Sukses

Pandemi Membuat Stres, Coba Hindari Sebab Ini yang Terjadi pada Diri Anda

Liputan6.com, Jakarta Pandemi, membuat banyak orang memiliki tingkat kecemasan atau stres yang tinggi. Mereka resah memikirkan kondisi yang terjadi saat ini maupun masa depan.

Mungkin banyak yang bertanya, pertanyaan seperti, "Ini semua akan berakhir suatu hari nanti, tetapi sementara itu, apa efek jangka panjang dari hidup yang mengalami stres yang panjang ini?.

“Stres yang terus-menerus dan tak henti  seperti yang dilihat saat ini dapat menyebabkan kebuntuan saat membuat keputusan,” kata Sue Varma, Psikiater bersertifikat dan asisten profesor psikiatri klinis di NYU Langone, melansir laman Lifehack.

Stres juga dapatt memengaruhi konsentrasi dan kemampuan membuat keputusan yang baik. Jika depresi terjadi, itu juga dapat menyebabkan hilangnya motivasi. Simak kondisi lain yang terjadi saat seseorang stres.

1. Diri akan memberi tanggapan melawan hingga muncul kebuntuan

Tubuh merespons situasi yang penuh tekanan yang berlanjut memunculkan kebuntuan pemikiran. Meskipun kita sering berpikir harus merespons saat berada dalam pertarungan atau pelarian atau berada dalam situasi berbahaya, pilihannya adalah ikut bertempur atau melarikan diri. Namun ternyata ini bukanlah suatu pilihan.

Sebab itu tidak bisa terjadi saat ini setidaknya karena Anda masih tidak menjadi korban virus. Hal yang harus dilakukan adalah merespons dengan tenang dan terukur, seperti tetap tinggal di rumah.

Tetapi itu tidak berarti kita tidak akan mengalami reaksi psikologis yang sama yang dipicu saat berada dalam situasi berbahaya lainnya.

Saat tinggal di rumah, stres masih bisa menghampiri dan membuat otak buntu. Hal yang bisa kita lakukan adalah tetap dalam keadaan kewaspadaan yang konstan. 

 

 

 

2 dari 2 halaman

Stres berkepanjangan memiliki konsekuensi fisik dan mental

Mengalami kebuntuan pemikiran adalah respons jangka pendek. Konsekuensi dari terkunci dalam keadaan stres dalam jangka panjang dapat berupa fisik maupun mental.

“Penyakit jantung, obesitas, stroke, kematian sebelum tua, serta depresi, kegelisahan dan gangguan stres pasca-trauma semuanya adalah konsekuensi fisik dan mental yang potensial,” kata Varma.

Dalam situasi seperti ini, orang juga cenderung membuat penilaian yang buruk. Khususnya, tingkat kekerasan dalam rumah tangga yang baru-baru ini meningkat.

Sama berbahayanya dengan efek-efek ini, ada beberapa cara untuk mengelolanya. Pertama adalah menghubungi dokter jika  merasa efeknya sudah sangat mempengaruhi Anda.

Tetapi bahkan sebelum Anda mencapai titik itu, ada langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil, termasuk pengembangan mekanisme diri yang sehat untuk membantu  melewati saat-saat sulit.

Berlatih

“Mempelajari cara mengelola stres secara efektif melalui keterampilan adaptasi koping adalah salah satu kemampuan terpenting untuk dikembangkan, dan dapat memprediksi kesehatan mental dan umur panjang,” kata Varma.

Sarannya adalah agar berlatih kesehatan mental setiap hari, yang meliputi pemebrian perhatian, mengikutis atau terlibat sesuatu yang bermakna, penguasaan yang mencakup pengejaran kreatif dalam bentuk apa pun, dan bergerak.

Dengarkan tubuh dan pikiran daripada mengabaikan apa yang dikatakan kepada Anda. Tetap terhubung dengan teman dan keluarga namun sambil berlatih menjaga jarak fisik yang aman.

Habiskan waktu Anda dengan aktivitas yang memuaskan. Dan jangan lupa berolahraga, meskipun tidak bisa meninggalkan rumah.

Reporter : Tiara Sekarini