Sukses

HEADLINE: Partai Gelora Besutan Anis Matta Cs, Sekadar Barisan Sakit Hati PKS?

Liputan6.com, Jakarta - Setelah sekian lama tak muncul, Anis Matta terlihat bersama beberapa eks kader PKS. Mengenakan kemeja bergaris, terlihat ia berdiri disamping Fahri Hamzah.  Mahfudz Siddiq kemudian ikut mendekat.

Para mantan pejabat teras PKS itu berfoto bersama usai mengurus akta notaris pendirian Partai Gelora Indonesia. Senyum semringah terlihat di wajah para tokoh tersebut.

Suasana itu terekam dalam foto yang diunggah di akun twitter Fahri Hamzah pada 4 November 2019. Di captionnya, Fahri berharap proses ini berjalan lancar.

Dalam strukturnya, partai berlambang air bergelombang ini dinakhodai Anis Matta dengan wakilnya Fahri Hamzah. Sedangkan untuk Sekretaris dipegang Mahfud Siddiq dan Bendahara Achmad Riyaldi.

Menurut Anis Matta, latar belakang berdirinya partai ini merupakan hasil pergulatan pemikiran dan politikya selama 20 tahun terakhir. Dari situ, diambil kesimpulan perlu ada kekuatan politik baru yang membawa narasi bangsa dan menjadi solidarity maker.

Anis menjelaskan alasan nama Gelora lebih dipilih ketimbang Garbi, yang sebelumnya santer disebut bakal menjadi partai. Pemilihan nama itu merupakan hasil riset pada 2008-2009.

"Jadi Garbi itu gerakan pemikirannya. Satu pemikiran tidak bisa memberikan kekuatan perubahan kalau tidak dilanjutkan menjadi gerakan politik, nah gerakan politiknya ini Gelora," ujar Anis saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Infografis Partai Gelora Siap Tandingi PKS? (Liputan6.com/Triyasni)

Dalam menjalankan roda partai, Anis menegaskan tak akan berkiblat pada PKS. Partai Gelora akan merumuskan sistem pengkaderan teranyar yang berorientasi pada model Indonesia baru. Nantinya, akan didirikan akademi manusia Indonesia yang pendekatannya pada pelatihan.

"Ide ini berhubungan dengan gagasan dan agenda kita di bidang pendidikan, kaitannya dengan pendidikan nasional," ucap dia.

Terkait konflik di PKS, Anis tidak menyangkal kondisi itu ikut serta dalam mempercepat lahirnya Partai Gelora. Karena itu, wajar jika pendiri Partai Gelora berasal dari eks kader PKS ditambah beberapa unsur dari luar.

Sakit hati itu, ungkap Anis, memang nyata adanya. Penyebab konflik berasal dari berbagai sisi. Mulai yang berhubungan dengan sistem maupun ide-ide.

"Kami sendiri memutuskan untuk melupakan yang sudah berlalu biarlah berlalu, sekarang kita fokus yang masa akan datang, tapi saya tak menafikan adanya konflik itu," ucap Anis.

"Termasuk Pak Fahri juga, ini fakta yang tidak bisa kita ingkari. Tapi kami tidak bekerja dengan latar sakit hati," imbuh dia.

Pendiri Garbi Anis Matta saat berbicara dalam acara diskusi milenial di kawasan Jakarta, Minggu (14/7/2019). Anis mengapresiasi Sandiaga yang bisa move on dan tetap berjuang setelah kalah dalam pemilu. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Ia yakin, Partai Gelora akan terus berkembang dan mampu bertarung dalam kancah perpolitikan nasional. Kendati persiapan logistik bukan menjadi kendala nomor wahid.

Karena menurut Anis, selama 20 tahun pengalamannya dalam perpolitikan nasional menunjukkan bahwa sumber daya bakal mengikuti narasi. Karenanya banyak partai kaya logistik, namun tetap tidak lolos parlemen.

