Calon Ulama Indonesia Belajar Dialog Lintas Agama di AS

Calon ulama Indonesia mengikuti studi di Amerika Serikat untuk memperdalam kajian Islam sekaligus belajar membangun dialog lintas iman.

Diterbitkan 14 Oktober 2026, 15:31 WIB
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Peserta PKUMI studi singkat di HIU, AS, perdalam Islam dan dialog lintas agama.
  • Program ini fokus pada kajian Islam, dialog antaragama, dan pembangunan perdamaian.
  • Kerjasama PTIQ, Istiqlal, HIU, didukung LPDP dan Kemenag, perkuat kader ulama.

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah peserta Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti program studi singkat di Hartford International University for Religion and Peace (HIU), Connecticut, Amerika Serikat.

Program ini memberikan kesempatan bagi para calon ulama untuk memperdalam kajian Islam sekaligus mempelajari dialog lintas agama dan pembangunan perdamaian.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menerima para peserta dari Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) University Jakarta tersebut pada Selasa (13/10/2026). Dalam pertemuan itu, para peserta berbagi pengalaman mengenai pembelajaran interreligius, riset akademik, serta kehidupan sosial dan budaya di Amerika Serikat.

Program tersebut merupakan hasil kerja sama PTIQ University, Masjid Istiqlal, dan HIU. Melalui kemitraan ini, para peserta tidak hanya memperdalam kajian Al-Qur’an dan studi Islam, tetapi juga mempelajari pendekatan dialog antarumat beragama dalam membangun perdamaian.

Para peserta berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, antara lain Lombok Tengah, Taliwang di Sumbawa Barat, Seluma di Bengkulu, Kampar Utara di Riau, Wajo di Sulawesi Selatan, Pontianak di Kalimantan Barat, Donggala di Sulawesi Tengah, serta Tuban dan Kediri di Jawa Timur.

Mereka mengikuti program melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dan rekomendasi Menteri Agama Nasaruddin Umar. Studi singkat di HIU menjadi bagian wajib dari kurikulum PKUMI.

Selama mengikuti program, para calon ulama menjalani riset tesis atau disertasi bersama pembimbing, mengikuti seminar kajian Al-Qur’an dan metodologi penelitian Islam, serta menjalani kegiatan lintas budaya dan pelatihan bahasa Inggris.

Mereka juga berkesempatan berdialog dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang keyakinan, termasuk Muslim, Yahudi, Kristen Ortodoks, Bahá’í, dan Druze. Interaksi ini menjadi sarana untuk memahami perbedaan agama melalui pendekatan akademik, keterbukaan, dan komunikasi yang setara.

 

Kembangkan Pembelajaran Interreligius

HIU sendiri mengembangkan pembelajaran interreligius yang mencakup kajian teologi lintas agama, dialog lintas iman, serta persoalan stereotip dan pengucilan terhadap kelompok lain. Para peserta didorong untuk berinteraksi langsung dengan komunitas yang memiliki keyakinan berbeda agar pemahaman mereka tidak terbatas pada teori.

Kerja sama PTIQ University, Masjid Istiqlal, dan HIU diperkuat melalui kesepakatan dengan Kementerian Agama. Ruang lingkup kemitraan tersebut meliputi pendidikan, riset bersama, pertukaran akademisi, dan pengembangan program kader ulama, termasuk penguatan peran ulama perempuan.

Pengalaman akademik dan lintas budaya di Amerika Serikat diharapkan menjadi bekal bagi para calon ulama untuk memperluas wawasan keilmuan sekaligus meningkatkan kemampuan berdialog di tengah masyarakat yang beragam.

Melalui pengalaman tersebut, para peserta diharapkan mampu mengembangkan sikap saling menghormati, memahami perspektif yang berbeda, dan membangun hubungan antarmanusia secara setara sebagai bagian dari upaya memperkuat perdamaian.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6