Cara Selamatkan Diri saat Kebakaran di Gedung Bertingkat Jakarta

Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan membagikan beberapa tips keselamatan yang harus diketahui setiap orang. Kesiapan mental dan pengetahuan dasar bisa menjadi kunci bertahan hidup saat bencana seperti ini terjadi.

Diterbitkan 10 Desember 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hebat yang melanda Gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025), menewaskan 22 orang. Para korban langsung dibawa ke RS Polri dan berhasil diidentifikasi tanpa tes DNA karena kondisi jenazah masih utuh.

BPBD DKI Jakarta mencatat kerugian materil akibat insiden ini mencapai Rp 2 miliar. Peristiwa memilukan ini menjadi pengingat keras bahwa di kota besar seperti Jakarta, ancaman kebakaran bisa datang kapan saja dan berdampak sangat fatal.

Kepadatan penduduk, gedung bertingkat, dan aktivitas tinggi memperbesar risiko kebakaran. Karena itu, penting bagi masyarakat memahami langkah penyelamatan, terutama saat berada di gedung saat api melahap.

Panik justru memperparah keadaan. Kementerian Kesehatan melalui Pusat Krisis Kesehatan membagikan beberapa tips keselamatan yang harus diketahui setiap orang. Kesiapan mental dan pengetahuan dasar bisa menjadi kunci bertahan hidup saat bencana seperti ini terjadi.

Kenali Rute Darurat hingga Jangan Panik

Kenali Rute Darurat Sejak Awal

Saat memasuki sebuah gedung, baik itu kantor, hotel, atau pusat perbelanjaan, usahakan untuk langsung memperhatikan di mana letak pintu darurat, tangga evakuasi, dan jalur penyelamatan. Informasi ini biasanya tersedia dalam bentuk denah atau petunjuk arah di dinding.

Mengenali jalur evakuasi sejak awal akan memudahkan Anda bergerak cepat saat keadaan darurat.

Tetap Tenang dan Hindari Kepanikan

Saat alarm kebakaran berbunyi atau asap mulai terasa, reaksi alami yang sering muncul adalah panik. Namun kepanikan justru memperbesar risiko.

Tarik napas dalam-dalam, tetap fokus, dan segera ambil keputusan untuk mencari jalur keluar yang aman. Ingat, semakin cepat bertindak dengan kepala dingin, semakin besar peluang selamat.

Gunakan Jalur Evakuasi yang Aman

Sebagian besar gedung modern telah dilengkapi sistem proteksi pasif, seperti lorong-lorong tahan api dan pintu tahan asap. Ini dirancang untuk memperlambat penyebaran api agar penghuni punya waktu menyelamatkan diri.

Gunakan jalur ini menuju tangga darurat, dan hindari jalan yang sudah dipenuhi asap atau terasa panas karena api bisa berada di baliknya.

Gunakan Tangga Darurat, Bukan Lift

Lift bukanlah pilihan tepat dalam kondisi kebakaran. Listrik bisa padam sewaktu-waktu dan membuat terjebak di dalamnya.

Selain itu, asap bisa masuk ke dalam ruang lift dan mengancam nyawa. Gunakan tangga darurat yang memang dirancang sebagai jalur evakuasi paling aman. Tangga ini biasanya terbuat dari bahan tahan api dan memiliki ventilasi yang memadai.

Tutupi Hidung dan Mulut Bila Perlu Jika asap mulai mengepul di sekitar Anda, gunakan kain basah (jika ada) untuk menutup hidung dan mulut agar tidak menghirup zat berbahaya. Merangkaklah jika asap terlalu tebal, karena udara bersih biasanya berada lebih dekat ke lantai.

Jangan Membuka Pintu Secara Sembarangan

Sebelum membuka pintu ruangan, sentuh terlebih dahulu gagangnya. Jika terasa panas, jangan dibuka karena bisa jadi api berada di balik pintu. Cari jalur lain atau tunggu bantuan jika benar-benar terjebak.

Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengatakan, kebakaran bisa terjadi di mana saja dan tidak bisa diprediksi. Sehingga masyarakat harus mulai memahami cara menyelamatkan diri.

"Pastikan diri kalian siaga dan memahami cara menyelamatkan diri jika kebakaran terjadi."

Data Kebakaran di Jakarta

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta, mencatat ada sebanyak 371 kejadian kebakaran yang melanda Jakarta sejak Januari hingga Juni 2025. Mayoritas kejadian kebakaran disebabkan arus pendek listrik (korsleting).

"Mayoritas kebakaran di Jakarta disebabkan oleh korsleting listrik," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD Jakarta, Mohamad Yohan dalam keterangannya, dikutip Selasa (22/7/2025).

Tak hanya korsleting listrik, kebakaran di Jakarta juga disebabkan oleh beberapa faktor lain, yakni kebocoran gas, puntung rokok, kompor portable meledak, petasan, hingga obat nyamuk bakar.

Objek yang terbakar juga beragam. Mayoritas kebakaran terjadi di rumah tinggal, disusul ruko, kontrakan, apartemen, hingga indekos.

Kerugian dari ratusan peristiwa kebakaran di Jakarta ini pun cukup fantastis. Total kerugian material mencapai Rp 201.486.884.000.

Yohan menekankan, pentingnya kesadaran masyarakat untuk menjaga keamanan instalasi listrik di lingkungannya. Penggunaan instalasi listrik harus dipastikan benar dan aman agar tidak menyebabkan kebakaran.

"Masyarakat diimbau agar rutin memeriksa instalasi listrik secara berkala, jangan pakai kabel sembarangan pakai perangkat listrik standar (SNI/Resmi), hindari colokan bertumpuk," kata Yohan.

Masyarakat juga diingatkan terkait kesiapsiagaannya untuk menyediakan Alat Pemadam Api Ringan (Apar) di rumah, terlebih bagi masyarakat yang tinggal di kawasan padat penduduk.

Selain itu, masyarakat yang hendak keluar rumah juga diwanti-wanti agar mencabut seluruh peralatan listrik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6