Mengenal Jenis-Jenis Baterai Kendaraan Listrik, dari NCM hingga Solid-State

Baterai pada kendaraan listrik memakai baterai dengan jenis yang berbeda-beda dan memiliki karakteristik masing-masing.

Diterbitkan 22 Oktober 2025, 12:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) kini semakin populer di tengah masyarakat. Selain ramah lingkungan, kendaraan ini juga dianggap lebih efisien untuk digunakan sebagai alat mobilitas harian.

Salah satu komponen paling vital dalam kendaraan listrik adalah baterai. Berbeda dengan mobil konvensional yang mengandalkan bahan bakar minyak, EV sepenuhnya mengandalkan baterai sebagai sumber tenaga utama.

Seiring perkembangan teknologi, baterai kendaraan listrik hadir dalam berbagai jenis. Masing-masing memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda.

Berikut ini beberapa jenis baterai EV yang umum digunakan saat ini, hingga yang diproyeksikan menjadi masa depan kendaraan listrik, seperti dilansir ArenaEV:

1. Lithium-Ion NCM dan NCA

Baterai lithium-ion sudah digunakan sejak tiga dekade lalu, awalnya di perangkat elektronik seperti camrecorder. Namun dalam pengembangannya, baterai ini kini hadir dalam versi lebih canggih untuk kendaraan listrik.

Dua tipe utama dari baterai ini adalah NCM (Nickel, Cobalt, Manganese) dan NCA (Nickel, Cobalt, Aluminium). Kombinasi material pada katoda baterai ini menentukan karakter dan performanya. Misalnya, pada baterai NCM 712, kandungannya terdiri dari 70 persen nikel, 10 persen kobalt, dan 20 persen mangan.

Secara umum, semakin tinggi kandungan nikel, maka semakin besar pula kepadatan energi yang bisa dihasilkan. Inilah yang membuat baterai NCM dan NCA menjadi pilihan utama banyak produsen kendaraan listrik saat ini.

2. Lithium-Ion dengan Katoda LFP

Selain NCM dan NCA, ada juga jenis baterai Lithium Ferro-Phosphate (LFP) yang kini mulai banyak digunakan, terutama oleh pabrikan mobil asal Tiongkok.

Keunggulan utama dari baterai LFP adalah daya tahannya yang lebih lama, serta biaya produksinya yang relatif lebih murah. Material yang digunakan pun lebih mudah didapatkan, menjadikannya solusi yang ekonomis.

Namun, baterai LFP memiliki kepadatan energi yang lebih rendah dibanding NCM atau NCA. Hal ini karena tegangan maksimumnya lebih rendah, dan ion litium di dalamnya hanya bisa bergerak dalam satu dimensi.

Akibatnya, daya pengosongan maksimum pun ikut berkurang. Inilah mengapa baterai LFP dianggap kurang cocok untuk kendaraan listrik berkinerja tinggi.

 

3. Baterai Solid-State

Baterai solid-state disebut-sebut sebagai teknologi baterai masa depan. Berbeda dari baterai lithium-ion yang menggunakan elektrolit cair, baterai ini menggunakan bahan padat sebagai elektrolit, seperti logam.

Keunggulannya, baterai solid-state diklaim lebih aman, memiliki kepadatan energi lebih tinggi, dan tak mengalami penurunan performa saat pengisian daya penuh hingga 100 persen. Bahkan, beberapa pabrikan otomotif mulai mencoba teknologi ini pada produk mereka.

Salah satunya adalah Chery, yang kabarnya telah menyematkan baterai solid-state pada mobil listrik terbarunya di Tiongkok. Meski masih dalam tahap pengembangan, teknologi ini digadang-gadang akan menjadi standar baru dalam dunia kendaraan listrik.