Bantu Masyarakat Pesisir Selatan Blitar, UPN Veteran Jatim Luncurkan Program Sinergi Agromaritim

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT) meluncurkan program Sinergi Agromaritim untuk Pengembangan Produksi Garam Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Selatan Kabupaten Blitar.

Diperbarui 17 Agustus 2025, 23:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT) bersama Kelompok Usaha Bersama (KUB) Fajar Samudra di Dusun Peh Pulo, Desa Sumbersih, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Jawa timur (Jatim) meluncurkan program Sinergi Agromaritim untuk Pengembangan Produksi Garam Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Selatan Kabupaten Blitar.

"Program ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian masyarakat yang mengintegrasikan inovasi teknologi, prinsip ekonomi biru, dan strategi penguatan pemasaran digital," ujar Ketua Tim Pengabdian UPNVJT Wiwik Handayani, melalui keterangan tertulis, Sabtu (16/8/2025).

Menurut dia, KUB Fajar Samudra, yang dipimpin oleh Sukani sebagai Ketua Kelompok dan Endra sebagai pelaksana produksi, telah menjadi pionir produksi garam berkualitas di kawasan ini.

"Bagi masyarakat pesisir, usaha garam merupakan sumber penghidupan alternatif saat musim baratan atau paceklik, ketika nelayan tidak dapat melaut. Program ini hadir untuk memastikan masyarakat memiliki sumber penghasilan berkelanjutan di tengah tantangan musim," papar Wiwik.

Program ini dipimpin oleh Wiwik dengan dukungan tim lintas disiplin dari UPNVJT dan Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Lamongan (ITBADLA).

Kegiatan berlangsung sejak Juni 2025 hingga akhir tahun, dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikti Saintek RI).

"Kabupaten Blitar, khususnya kawasan Pantai Peh Pulo yang dikenal sebagai 'Raja Ampat'-nya Jawa Timur, memiliki garis pantai sepanjang 45 km dengan potensi produksi garam mencapai 17–25 ton per tahun," terang Wiwik.

 

Belum Tergarap Maksimal

Namun, lanjut Wiwik, potensi besar ini belum tergarap optimal akibat keterbatasan sarana produksi, standar kualitas, serta strategi pemasaran yang masih sederhana.

"Melalui program ini, UPNVJT dan ITBADLA hadir untuk mendorong Blitar Selatan menjadi role model produksi garam modern, berkualitas, dan berdaya saing tinggi," ucap dia.

"Dengan pendekatan Sinergi Agromaritim, masyarakat dilatih tidak hanya memproduksi garam, tetapi juga mengembangkan produk turunan bernilai tambah seperti rumput laut yang dapat dibudidayakan bersamaan dengan proses produksi garam," sambung Wiwik.

Dia menjelaskan, kegiatan lainnya mencakup perbaikan infrastruktur produksi, penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), pengembangan produk inovatif seperti Garam Ikan (White Salt, Blue Salt, Yellow Salt), serta pemanfaatan limbah bittern menjadi pupuk organik.

"Program ini juga memperkuat daya saing produk melalui pemasaran digital, desain kemasan, logo baru, dan jaringan distribusi lintas daerah. Kegiatan pengabdian ini merupakan bentuk kepedulian perguruan tinggi terhadap permasalahan sosial masyarakat, khususnya nelayan yang sering kehilangan pendapatan saat musim paceklik karena tidak bisa melaut," ucap Wiwik.

"Melalui program ini, kami ingin membantu masyarakat Peh Pulo menciptakan pekerjaan alternatif yang berkelanjutan. Harapan kami, sinergi antara kampus dan masyarakat dapat menjadikan Pantai Peh Pulo bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai ikon produksi garam ramah lingkungan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani pesisir sekaligus mendukung swasembada garam nasional," sambung dia.

Wiwik mengatakan, dengan kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah daerah, program ini diharapkan menjadikan Pantai Peh Pulo tidak hanya sebagai destinasi wisata bahari eksotis, tetapi juga role model produksi garam modern, ramah lingkungan, dan berdaya saing tinggi.

"Lebih jauh, inisiatif ini diproyeksikan memperkuat kemandirian bangsa melalui swasembada garam sekaligus mendorong pengembangan ekonomi biru di wilayah pesisir selatan Jawa Timur," tandas Wiwik.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6