Sampah Plastik Menumpuk di Jakarta, Anak Muda Child Campaigner Memilah dan Daur Ulang

Sampah plastik masih menjadi kontribusi kedua terbesar di Jakarta. Oleh karena itu, sekelompok anak dan orang muda yang tergabung dalam Child Campaigner memilih untuk tidak diam.

Diperbarui 20 Juni 2025, 12:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sampah plastik masih menjadi kontribusi kedua terbesar di Jakarta. Oleh karena itu, sekelompok anak dan orang muda yang tergabung dalam Child Campaigner memilih untuk tidak diam.

Program Manager Ekonomi Sirkular Save the Children Indonesia Leonard Benny Johan menjelaskan, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024 menunjukkan sampah plastik menduduki peringkat kedua tertinggi di Jakarta dengan persentase 22,95%.

Dan setiap harinya, kata dia, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu atau TPST Bantar Gebang menerima sekitar 7.200-7.500 ton sampah dari Jakarta.

"Di sisi lain, rumah tangga dan pasar tercatat sebagai peyumbang sampah terbesar, masing-masing sebesar 53,74% dan 14,48%. Fakta ini menunjukkan bahwa upaya pengelolaan sampah, khususnya plastik, perlu dimulai dari sumber-sumber utama tersebut," ujar Benny, melalui keterangan tertulis, Kamis (19/6/2025).

Menurut dia, sebagai bagian dari solusi, Save the Children Indonesia bersama Hyundai Motor Company menginisiasi Program Ekonomi Sirkular yang bertujuan untuk meningkatkan praktik pemilahan dan daur ulang sampah plastik di Jakarta.

"Hyundai Motor Company mendukung program ini melalui inisiatif CSV, 'Hyundai Continue' sebagai bagian dari tanggung jawab sosial sebagai anggota masyarakat Indonesia," terang Benny.

"Sejak November 2022, Save the Children Indonesia telah memasang 89 dropbox di 20 sekolah, 4 RPTRA, serta area publik seperti perumahan, tempat makan, dan area olahraga untuk mendorong kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga," sambung dia.

 

Kumpulkan Banyak Sampah

Selain itu, menurut Benny, program ini juga telah berhasil mencegah 19 ton atau setara 1.018.218 botol plastik dan mengolah plastik menjadi produk upcycling seperti boneka dan T-Shirt.

"Melalui kerja sama dengan Plastic Pay, program ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di Jakarta sebesar Rp 57 juta. Sampah plastik yang dikumpulkan melalui dropbox akan dikonversi menjadi poin, yang kemudian dapat ditukarkan menjadi saldo uang digital oleh masyarakat," terang dia.

Benny mengatakan, tidak hanya fokus pada pengelolaan sampah, program ini juga menekankan pentingnya edukasi publik.

"Child Campaigner yang terlibat aktif mengembangkan materi edukasi kreatif seperti permainan ular tangga raksasa, Yes or No dengan spin wheel, hingga Tajalo (Tanya Jawab Lompat) untuk mengenalkan bahaya sampah dan cara mengelolanya dengan pendekatan yang menyenangkan," ucap dia.

Mereka juga melakukan kampanye di sekolah, sosialisasi kepada warga, hingga dialog dengan pemerintah setempat untuk menyuarakan hak anak atas lingkungan yang aman dan sehat.

 

Beri Kepercayaan pada Anak Muda

Program ini juga memiliki kampanye bertajuk Cerdas Pilah Plastik yang menjadi wadah edukasi dan aksi anak serta orang muda dalam menyuarakan pentingnya pengelolaan sampah plastik.

"Melalui kampanye ini, kami ingin menyuarakan bahwa penggunaan plastik berlebih menimbulkan polusi yang dapat menjadi ancaman nyata bagi lingkungan tempat anak tumbuh, belajar, dan bermimpi," kata anggota Child Campaigner Jakarta Shifa (17).

"Kampanye ini adalah ajakan kepada semua pihak untuk bergerak bersama mengurangi dan mengelola sampah plastik demi menciptakan lingkungan yang aman dan layak bagi generasi saat ini dan masa depan," jelas Shifa.

Benny kembali menjelaskan, ini menjadi bukti bahwa ketika anak muda diberi ruang dan kepercayaan, mereka mampu menghadirkan perubahan nyata.

Aksi mereka memang tampak sederhana, kata dia, akan tetapi membawa dampak yang luas, terutama dalam membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah sampah plastik sejak dari rumah.

"Bayangkan jika tidak ada yang melakukannya maka sampah akan terus menumpuk tanpa solusi. Anak-anak dan orang muda bukan hanya korban dari dampak lingkungan yang dirusak oleh manusia itu sendiri, tetapi mereka juga bagian dari solusi," terang Benny.

"Melalui pendekatan partisipatif dan edukatif, kami ingin memastikan bahwa mereka memiliki ruang untuk berkontribusi, dan suara mereka didengar dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan," sambung dia.

Dengan semangat kolaborasi,lanjut dia, edukasi, dan aksi nyata, program ekonomi sirkular menjadi contoh bahwa perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.

"Keterlibatan aktif anak dan orang muda serta didukung dengan kemitraan dengan pemerintah daerah menjadi pondasi penting dalam memperkuat dampak program," ucap dia.

"Sinergi ini memastikan bahwa upaya pengelolaan sampah tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga berpihak pada hak anak untuk hidup dan tumbuh di lingkungan yang aman dan sehat," tandas Benny.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6