, oleh ketua RT-nya ia disarankan untuk mengkarantina diri sendiri.

"Lha saya dari rumah naik mobil. Trus di jalan enggak mampir-mampir. Sampai Sidoarjo juga enggak ketemu orang beda lagi sampai saya pulang. Kalau enggak ada komunikasi dengan orang selain yang saya antar, apa perlu karantina?” Cak Matromli mencoba ngeyel.

Ketua RT tak mau tahu. Ia berkukuh untuk mengkarantina Matromli. Solusi didapatkan, yakni Matromli akan mengkarantina diri di sebuah homestay pinggiran Semarang.

"Murah. Dua ratus ribu sudah bisa nginep. Kalau 14 hari kan hanya 2,8 juta,” katanya.

Matromli beserta istri dan dua anaknya kemudian mengurung diri di homestay tersebut hingga pekan awal bulan Ramadan. Sebagai solusi, ia memesan makanan kepada tetangga di kampungnya karena homestay tidak menyediakan makanan.

Menurut Endah Purwanti, Manajer Operasional homestay Batik Semarang 16, selama menginap Matromli nyaris tak pernah keluar kamar. Bahkan, mengganti seprei saja dilakukan sendiri tanpa minta tolong petugas room service.

"Semua lancar dan baik kok. Sempat berpuasa disini juga dalam dua hari pertama puasa Ramadan,” kata Endah.

 

2 dari 3 halaman

Pindah Dalem Laut

Karantina diri sudah hampir usai ketika masuk bulan Ramadan. Sebagai muslim taat, Matromli sekeluarga juga berpuasa. Akibatnya hantaran makan berubah menjadi buka dan makan sahur.

Suatu malam, tetangga Matromli yang biasa mengantar makanan sedang berhalangan. Ia kemudian meminta tolong sang anak. Setelah dibekali alamat dan aplikasi lokasi, berangkatlah sang anak.

“Malam mas, saya mau antar makanan untuk Cak Matromli. Kamarnya mana ya?” tanya si anak itu.

“Coba ke 207, Mas,” jawab reseptionis.

Pintu diketuk, yang keluar adalah istri Matromli. Setelah makanan diserahkan dengan tetap menjaga jarak, iseng si anak itu bertanya.

“Ini Cak Matromli dimana?” tanyanya.

“Oh di dalem laut,” jawab sang isteri.

“Lho kan jauh dari sini, masak di dalam laut?” si anak ngeyel.

“Iya di dalem laut. Kami jenuh maka buka satu kamar lagi,” kata sang istri.

Perbincangan terputus dengan menyisakan tanda tanya. Si anak bercerita kepada orang tuanya dan menyebutkan bahwa Matromli mengkarantina diri di dalam laut, sehingga saat Ramadan lebih aman.

Manajer operasional Homestay Batik Semarang 16 Endah Purwanti mengaku sempat didatangi tetangga dan menanyakan kebenaran isu itu. Akhirnya melalui aiphone ia bisa ngobrol dengan istri Matromli.

“Jadi yang dimaksud dalem laut itu kamar selatan. Orang Madura biasa menyebut rumah dengan dalem sebagai kosakata halus. Laut yang dimaksud adalah Lao yang artinya selatan. Memang Beliau membuka dua kamar di utara dan selatan. Jadi maksudnya dalem laut itu ya kamar selatan,” kata Endah tersenyum.

Matromli sendiri ketika berada di homestay ikut menjalani rapid test bersama para karyawan dan hasilnya negatif. Ia pulang pada 30 April 2020 sebagai hari terakhir karantina mandiri.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut