Peringati 100 Tahun Frans Seda, IMDE Gelar Lomba Film Vertikal

IMDE dan Frans Seda Foundation menggelar lomba film vertikal untuk pelajar SMA/SMK. Kompetisi ini mengangkat keberagaman, toleransi, dan kebersamaan.

Diterbitkan 11 Oktober 2026, 20:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Institut Media Digital Emtek (IMDE) berkolaborasi dengan Frans Seda Foundation (FSF) menggelar lomba film vertikal bagi pelajar SMA/SMK sederajat dari berbagai daerah di Indonesia.

Kompetisi bertema keberagaman, toleransi, dan kebersamaan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 tahun Frans Seda bertajuk Centennial Celebration. Acara tersebut digelar di Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Lomba Film Vertikal 2026 menjadi salah satu upaya mendorong kreativitas generasi muda melalui karya audiovisual yang mengangkat nilai keberagaman, toleransi, dan kebersamaan.

Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto, mengatakan IMDE bersama Frans Seda Foundation menyelenggarakan kompetisi ini bagi siswa SMA dari berbagai daerah di Indonesia. Lomba tersebut terinspirasi dari Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai simbol persatuan dan keharmonisan.

Menurut Totok, lomba tersebut memiliki dua tujuan. Pertama, mengajak generasi muda merawat persatuan dengan menjadikan film sebagai sarana menyampaikan pesan keberagaman dan toleransi. Kedua, membuka ruang bagi munculnya talenta muda yang dapat berkontribusi dalam perkembangan industri kreatif.

“Demikian, kami persembahkan para pemenang lomba film vertikal yang pertama. Terima kasih kepada FSF, RANS Entertainment, Superbank, Vidio.com, Mayora, Emtek Media, Emtek Beauty, dan seluruh sponsor,” kata Totok, Minggu (11/10/2026).

Ketua Lomba Film Vertikal 2026, Teguh Setiawan, menjelaskan bahwa film vertikal berdurasi pendek merupakan bentuk adaptasi perfilman terhadap perubahan perilaku audiens di era digital.

“Film vertikal bukan sekadar mengubah format gambar menjadi tegak, tetapi juga membutuhkan pendekatan visual dan cara bercerita yang berbeda. Sementara itu, durasi pendek menuntut pembuat film mampu membangun konflik, emosi, dan pesan secara efektif sejak awal cerita,” ujar Teguh.

Menurut dia, tantangan utama dalam membuat film berdurasi pendek adalah menyampaikan cerita yang utuh dan bermakna dalam waktu terbatas.

“Justru di sinilah kreativitas diuji. Bagaimana membuat penonton terhubung dengan cerita, merasakan emosinya, dan mengingat pesannya meski dalam waktu singkat. Kami berharap lomba ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki makna,” tambahnya.

Lomba Film Vertikal 2026 mengusung tema “Berbeda, Bersama, Ruang untuk Semua”. Tema tersebut mengajak generasi muda memandang keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Melalui kompetisi ini, peserta didorong mengembangkan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, membangun empati, serta menyampaikan pesan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup berdampingan dan saling menghargai.

 

 

 

Daftar Pemenang

SMKN 65 Jakarta meraih Juara 1 Lomba Film Vertikal 2026. Posisi Juara 2 diraih SMK Kristen Immanuel 2 Sungai Raya, sedangkan Juara 3 diraih MAN 2 Tulang Bawang Barat.

Adapun Juara Harapan 1 diraih SMKN 1 Klaten dan Juara Harapan 2 diraih SMAK Monte Carmeli Maumere.

Berikut daftar lengkap pemenang Lomba Film Vertikal 2026:

Juara 1: SMKN 65 Jakarta

Juara 2: SMK Kristen Immanuel 2 Sungai Raya

Juara 3: MAN 2 Tulang Bawang Barat

Juara Harapan 1: SMKN 1 Klaten

Juara Harapan 2: SMAK Monte Carmeli Maumere

AI Hadirkan Sosok Frans Seda

Frans Seda, yang memiliki nama lengkap Franciscus Xaverius Seda, lahir pada 4 Oktober 1926 di Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia dikenal sebagai tokoh pendidikan, keagamaan, politik, dan birokrasi. Frans Seda juga memiliki hubungan erat dengan Unika Atma Jaya karena turut menginisiasi pendirian universitas tersebut.

Peringatan satu abad Frans Seda dikemas melalui berbagai kegiatan. Acara diawali dengan Misa Syukur bersama Uskup Ignatius Kardinal Suharyo di Kapel St. Albertus Magnus, Gedung Karol Wojtyla lantai 13. Rangkaian acara juga mencakup drama teatrikal dan pengumuman pemenang lomba film vertikal.

Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S (K), menyampaikan sambutan mengenai rangkaian peringatan tersebut. Dia juga berharap generasi muda dapat meneruskan ide, gagasan, dan perjuangan Frans Seda.

Acara dilanjutkan dengan drama teatrikal berjudul Untuk Tuhan dan Tanah Air yang mengangkat perjalanan hidup Frans Seda. Penampilan musik sasando khas NTT oleh Matio Jubileo turut memeriahkan acara.

Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah penayangan sosok Frans Seda melalui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut digunakan untuk menghadirkan rekonstruksi visual Frans Seda dalam format gelar wicara, sehingga hadirin seolah-olah dapat berdialog langsung dengan tokoh tersebut.

Dalam sesi itu, sosok Frans Seda hasil rekonstruksi AI menjawab sejumlah pertanyaan dari hadirin. Pesan yang ditampilkan menekankan pentingnya pendidikan, kesungguhan dalam belajar, kerja keras, dan integritas moral sebagai bekal generasi muda untuk meraih kemajuan.

Totok Amin Soefijanto menambahkan, peringatan 100 tahun Frans Seda menjadi kesempatan untuk mengenalkan pemikiran tokoh tersebut melalui pendekatan baru yang memanfaatkan teknologi dan media digital.

“Kita dari generasi yang lebih tua dapat membantu generasi muda memahami ide dan kegundahan Frans Seda, melalui AI dan media baru seperti film short vertikal, selain dari membaca ribuan artikel karyanya,” katanya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6