Sukses

4 'Wajah Baru' Polda Metro di Tangan Tito Karnavian

Liputan6.com, Jakarta - Ketika matahari mulai kembali ke peraduan, suasana riuh menggema di depan Gedung Balai Pertemuan Polda Metro Jaya (BPMJ). Irjen Tito Karnavian bersama istrinya yang mengenakan setelan merah muda khas Bhayangkari memasuki kompleks Mapolda Metro Jaya untuk pertama kalinya usai dilantik sebagai orang nomor 1 di Polda Metro Jaya.

Menggunakan mobil minibus dengan atap setengah terbuka, jenderal bintang 2 ini melemparkan senyuman dan menikmati kemeriahan pesta penyambutan dirinya. Hari itu Tito resmi menggantikan Irjen Unggung Cahyono yang sebelumnya menduduki kursi Metro Jaya 1.

Upacara lepas sambut Kapolda Metro Jaya ini berlangsung meriah. Beberapa personel kepolisian dengan seragam cokelat yang khas melengkapi penampilan mereka dengan pedang pora dan atribut seremonial lainnya. Sisanya berbaris dari depan Gedung BPMJ sampai ke Gedung Utama Polda Metro Jaya, tempat sang pemimpin berkantor.

Saat itu panggung acara berdiri berhiaskan bunga-bunga di sekeliling panggung. Adapun hiburan seperti atraksi tari dari anak-anak kecil berseragam polisi semakin melebarkan senyum Tito.

Peristiwa itu terjadi tepat 7 bulan lalu, Jumat petang, 12 Juni 2015. Rabu, 12 Januari 2016, usia kepemimpinan Tito di Polda Metro genap 7 bulan. Berdasarkan pantuan Liputan6.com, Tito melakukan 4 terobosan yang membawa perubahan atau 'wajah baru' selama lebih dari setengah tahun memegang tongkat komando Metro Jaya 1. Berikut ulasannya:

2 dari 5 halaman

Kartun Polisi

Gambar kartun polisi kecil dengan pose hormat dan mimik tersenyum dalam kotak neon saat ini menghiasi setiap kantor kepolisian. Kotak itu tersedia di tingkat pos kepolisian subsektor, kantor kepolisian sektor (polsek), kantor kepolisian resor (polres) dan tiap-tiap gedung direktorat di Mapolda Metro Jaya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Mohammad Iqbal mengatakan pemasangan neon boks polisi kecil merupakan produk pemikiran Kapolda Tito. Awal memimpin Polda Metro, Tito menjelaskan keinginannya untuk menciptakan citra baik institusi yang dipimpinnya di kalangan masyarakat. Ia pun mencetuskan ide dengan cara membuat ikon polisi kecil itu.

"Pak Tito hadir di sini pertengahan tahun, langsung mem-briefing semua jajaran bahwa saat ini Polda Metro Jaya ada ikon, brand. Beliau ingin kalau masyarakat Jakarta melihat brand, ikon polisi lucu yang itu, yang di neon boks, masyarakat Jakarta akan tahu, itu pasti Polda Metro Jaya," ujar Iqbal kepada Liputan6.com di ruangannya, Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (13/1/2016).

Iqbal menuturkan citra polisi yang diinginkan Kapolda adalah yang bersahabat, egaliter, tidak kaku, jauh dari kesan seram, tidak mempersulit laporan dan bergaul dengan masyarakat. "Itu ide pertama Pak Tito murni, orisinil. Itu langsung dipasang ke seluruh kantor polisi di wilayah Polda Metro Jaya tidak sampai seminggu," kata Iqbal.

Karena besar keinginan Kapolda Tito mengubah persepsi masyarakat yang buruk atas polisi, ia pun mendesain sendiri gambar polisi kecil tersebut.

"Desainnya dari Pak Tito langsung. Beliau kan salah satu andalan kepolisian, pemikir di kepolisian, ahli di kepolisian yang paham sekali tupoksi kepolisian, yaitu melayani, membantu, menolong masyarakat," kata Iqbal.

Mantan Kapolres Metro Jakarta Utara ini pun mengaku sejak dipasangnya ikon polisi kecil, masyarakat jadi tidak segan membuat laporan kepolisian manakala merasa tidak aman. Selain itu, ikon tersebut juga menularkan dampak positif terhadap perilaku aparat yang semakin terbuka, egaliter, dan bersahabat.

"Dampak dari brand itu terasa. Ada perbedaannya. Laporan polisi ke Polda semakin banyak. Mayarakat semakin percaya dengan Polda Metro Jaya yang semakin terbuka, egaliter, dan semakin menolong masyarakat," katanya.

"Brand dan logo tersebut bukan simbol, tapi menular kepada insan polisi di seluruh wilayah Polda Metro Jaya," ujar Iqbal.

3 dari 5 halaman

Rumah Aman Anak

Angka kekerasan terhadap anak meningkat di tahun 2015, baik yang dilakukan teman sebaya, orangtua maupun orang di sekeliling. Merespons fenomena tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Mohammad Iqba menjelaskan Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian ingin adanya sebuah tempat yang dijadikan pos pengamanan anak.

"Pak Kapolda mencetuskan Rumah Aman Anak (RAA) karena banyak tindak pidana anak dan beliau berpikir anak-anak itu calon penerus bangsa yang harus dilindungi. Lalu dia berpikir polisi kan dalam kurun waktu yang sama tidak bisa berada di mana-mana karena angka polisi dibanding masyarakat sangat sedikit," kata Iqbal.

Karena keterbatasan anggaran juga, polisi tidak dapat mendirikan bangunan khusus perlindungan anak. Oleh sebab itu, akhirnya muncul pemikiran untuk bekerja sama, menggandeng para tokoh warga untuk memberi rasa aman kepada anak-anak.

"Maka dari itu beliau mendesain rumah aman anak. Supaya kalau terjadi apa-apa, anak tersebut bisa ke lokasi itu. Bahwa di rumah itu aman dan ada orang-orang yang melindungi," kata Iqbal.

Iqbal menjelaskan ada hampir 1.000 RAA di 14 wilayah hukum Polda Metro Jaya saat ini. Ada yang di tingkat kelurahan, kecamatan, serta kotamadya. Untuk daerah rawan kekerasan anak, RAA dikondisikan agar dapat berada di tingkat RT/RW. Contohnya di kawasan Pasar Manggis, Jakarta Selatan.

"Contoh kasus ada di Jakarta Selatan, di daerah Pasar Manggis masyarakat sudah merespons (RAA). Tadinya di sana anak-anak berkelahi dan banyak yang jadi korban kekerasan. Saat ini beberapa bulan terakhir angkanya zero (nol)," ucap dia.

Menurut Kapolres Jakarta Selatan Kombes Wahyu Hadiningrat, tutur Iqbal, terkadang anak yang ketakutan lantaran berkelahi dengan teman sebaya atau ingin dipukul orangtuanya, melarikan diri ke RAA di Pasar Manggis. Rata-rata umur mereka yang sudah paham fungsi RAA berkisar 6-12 tahun.

"Ada anak-anak yang katakanlah akan ada upaya kekerasan, mereka lari ke Rumah Aman Anak. (Yang biasa ke RAA) anak-anak SD. Kadang orang tuanya mau memukul, sudah dia lari ke situ," kata Iqbal.

4 dari 5 halaman

Media Management Center (M2C)

Polda Metro Jaya memamerkan sistem baru yang dimiliki Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) pada 16 November 2015. Sistem berteknologi tinggi tersebut dapat menyortir berita serta menganalisis isu yang banyak menyita perhatian masyarakat.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Mohammad Iqbal, Kapolda Tito memahami pentingnya peranan media dalam hal membangun kedekatan antara polisi dengan masyarakat.

"Persepsi publik sangat dipengaruhi media. Polda Metro kerja maksimal, tapi kalau tidak disampaikan oleh media, masyarakat tidak paham. Makanya beliau menekankan mindset harus ada paham bahwa semuanya saat ini era informasi teknologi," ujar Iqbal.

Iqbal mengatakan saat mendapat penjelasan Tito tersebut, dirinya selaku Kabid Humas berkomitmen akan memaksimalkan fungsi kehumasan. Tak hanya dengan selalu banyak berbicara di depan media, tetapi juga mendorong seluruh pejabat untuk berkawan dan berbagi info dengan media.

"Saya sebagai Kabid Humas bukan spoke person saja. Tugas saya mem-branding direktur-direktur yang lain, kapolres dan lain-lain agar seluruh organisasi ini cepat menyampaikan ke media. Supaya masyarakat tahu kalau polisi cepat bergerak, bekerja. Dan masyarakat kenal siapa saja polisi-polisinya," kata Iqbal.

5 dari 5 halaman

Turn Back Crime

Polda Metro Jaya meminjam slogan Interpol, yaitu Turn Back Crime. Filosofi kata-kata itu sendiri berarti memutar balik kejahatan. Maksudnya jika dahulu masyarakat takut dengan penjahat, kini penjahat yang harus takut dengan masyarakat. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Mohammad Iqbal menyampaikan pesan Kapolda Tito kepada para pejabat utama Polda, yaitu memperjelas fungsi polisi sebagai pengayom, pelindung, dan pemberi garansi masyarakat.

"Nah, ketika pelaku-pelaku kejahatan tidak pernah terungkap dan satu lagi. ketika pelaku kejahatan tidak takut dengan reserse, dia akan semakin banyak. Kalau mereka tidak takut, kita lemah. Maka kita harus memutar balikan (turn back) kejahatan itu," Iqbal menjelaskan.

Iqbal juga menjelaskan alasan polisi menjual berbagai pernak-pernik serta pakaian bertuliskan Turn Back Crime, yakni agar masyarakat semakin dekat dan akrab dengan polisi. Ia pun melihat respon masyarakat sangat baik dengan larisnya produk-produk tersebut di setiap ecara Car Free Day (CFD).

"Bukan hanya polisi saja yang bangga memakai itu. Itu dijualbelikan karena Pak Tito ingin reserse itu ditakuti pelaku (kejahatan), tapi oleh masyarakat harus disayang, harus bersahabat. Sehingga bisa entertain (menghibur) masyarakat, bersahabat, to serve and to protect," Iqbal memungkasi.**