Sukses

5 Aksi Terorisme yang Mengguncang Tanah Air Jelang Ramadan

Liputan6.com, Jakarta - Mei 2018 bangsa ini kembali terluka dan menangis. Serangan teroris kembali mengguncang Tanah Air. Puluhan korban tewas dan terluka berjatuhan.

Aksi kekerasan yang dilakukan para teroris sadis dan tak beradab. Mereka bahkan tak segan-segan melukai korbannya dengan keji.

Rentetan panjang aksi para teroris bermula dari Markas Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat. Screaeing makanan yang dilakukan petugas diduga pemciu kerusuhan di Lapas napi terorisme itu pecah. Lima polisi gugur dan satu napi tewas dalam kerusuhan tersebut.Berikut ini 5 aksi terorisme yang menggoncang Tanah Air jelang Ramadan:

1. Mako Brimob Depok

Kerusuhan di Rutan Teroris Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok terjadi, Selasa malam, 8 Mei 2018.

Kala itu, sejumlah napi di Blok C dan B teroris mengamuk. Pintu dan dinding sel tahanan Mako Brimob dijebol. Petugas yang sedang berjaga dibuat kalang kabut oleh aksi sporadis tersebut.

Lima anggota Polri tewas akibat keganasan para narapidana terorisme, Selsa malam, sekitar pukul 19.00 WIB. Lima anggota Polri tersebut, yakni Iptu Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji, Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setiadi, Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli dan Briptu Luar Biasa Anumerta Fandy Nugroho,

Napi teroris mulai berulah lantaran dipicu soal makanan yang dikirim dari pihak keluarganya. Napi teroris bernama Wawan menjadi provokator kerusuhan berdarah itu.

Sempat terjadi perlawanan sengit antara aparat dengan para teroris. Senjata yang dirampas dari para sandera digunakan untuk melawan. Di dalam lapas, mereka pun merakit bom dan senjata.

Akhirnya kerusuhan bisa dibendung Tim Densus Antiteror bekerja sama dengan polisi. Sebanyak 145 narapidana kasus terorisme yang dipindah dari Rumah Tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, tiba di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

 

1 dari 5 halaman

2. Bom Gereja Surabaya

Lima hari pascapenyerangan ke Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok, bom meledak di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur. Insiden itu terjadi, Minggu pagi, 13 Mei 2018.

Ketiga gereja itu adalah Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno, dan Gereja Kristen Indonesia (GKI)di Jalan Diponegoro.

Satu keluarga yang menjadi otak penyerangan pun tewas di tempat, berikut para aparat dan warga sipil. Total ada 18 orang meninggal dunia, termasuk pelaku bom bunuh diri, sementara 40 lainnya terluka.

Siapakah satu keluarga pengebom tiga gereja di Surabaya?

Dita Supriyanto (ayah) adalah dalang dari aksi bom bunuh diri. Dia menjadikan putra-putrinya sebagai alat untuk melakukan tindak kekerasan.

Minggu pagi,pukul 07.53 WIB, mobil avanza berisi bom yang dibawa Dita meledak diGereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Sebelumnya, ayah dari empat orang anak ini, menurunkan istri dan dua putrinya yang masih di bawah umur di Gereja Gereja Kristen Indonesia, Jalan Diponegoro.Pada pukul 07.15 WIB, bom yang dililitkan Puji Kuswati diperut dan dipaha anaknya, meledak di parkiran motor.

Sementara itu, bom pertama meledak di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel. Dua anak laki-laki yang memaksa masuk ke halaman gereja dengan motor, meledakkan diri, pada pukul 06.30 WIB. Bom dipangku di atas motor.

Kini yang tersisa dari aksi teror bom di tiga gereja di SUrabaya, hanya duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

2 dari 5 halaman

3. Rusunawa Wonocolo Sidoarjo

Belum habis suasana duka menyelimuti para keluarga korban bom bunuh diri di tiga gereja di Surabya, Minggu malam, 13 Mei 2018, ledakan kembali terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur.

