BMKG: Jakarta Berpotensi Diguyur Hujan Intensitas Ringan hingga Sedang Pada 14-16 Agustus 2025

Secara khusus untuk wilayah DKI Jakarta, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang untuk Selasa ini. Bahkan, DKI Jakarta berada pada status Siaga.

Diterbitkan 12 Agustus 2025, 19:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Jakarta berpotensi hujan ringan hingga sedang pada 14-16 Agustus 2025.
  • BMKG imbau masyarakat waspada bencana hidrometeorologi seperti banjir dan genangan.
  • Hujan ekstrem disebabkan DMI negatif, MJO, siklonik, dan anomali suhu laut.

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani mengatakan Jakarta berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada 14-16 Agustus 2025. 

"Oleh karena itu, seluruh masyarakat, khususnya di wilayah DKI Jakarta, diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan genangan,” kata Andri kepada Liputan6.com, Selasa (12/8/2025). 

Andri menyampaikan, secara khusus untuk wilayah DKI Jakarta, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang untuk Selasa ini. Bahkan, DKI Jakarta berada pada status Siaga.

Sedangkan untuk Rabu 13 Agustus 2025, potensi cuaca ekstrem disebut akan menurun dari siaga menjadi status waspada. Menurut dia, kondisi ini terjadi di seluruh wilayah Tanah Air. 

"Kondisi cuaca ekstrem yang kita alami saat ini merupakan hasil dari interaksi kompleks beberapa fenomena atmosfer yang terjadi secara bersamaan,” ungkapnya. 

 

Kondisi Penyebab Hujan Ekstrem

Andri menjelaskan, merujuk analisis terkini dari BMKG, kondisi cuaca ekstrem disebabkan karena adanya faktor signifikan dari Indeks Dipole Mode (DMI) yang negatif, aktifnya gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), beberapa sirkulasi siklonik, serta anomali suhu muka laut yang hangat. 

"Kombinasi faktor-faktor inilah yang secara kolektif meningkatkan pembentukan awan hujan masif dan memicu curah hujan yang sangat tinggi di berbagai wilayah, termasuk Jabodetabek,” kata dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6