"Sepanjang politik merupakan pergulatan sebagai politisi dan persoalan hidup sehari-hari masyarakat bisa dibawa ke dalam agenda kerja, itu akan mendapat dukungan logistik yang baik," ucap dia.

Terkait dengan tokoh-tokoh lain yang bakal bergabung, selain Deddy Mizwar, Ia enggan mengungkapnya. Anis hanya mengatakan,"Insyallah nanti kalau sudah pasti dan sudah waktunya, insyallah kita siarkan ke publik".

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menuturkan tentang posisi Gelora yang dibesutnya dengan PKS jika nantinya gelora menjadi partai. Menurutnya, Partai Gelora tidak ingin seperti yang diderita oleh PKS.

"Kapasitas kepemimpinan yang seperti tak menjawab pertanyaan yang ada. Penyakit ini diderita PKS tentunya, karena itu kita mengajukan kritik. Karena kemampuan generasi tua yang sekarang memimpin itu sepertinya sudah tak sanggup menghadapi realitas baru sejarah kita ini," ujar dia. 

Fahri pun tidak menampik akan banyak kader PKS yang ikut ke dalam gerbong Partai Gelora. Menurut dia, ini wajar lantaran dari kekecewaan dalam diri para kader terhadap kepemimpinan PKS.

"Khusus PKS,  karena ada semacam kekecewaan yang masif pada kader oleh kepemimpinan yang memang tidak kredibel, saya kira emang akan banyak yang akhirnya ikut bergabung. itu sebenarnya rasional saja, dari yang terjadi cukup lama. Sejak konflk yang ada menguat di dalam partai," ucap dia.

Fahri mengungkapkan, selain kader banyak juga tokoh-tokoh yang ingin membesarkan Partai Gelora ini. Salah satunya adalah Deddy Mizwar.

"Pokoknya nanti banyak pengurus, ada tokoh-tokoh lain akan masuk, terus terang kami enggak mau gembar gembor dulu, ini partai kita mulai low profile, yang penting penguatan struktur sampai ke daerah, wilayah kita perkuat, setelah acara itu selesai, pengumuman pengurus selesai," jelas dia.

 

2 dari 4 halaman

Politik Jangan Baper

Menanggapi terbentuknya Partai Gelora, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mendukung siapa pun yang akan membangun negeri ini. Menurutnya, membangun partai merupakan tujuan yang mulia.

"Kita tidak fokus pada apa yang terjadi pada partai lain, tapi fokus membangun kekuatan kadernya. Pengalaman 20 tahun, alhamdulillah kami kian solid dan kokoh. PKS selalu diajarkan husnuzhan (sangka baik)," ucap Mardani saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (12/11/2019).

PKS, tegas dia, fokus untuk membangun partai yang memiliki kader militan dan sikap politik yang konsisten. Untuk itu, PKS tak khawatir kader terbaiknya bakal loncat pagar ke Partai besutan Anis Matta Cs tersebut.

"Semua tergantung manajemen partai. Kami akan selalu rendah hati dan mawas diri," ujar dia.

Mardani juga menanggapi pernyataan Anis yang menyebut konflik internal PKS memberikan sumbangsih terbentuknya Partai Gelora. Dia menegaskan, bahwa konflik internal itu tidak benar adanya.

"Tidak ada. Di politik jangan baper," ucap Mardani.

Sementara itu, Pengamat Politik Adi Prayitno menilai fenomena ini baru pertama kali terjadi dalam perpolitikan nasional. Terlebih PKS dikenal sebagai partai kader.

"Ini pertama kalinya, sempalan PKS bikin partai baru karena konflik internal. Baru dalam sejarah partai yang selama ini mengklaim partai kader," ujar Adi saat dihubungi Liputa6.com, Selasa (12/11/2019).

