Sukses

Anwar Ibrahim Kenang Kebersamaan dengan Buya Syafii

Liputan6.com, Jakarta Tak hanya tokoh nasional yang berduka cita atas wafatnya tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif atau dikenal dengan sebutan Buya Syafii. Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pun juga merasa kehilangan.

Dalam Takziah Virtual PP Muhammadiyah untuk Buya Syafii Maarif pada Minggu 29 Mei 2022, dia mengaku memiliki kenangan dan kesan mendalam dengan almarhum.

Bahkan, terakhir bertemu dengan Buya Syafii pada tahun 2008 dalam peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional bersama tokoh-tokoh bangsa di Kota Batu, Malang, Jawa Timur.

"Saya bersama beliau dalam acara panjang sampai tengah malam di Kota Batu, Jawa Timur, saya, Buya Syafii dan WS Rendra (almarhum) bersama dalam acara, mendengar sendiri kepasan Buya tentang Islam, tantangan zaman dan beberapa paparan," kata Anwar seperti dilansir dari laman Muhammadiyah, Senin (30/5/2022).

Saat itu, lanjut Anwar, mereka merumuskan pandangan Buya Syafii tentang politik dan pendekatan Islam yang sederhana. Salah satunya yang dapat dilakukan melalui pendekatan-pendekatan budaya setempat dan tradisi dari masyarakat itu sendiri.

Dari kesempatan itu, dia mengakui bahwa Buya Syafii menguasai konsep universalitas Islam dalam semangat rahmatan lil ‘alamin yang mampu diterjemahkan dalam tantangan dan tuntutan zaman dan budaya setempat.

Anwr juga mengaku kagum dengan intelektualitas Buya Syafii dan pengetahuan tentang masyarakat Indonesia dan Islam yang diolah dengan baik.

Di Malaysia, Buya Syafii cukup dikenali karena sempat bertugas sebagai Dosen Senior di Universitas Kebangsaan Malaysia periode 1990-1994.

"Saya sendiri beruntung mengenali beliau, mendapat imbauan dan limpahan ilmu dan pengalaman oleh beliau," ujar Anwar.

 

2 dari 4 halaman

Sosok Lembut Namun Tegas

Selain itu, Anwar mengaku masih ingat betapa Buya Syafii yang dikenal sebagai sosok yang sangat lembut kerap pula bersikap tegas dan keras.

Terutama, jika membahas hal-hal yang melibatkan isu pemerintah dan tata kelola pemerintahan.

Atas kepergian Buya, Anwar turut menyampaikan ungkapan duka cita kepada keluarga dan rekan-rekan, sahabat, handai umat dan rekan-rekan (agama) lain.

Sebab, Buya senantiasa menekankan keragaman, kemajemukan dan pluralitas masyarakat di Indonesia.

 

3 dari 4 halaman

Tokoh Muslim yang Sangat Bijak dan Moderat

Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto menyampaikan langsung ucapan duka cita atas wafatnya mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif. Prabowo menyebut Buya Syafii sebagai tokoh muslim yang sangat bijak, rasional, dan moderat.

"Saya atas nama pribadi dan atas nama seluruh keluarga besar Partai Gerindra menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Prof Dr H Syafii Maarif," kata Prabowo melalui sebuah video, Minggu (29/5/2022).

"Seorang tokoh bangsa, seorang tokoh pendidikan, seorang tokoh muslim Indonesia yang saya kenal pribadi sebagai seorang tokoh yang sangat bijak, arif, sangat santun, sangat rasional, sangat berilmu, dan sangat moderat," sambungnya.

Menurut Prabowo, kepergian Buya Syafii membuat masyarakat Indonesia merasa kehilangan. Pasalnya, Buya Syafii merupakan salah satu putra terbaik bangsa.

"Kita bangsa Indonesia, rakyat Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaik," ucap Menteri Pertahanan (Menhan) RI ini.

 

4 dari 4 halaman

Teladan yang Mencerdaskan Bangsa

Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Gomar Gultom mengatakan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Ahmad Syafii Maarif atau karib dikenal Buya Syafii Maarif sebagai teladan yang mencerdaskan bangsa.

"Kita semua kehilangan Safii Maarif, panggilan akrab Buya Safii, yang bukan hanya seorang tokoh pluralis dan nasionalis, tetapi lebih merupakan guru dan bapak bangsa, yang banyak menyumbang gagasan untuk mencerdaskan bangsa," kata Gomar dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Antara, di Jakarta, Jumat, 27 Mei 2022.

Gomar menuturkan Buya Syafii Maarif sebagai sosok yang sangat dekat dengan semua kalangan dan patut menjadi pola teladan bagi semua pemimpin agama di Indonesia. Keteladanannya yang sangat sederhana dan menolak berbagai bentuk fasilitasi perlu ditiru.

"Dia (Buya Syafii Maarif) menolak tawaran pengobatan di Jakarta, baik dari Ibu Megawati maupun dari Presiden RI, karena merasa lebih sreg dirawat di rumah sendiri di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta," ujarnya.