Densus 88 Polri Perkuat Deteksi Dini Ekstremisme di Sekolah

Tenaga pendidik berperan penting dalam membangun lingkungan sekolah yang menjunjung toleransi dan keberagaman.

Jadi intinya...
  • Densus 88 dan Dinas Pendidikan DKI perkuat deteksi dini intoleransi, radikalisme, dan cyberbullying di sekolah.
  • Peningkatan kapasitas tenaga pendidik penting untuk membangun lingkungan sekolah yang toleran dan aman.
  • Fokus pada literasi digital, komunikasi sehat, dan penanganan cyberbullying untuk lingkungan inklusif.

Liputan6.com, Jakarta - Densus 88 Antiteror Polri bersama Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memperkuat upaya deteksi dini intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), serta perundungan siber (cyberbullying) di lingkungan sekolah melalui peningkatan kapasitas tenaga pendidik.

Kombes Moh Dofir dari Direktorat Pencegahan (Ditcegah) Densus 88 AT Polri menekankan pentingnya keterlibatan tenaga pendidik dalam membangun lingkungan sekolah yang menjunjung toleransi dan menghargai keberagaman.

“Pencegahan IRET di lingkungan pendidikan membutuhkan sinergi dan peran aktif seluruh pihak, khususnya tenaga pendidik. Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun karakter peserta didik, menanamkan nilai toleransi, serta menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman,” tutur Dofir dalam Workshop Sekolah Ramah Anak di Auditorium Ki Hajar Dewantara di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, dikutip Rabu (14/10/2026).

Ia menilai, kemampuan mengenali indikasi awal penyebaran paham ekstremisme dan perilaku perundungan, termasuk di ruang digital, perlu diperkuat agar tenaga pendidik dapat mengambil langkah pencegahan secara tepat.

Selain pencegahan IRET, workshop yang dihadiri 343 peserta itu juga membahas penanganan cyberbullying yang dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, kenyamanan belajar, hingga perkembangan psikologis peserta didik.

Tenaga pendidik diharapkan mampu mengidentifikasi siswa yang membutuhkan bantuan serta memahami mekanisme penanganan dan pendampingan dengan mengutamakan perlindungan anak.

Penguatan Literasi Digital

Aspek lain yang menjadi perhatian adalah penguatan literasi digital. Peserta didik perlu dibekali kemampuan menyikapi informasi secara kritis, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menghormati orang lain di ruang digital. Kemampuan tersebut penting untuk membantu mereka mengenali dan menyikapi konten yang mendorong kebencian maupun kekerasan.

Dalam pelaksanaannya, upaya pencegahan juga perlu mengedepankan komunikasi yang sehat antara tenaga pendidik dan peserta didik. Pendekatan melalui edukasi, dialog, dan kepedulian diharapkan membantu sekolah mengenali potensi masalah sejak dini tanpa memberikan stigma atau pelabelan secara prematur terhadap siswa.

Ditcegah Densus 88 AT Polri dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta pun berharap penguatan kapasitas tenaga pendidik dapat dilakukan secara berkesinambungan. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi lingkungan yang aman dan inklusif bagi anak untuk belajar, tumbuh, membangun karakter, serta menghargai keberagaman.

“Melalui workshop ini, kami berharap para tenaga pendidik semakin memahami pentingnya deteksi dini, edukasi, dan langkah pencegahan yang tepat. Dengan kolaborasi berkelanjutan antara Densus 88 AT Polri dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta, kita dapat bersama-sama mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan ramah anak,” kata Dofir.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6