Blangkon Jawa Bertahan di Tengah Perubahan Zaman, Usaha Lokal Ini Tumbuh Bersama PNM Mekaar

Kisah Tri Damayanti mengembangkan usaha blangkon di Pracimantoro melalui akses pembiayaan dan pendampingan PNM hingga memanfaatkan media sosial.

Diterbitkan 29 September 2026, 16:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, blangkon mungkin terlihat sebatas penutup kepala khas Jawa. Namun, bagi Tri Damayanti dan sang suami, kerajinan tersebut memiliki makna lebih dalam. Setiap lembar kain yang mereka bentuk dan rangkai menjadi blangkon membawa cerita tentang keterampilan yang diwariskan, sumber penghidupan keluarga, sekaligus upaya menjaga budaya Jawa agar tetap bertahan mengikuti perkembangan zaman.

Menjalankan usaha blangkon pun bukan hanya soal mempertahankan proses produksi. Bagi keluarga Tri, keberlangsungan usaha turut menentukan roda perekonomian keluarga agar terus berjalan.

Di tengah perjalanan tersebut, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari menjaga agar produk tetap dikenal masyarakat, memperluas jangkauan pasar, hingga memastikan keterampilan membuat blangkon masih memiliki nilai ekonomi.

Perjalanan usaha Tri kemudian membawanya bertemu dengan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM. Sejak bergabung menjadi nasabah pada 2023, ia mendapatkan akses pembiayaan yang membantu memenuhi kebutuhan bahan baku untuk usahanya. Dukungan yang diperoleh Tri pun tidak hanya berhenti pada akses permodalan.

Pendampingan Buka Peluang Pasar Lebih Luas

Melalui kegiatan pemberdayaan PNM turut memberikan pengetahuan dan pendampingan untuk membantu Tri mengembangkan cara memasarkan produknya. Dari sana, media sosial mulai dimanfaatkan sebagai ruang baru untuk memperkenalkan blangkon kepada lebih banyak orang.

“Terima kasih kepada PNM yang telah memberikan pelatihan dan pendampingan yang sangat bermanfaat bagi usaha saya. Melalui pelatihan dan pendampingan tersebut, saya bisa memasarkan produk melalui media sosial sehingga produk saya semakin dikenal luas,” ujar Tri.

Perubahan yang dialami Tri menggambarkan bahwa penguatan usaha ultra mikro tidak berhenti ketika modal diterima. Ada pengetahuan yang perlu dibangun, keberanian untuk mencoba cara baru, dan kesempatan untuk memperluas pasar. Di titik inilah pemberdayaan menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah usaha.

Usaha Tumbuh, Keterampilan Tradisional Tetap Terjaga

Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, PNM berupaya membuka akses sekaligus menciptakan kesempatan agar masyarakat prasejahtera dapat mengembangkan potensi yang telah mereka miliki. Menurutnya, pembiayaan menjadi pintu masuk, sementara pemberdayaan membantu nasabah memiliki kemampuan untuk terus bertumbuh.

“Membuka akses bukan hanya tentang memberikan pembiayaan. Kami ingin membuka kesempatan agar setiap nasabah dapat belajar, mengembangkan usaha, dan semakin percaya diri dengan potensi yang dimilikinya. Karena itu, pembiayaan dan pemberdayaan kami hadirkan secara berdampingan, agar usaha yang dijalankan tidak hanya bertahan, tetapi memiliki ruang untuk terus tumbuh,” ujar Kindaris.

Pendekatan tersebut menjadi penting bagi usaha seperti yang dijalankan Tri. Sebab, ketika sebuah usaha tradisional memiliki ruang untuk berkembang, yang tumbuh bukan hanya ekonomi keluarga, tetapi juga kesempatan bagi keterampilan dan produk lokal untuk tetap menemukan tempat di tengah perubahan zaman.

“Saya berharap pendampingan ini terus berlanjut agar kami sebagai nasabah bisa terus berkembang, lebih percaya diri, mampu mengembangkan usaha, serta meningkatkan perekonomian keluarga,” lanjutnya.

Dari sebuah rumah usaha di Pracimantoro, blangkon-blangkon itu pun terus dibuat dengan tangan. Setiap pesanan bukan hanya berarti pemasukan bagi keluarga Tri, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sebuah keterampilan tradisional untuk tetap menemukan tempat di tengah generasi yang terus berubah.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6