Dia menambahkan, ini tentu penjadi pertaruhan luar biasa bagi pendiri Partai Gelora untuk bisa eksis di tengah persaingan parpol yang kian sengit. Namun ia mengungkapkan, agar partai ini kian jaya, setidaknya ada empat modal penting yang harus dimiliki.

"Pertama figur kunci yang menjadi magnet politik dan bisa menjangkau seluruh lapisan rakyat. Kedua, logistik memadai karena potret pemilih yang pragmatis atau 'mata duitan'," papar dia.

Ketiga, lanjut Adi, jaringan yang tersebar di lapisan bawah penjuru Tanah Air. dan terakhir, branding dan positioning partai yang apik agar mudah diterima pemilih.

"Sebagai pendatang baru, Partai Gelora harus memperluas sasaran ceruk pemilihnya. Tak bisa melulu hanya andalkan segmen pemilih Islam dan sempalan pemilih PKS yang relatif masih solid ke PKS," ujar dia.

Jika bicara peluang, lanjut dia, tentu Partai Gelora berpotensi dapat berkembang. Ini lantaran orang yang merasa menjadi bagian partai tertentu sangat rendah berada di kisaran angka 30 persen.

"Itu artinya, ada 70 persen pemilih yang tak berafiliasi dengan parpol tertentu. Inilah ceruk pemilih yang mesti direbut Gelora," ucap dia.

Dan yang tak kalah penting, lanjut Adi, untuk memperluas ceruk pemilih Partai Gelora, Anis Matta dan Fahri harus bisa menghapus bekas PKS di wajah mereka yg begitu lekat.

"Itu penting sebagai upaya membaur dengan komunitas pemilih yang lebih plural," demikian Adi Prayitno.

 

3 dari 4 halaman

Awal Konflik Internal PKS

Masalah soliditas dalam tubuh PKS sudah tercium sejak lama. Perbedaan pandangan terhadap orientasi partai melahirkan faksi. Mereka saling curiga dan mencoba membuang kader dengan cap tidak taat aturan.

Partai berlambang padi dan kapas ini terbelah jadi dua faksi. Faksi Keadilan dan Faksi Sejahtera. Faksi Keadilan diisi banyak senior di PKS. Bagian dari kelompok konservatif ini di antaranya mantan Ketua Majelis Syuro Hilmi Aminuddin, mantan anggota BIN Suripto, Ketua Majelis Syuro Salim Segaf Al-Jufri, dan Presiden PKS, Sohibul Iman.

Sedangkan faksi Sejahtera diisi para kader muda yang dianggap Faksi Keadilan sebagai kelompok liberal. Mereka adalah mantan Presiden PKS Anis Matta, Fahri Hamzah, Mahfud Siddiq dan para loyalis lainnya.

Anis Matta sejak lama memiliki konsep baru dalam berorganisasi. Konsep itu ditentang faksi keadilan. Padahal dia ingin PKS bisa menyesuaikan diri dengan model demokrasi negara. Sementara faksi seberang ingin mempertahankan konsep awal berdirinya partai.

Tahun 2015, Anis lengser sebagai Presiden PKS. Lalu digantikan Sohibul Iman dengan ditunjuk langsung Ketua Dewan Majelis Syuro Habib Salim Segaf. Upaya bersih-bersih pengurus loyalis Anis pun dimulai.

Awalnya dari adanya pemecatan sepihak dilakukan DPP PKS terhadap pengurus wilayah. Salah satunya DPW Denpasar Bali. Pengurus wilayah dipecat lewat pesan singkat tanpa menjalani prosedural. Peristiwa ini menjadi pemicu. Banyak pengurus PKS lain akhirnya menanggalkan atribut kebesaran partai.

"Pemecatan kader dan pengurus PKS di Bali karena dianggap oleh DPP loyalis (sebagai) Anis Matta," kata politisi PKS Mahfud Siddiq kepada merdeka.com. Mahfud mengaku belum tahu alasan PKS mencopot pengurus di Denpasar.

PKS mulai menekan tombol konflik, kata Mahfud menganalogikan masalah ini. Sebab banyak kader berada di lingkaran Anis Matta mulai dibersihkan. Bahkan perkara memberikan tanda suka (like) tiap unggahan media sosial Anis Matta maupun Fahri Hamzah, bisa ditandai sampai dipecat. Tak jarang mereka merasa dipersekusi partai sendiri.

Mahfud menjelaskan dalam organisasi perilaku otoriter tak bisa selalu dibenarkan. Harus ada aspek rasionalitas dalam menentukan kebijakan. Terlebih Indonesia berkonsep negara demokrasi.

Saat rasionalitas ditanggalkan dalam pengambilan keputusan, akan muncul perlawanan atas putusan. Apalagi ada tuduhan sebagai loyalis tanpa diiringi konfirmasi. Akhirnya kader melakukan perlawanan yang sebenarnya memasuki tahap pembelahan.

Mantan politisi PKS Bali, Achmad Khanafi, membenarkan bahwa alasan pemecatan tidak jelas. Mereka dipecat dengan alasan sebagai loyalis Anis Matta. Pemecatan itu lantas mendorong kader partai ikut bereaksi. Apalagi kader yang dipecat merupakan mesin politik. Memiliki basis massa. Tak pelak, kader akar rumput akan mengikuti ke mana sang pemimpin bermuara. Mereka memutuskan untuk meninggalkan PKS.

Termasuk dengan Khanafi. Dia bahkan dipecat setahun sebelumnya. Pemecatannya dipicu karena memfasilitasi Fahri Hamzah saat datang ke Bali. Dia mengundang Fahri dan Ahmad Rosali Lubis dalam sebuah diskusi. Usai acara berlangsung, esok harinya, dia dipecat. "Setelah acara itu (Saya) dipecat," kata Khanafi, 18 Februari 2019.

Tak hanya Khanafi, Mantan Ketua DPW PKS Situbondo, Imam juga mengalami pemecatan sepihak. Imam dicopot dari jabatannya lantaran dianggap berada di lingkaran Anis Matta dan Fahri Hamzah. Berbeda dengan Khanafi yang memang mengenal Fahri, Imam bahkan tidak menjalin komunikasi dengan Anis maupun Fahri saat itu.

Imam tak bisa meminta penjelasan lebih rinci. Semua terkendala karena kultur partai. Usaha untuk datang ke DPP pusat pun telah dilakukan. Namun, dia tak pernah mendapat penjelasan. "Kita yang dikeluarkan paksa ini dituduh bagian dari Anis Matta, padahal itu tidak benar. Kita ini hanya semata-mata merespons apa yang terjadi di mana tempat kita tinggal," cerita Imam.

Akibat keputusan partai, dia gagal mencalonkan diri sebagai caleg DPRD untuk Kabupaten Situbondo. Namanya dicoret sejak masih dalam masa penjaringan. Tak hanya itu, dari 45 kader mencalonkan diri jadi caleg, kini tersisa 29 orang. Ada 16 caleg kader partai memutuskan mundur dari pencalonan setelah nama Imam dicoret dalam penjaringan.

Gelombang pemecatan orang-orang Anis Matta terus dilakukan. Fahri Hamzah pun ikut jadi korban. Wakil Ketua DPR RI ini juga dipecat DPP PKS.

Mendapat perlakuan tak menyenangkan, Fahri lantas melakukan perlawanan. Berperang di meja hijau melawan pengurus DPP PKS. Hingga akhirnya putusan pengadilan menetapkan pemecatan Fahri Hamzah gugur. Bahkan mewajibkan partai bayar kerugian Rp 30 miliar.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Menarik Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Sejumlah Kader Pindah ke Partai Gelora, PKS: Silakan Saja
Artikel Selanjutnya
Fahri Hamzah: Petinggi PKS Jangan Salahkan Orang Lain Jika Partai Pecah