Sukses

Puncak Kasus Corona Covid-19 Diprediksi Terjadi di Bulan Mei Jika PSBB Tak Dipatuhi

Profesor Amin Soebandrio, peneliti dan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengatakan, jika Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) tidak dilakukan dengan baik, serta masyarakat masih abai terhadap pencegahan COVID-19, bukan tidak mungkin akan terjadi lonjakan.

Liputan6.com, Jakarta - Situasi pandemi corona Covid-19 diperkirakan masih akan berlangsung dalam tiga hingga empat minggu ke depan. Namun, belum diketahui kapan waktu pastinya puncak dari pandemi ini.

Profesor Amin Soebandrio, peneliti dan Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengatakan, jika Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) tidak dilakukan dengan baik, serta masyarakat masih abai terhadap pencegahan COVID-19, bukan tidak mungkin akan terjadi lonjakan kasus COVID-19 yang sangat tinggi.

"Kira-kira akhir bulan puasa kali ya. Itu bisa terjadi puncak yang tinggi, artinya jumlah kasusnya juga cukup tinggi mungkin bisa di atas 10 ribu," kata Amin pada Health Liputan6.com ketika dihubungi lewat sambungan telepon pada Kamis (16/4/2020).

"Itu (puncak kasus) bisa terjadi kalau PSBB ini tidak dipatuhi dengan baik. Tidak cuma PSBB saja, PSBB dan kawan-kawannya, artinya peran masyarakat, partisipasi masyarakat kurang besar," tambahnya.

Namun, Amin memperkirakan dalam waktu dua hingga tiga minggu usai puncaknya, kasus infeksi virus corona kemungkinan bisa menurun.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Konsekuensi Puncak Kejadian

Amin mengatakan apabila pemahaman masyarakat untuk berkontribusi dalam pencegahan COVID-19 masih kurang, ditambah lagi dengan masih adanya mudik, membuat pergerakan manusia sulit terbendung dan malah menambah risiko penularan.

"Saya lihat orang-orang masih berkeliaran, berkerumun, tanpa masker dan sebagainya. Pemerintah sudah berupaya kuat tapi masyarakat tidak mematuhi, tidak berpartisipasi, maka peningkatan akan cukup tajam sampai kurvanya tinggi," ujarnya.

Konsekuensinya, dengan jumlah kasus yang tinggi, pasien yang membutuhkan perawatan akan melonjak dalam waktu singkat. Inilah yang dikhawatirkan menjadi beban bagi layanan kesehatan Indonesia.

Skenario lainnya adalah jumlah kasus yang sama namun tersebar dalam rentang waktu yang lebih panjang. Di sini, puncak kasus bisa mundur namun angkanya tidak terlalu tinggi bahkan bisa di bawah 10 ribu, tetapi beban perawatan juga lebih mudah untuk dikendalikan.

"Jadi kalau skenario kedua yang berlaku, maka jumlah orang yang membutuhkan perawatan kan tidak terlalu tinggi. Cuma lebih panjang," kata Amin. 

Sumber: Health Liputan6.com ditayangkan 16 Apr 2020, 15:09 WIB

Penulis: Giovani Dio Prasasti

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini