Sukses

BMKG Prediksi Kemarau 2017 Berakhir November

Liputan6.com, Jakarta - Musim kemarau berkepanjangan mulai berdampak pada kekeringan di beberapa wilayah di Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi ini akan terus terjadi sampai akhir September. Hujan baru akan terjadi pada Oktober dan November.

"Maka prediksinya musim hujan di daerah tersebut akan mulai sekitar bulan Oktober atau November. Sehingga diharapkan kekeringan tersebut akan berakhir bulan November," kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya di Kompleks IStana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (12/9/2017).

Andi menjelaskan, daerah yang mengalami kekeringan di antaranya Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Wilayah ini terhitung sudah 60 hari tidak juga diguyur hujan. Bahkan untuk NTT sudah 100 hari tidak hujan.

Kemarau kali ini memang bukan yang terparah. BMKG mencatat kemarau 2017 lebih basah dari 2015. Tapi, dibandingkan dengan 2016, kemarau 2017 lebih kering.

BMKG juga akan terus memberikan informasi kepada setiap provinsi yang berpotensi mengalami kekeringan. Sehingga pemerintah daerah bersama kementerian terkait bisa langsung melakukan langkah antisipatif.

Andi menjelaskan, langkah-langkah antisipatif itu sudah disampaikan para gubernur dan menteri terkait kepada Presiden Joko Widodo pada rapat terbatas mengenai bencana kekeringan.

BMKG memang hanya berwenang menyampaikan prakiraan cuaca dan dampak yang akan ditimbulkan. Andi berharap, hujan bisa turun secara bertahap mulai awal November.

"Diharapkan November sudah selesai. Terutama Jabar mungkin lebih dulu datang musim hujannya dibandingkan NTT. NTT mungkin akhir November atau awal Desember baru datang musim hujan merata," pungkas Andi.

Saksikan tayang video menarik berikut ini:

2 dari 2 halaman

Kekeringan di Cilacap

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Jawa Tengah nyaris kehabisan stok bantuan air bersih untuk menanggulangi kekeringan seiring kemarau panjang tahun 2017 ini.

Hingga Minggu 10 September 2017 ini, 90 tangki bantuan air bersih telah didistribusikan ke 20 desa di 8 kecamatan. Padahal tahun ini BPBD hanya menganggarkan 100 tangki air lantaran memprediksi terjadi kemarau basah. Itu artinya, tinggal tersisa 10 tangki kapasitas 5.000 liter untuk penanggulangan kekeringan.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Tri Komara Sidhy, mengatakan pihaknya memang hanya menyediakan 100 tangki air bersih lantaran memperkirakan bakal terjadi kemarau basah pada 2017.

Menilik kemarau basah 2016, kata Komara, tak ada satu pun desa di Cilacap yang mengalami krisis air bersih. Nyatanya, prediksi itu meleset. Sejak Agustus 2017 lalu, tak lagi turun hujan di daerah ini. Akibatnya, kekeringan meluas.