Sukses

Cerita Dokter Komang Harus Bersabar saat Screening Corona karena Pasien Tak Jujur

Liputan6.com, Semarang - Banyak cerita suka dan duka dari petugas medis selama bertugas di tengah pandemi Covid-19 akibat virus Corona. Mereka merupakan garda terdepan dalam screening dan penanganan pasien terkait virus Corona.

Dokter Komang Jananuraga salah satunya. Dia mengisahkan hari-hari yang dilaluinya selama menangani pasien yang datang ke Rumah Sakit William Boots Semarang karena diduga terinfeksi virus Corona asal Wuhan, China tersebut.

Beberapa kali dia menemukan pasien tidak jujur dengan kondisinya. Hal ini menjadi hambatan untuk para dokter dalam mengambil langkah selanjutnya.

Menurut dia, beberapa pasien mengaku hanya mengalami gejala batuk dan pilek saat ditanya keluhan yang dirasakan. Mereka juga mengaku tidak pernah merasakan sesak napas.

"Itu yang membuat kami ekstra hati-hati mendiagnosa pasien. Meski begitu kami tetap konsultasikan dengan dokter spesialis," kata Komang Jananuraga saat berbagi cerita dengan awak media, Rabu (25/3/2020).

Komang sehari-hari bertugas di ruangan IGD, di mana penanganan awal pasien ada di tangannya. Setiap pasien datang, dia melakukan screening dengan cara tatap muka. Terakhir, dia mendapati pasien masuk kategori dalam pengawasan atau PDP.

"Kita tangani langsung diisolasi sebab gejalanya sama. Dari hasil tracking pasien tidak pernah bepergian ke luar kota saja bisa tertular virus Corona Covid-19," ungkap Komang.

Tetapi ada pula kasus sebaliknya. Pernah, tutur Komang, seorang pasien masuk dalam kategori PDP melakukan pemeriksaan diri karena mengalami demam 38 derajat celcius. Usai pemeriksaan, pasien itu langsung masuk kategori pengawasan.

"Jadi cepat banget statusnya berubah. Ada dugaan, dia kena virus dari local transmission, sebab kota Semarang sendiri sudah masuk zona bahaya penularan virus tersebut," tutur Komang.

2 dari 3 halaman

Susun Siasat

Mengingat jumlah kasus di tingkat nasional terus bertambah, dia berharap Pemkot Semarang mempercepat tes Covid-19 secara massal. Sebab saat ini, penularan virus Corona tidak cuma terjadi pada warga yang bepergian keluar kota melainkan sudah menjalar melalui local transmission.

"Kami minta pemerintah daerah untuk segera menggelar tes masal virus Corona. Dengan Rapid tes nantinya hasil seorang menunjukkan positif, lebih memudahkan tim medis menangani. Tahapan tes massal adalah kunci dari penanggulangan kasus ini," jelasnya.

Menurut dia, penularan virus Corona justru lebih berbahaya jika sudah masuk fase kedua dengan kondisi pasien mengalami pneumonia. "Sedangkan fase kedua rata-rata kerap terjadi pada para lansia dan anak-anak," tuturnya.

Sementara, baju Hamzat sebagai alat pelindung diri kian menipis karena semakin banyak pasien yang ditangani.

"Saat ini hanya punya lima baju Hazmat di IGD, dan enam di ruang ICU. Kita tentunya nunggu bantuan dari pemerintah juga untuk alat pelindung diri, soalnya penting," jelasnya.

Pihak rumah sakit lini ketiga penanganan kasus Corona ini juga kewalahan ketika menangani pasien karena kehabisan alat Virus Transport Media (VTM) untuk mengecek hasil swab tenggorokan pasien.

"Alat VTM kita tidak punya. Sedangkan sehari yang piket tiga shif dengan persediaan baju hazmat yang minim tidak cukup buat seminggu," terangnya.

Untuk menyiasati soal alat pelindung diri, pihaknya memakai baju bedah agar tim medis bekerja tetap aman dari virus yang sudah merebak.

"Kita pakai baju bedah lengkap dengan sepatu boot dan harus dicuci lagi kalau mau dipakai. Itu memang tidak standar tapi minimal bisa digunakan ketimbang tidak ada sama sekali," ungkap Komang.

 

Reporter: Danny Adriadhi Utama

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cegah Penyebaran Corona Covid-19, Kerumunan Massa Ini Bakal Dibubarkan Polri
Artikel Selanjutnya
Persekutuan Gereja Indonesia Berbelasungkawa Atas Wafatnya Ibunda Jokowi