Pulihkan DAS Ciliwung, Kementerian Lingkungan Hidup Bentuk 53 Komunitas dari Bogor hingga Jakarta

Komunitas tersebut tersebar mulai dari Cisarua, Kabupaten Bogor hingga Sawah Besar, Jakarta.

Diterbitkan 29 Oktober 2025, 03:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Menteri LHK bentuk 53 Komunitas Ciliwung untuk pulihkan fungsi DAS.
  • Ekosistem hulu Ciliwung vital hadapi krisis lingkungan global.
  • Kementerian LHK tanam 15 ribu pohon dan bangun embung di hulu.

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq membentuk 53 Komunitas Sungai Ciliwung untuk menjaga dan memulihkan fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

Komunitas tersebut tersebar mulai dari Cisarua, Kabupaten Bogor hingga Sawah Besar, Jakarta.

Hanif mengatakan dengan ditetapkannya 53 Komunitas Ciliwung diharapkan setiap segmen dan lekukan Sungai Ciliwung memiliki penjaga yang aktif untuk melestarikan sungai.

"Kami akan mendukung penuh langkah yang dilakukan komunitas, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengembalikan Sungai Ciliwung. Hulu DAS ini sangat penting dan menjadi perhatian kita semua," kata Hanif usai gerakan penanaman pohon di Megamendung, Kabupaten Bogor, Selasa 28 Oktober 2025.

Hanif menjelaskan, saat ini dunia menghadapi triple planetary crisis, yaitu perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan pencemaran lingkungan. Dalam konteks tersebut, ekosistem hulu dan kawasan puncak memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan alam di wilayah hilir.

Menurutnya, DAS Ciliwung seluas 42,6 ribu hektare saat ini dihuni oleh lebih dari 3,5 juta jiwa, angka yang cukup besar untuk satu daerah aliran sungai.

Oleh karena itu, dibutuhkan kehati-hatian dan keseriusan semua pihak dalam merekonstruksi kebijakan serta merencanakan langkah-langkah strategis guna mengembalikan fungsi lingkungan dan kawasan DAS Ciliwung.

 

Simulasi

Hanif menyebut, Kementerian Lingkungan Hidup telah melakukan sejumlah simulasi model pengembalian alur air Sungai Ciliwung, termasuk dengan menerapkan teknik vegetatif melalui penanaman pohon serta teknik sipil dengan pembangunan embung-embung penampung air.

Sebagai upaya nyata, Kementerian Lingkungan Hidup bersama masyarakat, PTPN dan KSO melakukan penanaman 15 ribu pohon secara serentak di kawasan hulu Sungai Ciliwung. Aksi ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat resapan air dan menstabilkan fungsi ekologi di kawasan puncak

"Ada hampir 700 meter persegi embung dengan kedalaman tertentu yang harus kita bangun di titik-titik kulminasi air yang mengalir ke Sungai Ciliwung. Ini memerlukan kerja keras kita semua," jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas wilayah, mulai dari Pemerintah Kabupaten dan Kota Bogor, Pemerintah Kota Depok, hingga Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Jakarta. Upaya di wilayah hulu seperti Megamendung dan Cisarua dinilainya sangat menentukan keberlangsungan ekosistem di wilayah hilir.

"Hari ini kita ingin menjadikan momentum Sumpah Pemuda ini untuk merefleksi upaya-upaya kita dalam kerangka pemulihan lingkungan hidup," ujar Hanif.

 

Pendekatan Berbasis Ekologi

Selain itu, pendekatan berbasis ekologi juga akan terus diperkuat. Sementara pemberian sanksi terhadap pelanggaran lingkungan akan dievaluasi agar berfungsi sebagai pemicu perubahan perilaku dan kebijakan yang lebih berkelanjutan.

"Kita harus meletakkan persoalan lingkungan pada asas yang benar. Pelaku usaha di kawasan puncak wajib menginvestasikan keberlanjutan dengan mengembalikan fungsi tata lingkungan, terutama hidro-orologis kita," tegas Kepala Badan Lingkungan Hidup ini.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6