Sukses

Persembahan bagi Mulajadi Na Bolon

Liputan6.com, Toba Samosir: Berabad-abad silam, orang Batak cuma punya satu kepercayaan: Parmalim dengan Mujadi Na Bolon sebagai Tuhannya. Setelah kedatangan para penyebar agama Kristen dan Islam, pengikut keyakinan ini menyusut. Bahkan, pada masa Orde Baru agama orang Batak ini nyaris punah. Sebab, pemerintah saat itu hanya mengakui adanya lima agama di Tanah Air: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. Tapi kini, seiring perubahan pemerintahan, Parmalin pun menggeliat meski sembunyi-sembunyi. Samar, karena di kalangan orang Batak sendiri, kepercayaan ini dianggap sebagai ajang pemujaan berhala.

Berpusat di Desa Huta Tinggi, Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatra Utara, baru-baru ini, umat Parmalim menyelenggarakan tradisi Pamaleon Bolon Sipaha Lima yang digelar saban pertengahan tahun. Semua pengikut Parmalim se-Tanah Air yang hanya berjumlah ratusan orang diundang dalam hajatan ini. Mereka berkumpul untuk bersyukur pada Debata Mulajadi Na Bolon serta seluruh penghuni banua ginjang [surga] atas segala rahmat yang diberikan selama setahun. Juga meminta agar diberi kemampuan menyelaraskan antara kehidupan dengan alam, sesama, dan Sang Penguasa, sesuai ajaran Parmalim.

Upacara Pamaleon Bolon Sipaha Lima diawali dengan ritual Persahadatan atau menghaturkan doa kepada Debata Mulajadi Na Bolon. Ada dua hal penting yang mereka minta kepada Debata Mulajadi Na Bolon: pengampunan dosa dan kelancaran keseluruhan rangkaian upacara ini. Doa dipimpin penatua bergelar Raja Marnakok Naipospos yang juga disebut Ihutan Parmalim dengan iringan alat musik khas Batak seperti teganing, odap, ogung, sarune bolon, hesek, serta gondang sabangunan yang tak henti-hentinya ditabuh mengiringi prosesi ini.

Musik memang diyakini sebagai media penghantar doa kaum Parmalim kepada Debata Mulajadi Na Bolon. Pentingnya peranan gondang ini membuat para penabuhnya yang memang tak bisa dilakukan sembarang orang, dipandang terhormat dalam struktur lapisan sosial Parmalim. Bersama lantunan melodi yang bertalu-talu itu, semua umat menari Tor-Tor sambil sesekali melemparkan uang kepada para penabuh gondang. Tindakan ini diyakini dapat menarik belas kasihan Sang Debata untuk memperhatikan permohonan mereka. Ritual Parsahadatan pun berakhir seiring selesainya ucapan-ucapan syukur dan permohonan akan kehidupan yang lebih sentosa.

Keesokan harinya, upacara dilanjutkan ke inti ritual. Ihutan Parmalim kembali memimpin dengan diiringi alunan tabuhan gondang. Pada sesi ini, semua umat berkumpul mengelilingi sebuah mimbar kecil yang disebut langgatan. Mimbar yang seperti rumah-rumahan ini dipalung dengan selembar kain putih dan diisi dengan palean atau persembahan bagi Mulajadi Na Bolon. Terdiri dari daging horbo [kerbau], hambing puti [kambing putih], manuk [ayam], ihan Batak [ikan Batak], indahan nalas [nasi], pirani ambalungan, tuhor-tuhor, gajut pandan, dan paradatan. Tak sembarang orang boleh menjamah persembahan ini. Hanya Ihutan Parmalim dan para ulu pungguan [kepala perkumpulan] yang bertugas mengusungnya ke dalam langgatan.

Semua persembahan itu dibagi atas tiga bagian. Pertama untuk Parbanua Ginjang yaitu para penguasa surga terdiri atas malaikat dan Mulajadi Na Bolon, diletakkan pada langgatan utama. Kedua, persembahan bagi Boru Saniangnaga, Patuan Raja Uti, dan Tuhan Simarimbulu Bosi, diletakkan pada di sebelah kanan langgatan utama. Dan ketiga, dipersembahkan kepada Raja Naopatpulopat, Raja Nasiak Bosi, dan Raja Sisingamangaraja sebagai penyebar kepercayaan Parmalim, diletakkan di sebelah kiri langgatan utama.

Penghaturan persembahan dilanjutkan ke puncak upacara Pamaleon Bolon Sipaha Lima yakni menyembelih kerbau sehat hitam. Sebelum acara puncak, kerbau ini sudah diikatkan pada batang kayu Bintatar dan dikurung di kolong Bale Parpintaan, bangunan tradisional umat Parmalin yang berada di lokasi upacara. Setelah acara penyembelihan usai, umat Parmalin berkumpul di Bale Pasogit Partonggoan. Bersama mereka dibawa pula potongan-potongan kerbau hitam yang dibagi atas upasira atau bagian belakang kerbau, uluna himpal atau kepala, ransangan atau bagian rusuk, ungkapan atau bagian dada, susap pengamun atau rusuk sebelah kanan, ate-ate atau hati, dan tango-tanggo atau bagian daging yang dipotong kecil-kecil.

Di tengah-tengah umat, Ihutan Parmalim kembali memimpin doa dengan tetap diiring alunan musik gondang. Setelah itu, dia memberi petuah agar seluruh kaum Parmalim menjalankan hari-hari dengan cara hidup yang lebih baik. Di saat-saat terakhir, semua pengikut ritual juga dibekali jambar atau potongan daging kerbau seberat sekitar satu kilogram. Jambar inilah yang mereka bawa pulang dan mereka yakini akan membawa berkah karena sudah disucikan oleh Mulajadi Na Bolon dalam ritual Pamaleon.(MTA/Tim Potret SCTV)