Tepatnya di Rusunawa Winocolo, lantai 5 kamar No. B2, Sekitar pukul 21.00 WIB.

Kamar lantai 5 nomor 2 itu dihuni oleh satu keluarga. Yaitu Anton Febianto (47) selaku kepala rumah tangga atau ayah, Puspita Sari (47) selaku istri, Hilda (17) anak perempuan pertama, Ainur (15) anak laki-laki satu-satunya, Faiza (11) anak perempuan, dan Garida (10) anak perempuan.

Polisi dan Tim Densus 88 Anti Teror pun beregerak cepat dengan menggerebek kediaman Anton. Suasana rusun saat itu mencekam dan para penghuni memilih untuk mengungsi.

Saat bom pertama meledak, istri dan anak pertama meninggal di tempat. Sementara Anton masih hidup sambil masih memegang tombol pemicu bom, meski dalam kondisi yang terluka parah.

"Pada ledakan pertama, istri dan anak perempuan pertamanya meninggal di tempat, sedangkan Anton masih hidup tetapi masih memegang bom rakitan," tutur Kepala Polda Jatim Irjen Machfud Arifin.

3 dari 5 halaman

4. Polrestbes Surabaya

Sehari pasca-aksi teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Senin pagi, pukul 08.50 WIB, giliran Mapolrestabes Surabaya diserang para teroris.

Aksi biadab tersebut sempat terekam CCTV. Kejadian tepat di depan gerbang penjagaan Polrestabes.

Saat itu sebuah minibus hendak memasuki gerbang penjagaan untuk dilakukan pemeriksaan oleh tiga petugas jaga dan provost.

Saat tengah diperiksa, dua motor mencoba menyalip. Dalam hitungan menit, salah satu pengendara yang membonceng seorang perempuan meledakan diri. Beberapa polisi menjadi korban dalam aksi bom bunuh diri tersebut.

"Dipastikan (serang) kendaraan roda dua, membonceng seorang wanita," kata Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera, Senin (14/5/2018)

Briptu Dimas Indra masih ingat detik-detik ledakan bom Mapolrestabes Surabaya. Senin pagi itu, dia tengah berjaga di pintu gerbang Polrestabes sambil membawa senjata laras panjang.

Dimas merasakan kejanggalan sebelum dua pelaku bom bunuh diri tiba di sana. Dia menuturkan anjing K-9 yang ikut menjaga gerbang terus menggonggong,

4 dari 5 halaman

5. Mapolda Riau Diserang

Dari Surabaya, aksi terorisme terjadi di Pekanbaru, Riau. Aparat kembali menjadi target. Kini giliran Markas Polda Riau yang diserang oleh kelompok teroris, Rabu pagi, sekitar pukul 09.00 WIB.

Satu unit mobil Avanza warna putih menerobos masuk melalui gerbang sebelah utara. Setelah menabrak pagar pintu masuk Mapolda Riau, dua orang yang mengendarai mobil keluar. Dengan mengunakan samurai, mereka menyerang polisi yang berada di pos jaga.

Dua polisi terluka akibat sabetan samurai dalam insiden tersebut. Sementara seorang personel lainnya meninggal dunia atas nama Ipda Auzar.

Korban meninggal setelah berusaha menghentikan laju kendaraan teroris saat melaju dan berusaha melakukan penyerangan.

Ada empat teroris yang menyerang Mapolda Riau pagi tadi. Namun, berkat kesigapan petugas, mereka berhasil dilumpuhkan.

 

Saksikan video pilihan selengkapnya di bawah ini: 

Artikel Selanjutnya
Polisi: 4 Teroris Penyerang Mapolda Riau Tewas Ditembak
Artikel Selanjutnya
Polda Riau Diserang Teroris, 1 Orang Tewas