Sukses

Pengalaman Menegangkan Pendaki WNI Saat Selamat dari Gempa Nepal

Liputan6.com, Jakarta - Raut letih terpancar dari wajah Oliver Hancock, salah seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang selamat dari gempa dahsyat berkekuatan 7,9 skala richter (SR) yang meluluhlantakkan Nepal. Oliver tiba di Halim Perdanakusuma Jakarta bersama 25 WNI lainnya yang dievakuasi dari Nepal, Rabu 6 Mei 2015 pukul 19.50 WIB setelah mengudara sekitar 13 jam.

Begitu selesai mengikuti upacara penyambutan yang dipimpin langsung Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) AM Fachir, 26 WNI termasuk Oliver diistirahatkan di sebuah ruangan. Tak ada satupun awak media yang bisa mewawancarai WNI tersebut. Baru setelah beberapa jam, petugas Lanud Halim Perdanakusuma mengizinkan wartawan menemui salah satu WNI. Keluarlah Oliver Hancock pendaki asal Indonesia.

Kepada wartawan, Oliver menceritakan awal kisahnya sampai ke Nepal. Ia bersama satu temannya tiba di Kota Kathmandu 17 April. 19 April, didampingi pemandu wisata lokal, keduanya berangkat ke Kota Lukla untuk persiapan mendaki Gunung Everest.

Saat gempa dahsyat itu berlangsung, Oliver tengah dalam perjalanan menuju puncak gunung tertinggi di dunia itu.

"Ketika terjadi (gempa) kita lagi di Lukla. Saat itu kita sedang lunch istirahat dalam perjalanan. Gempa yang kedua terasa banget getarannya. Panik? Biasa saja, soalnya saya nggak tahu skala richter-nya. Tapi berasa kencang (guncangannya)," ucap Oliver di ruang tunggu Lanud Halim Perdanakusuma.

Kendati demikian, Oliver sempat terbesit ingin lari keluar dari kafe tempatnya makan siang begitu guncangan terasa sangat kencang. Namun niat itu dicegah oleh pemandu wisatanya.

"Reaksi sempat kaget dan ingin lari keluar. Cuman waktu itu guide kita minta untuk stay calm karena kondisi di luar di gunung itu banyak batu-batu yang longsor," sambung dia.

Setelah kondisi mulai terkendali, Oliver dan rombongan keluar meninggalkan kafe dan melanjutkan perjalanan. Begitu melihat pemandangan di luar, ia syok. Oliver tak percaya kerusakan akibat gempa yang baru saja ia alami begitu besar.

"Kita nggak sadar damage (kerusakan) begitu besar. Karena di tempat kita sendiri tidak ada kerusakan. Kita kemudian lanjut ke Lobuche. Saat itu semua nyari berita karena ada wifi. Ternyata damage begitu besar. Saya langsung coba hubungi keluarga dan teman ngasih tahu kalau kita baik-baik saja," kenang Oliver.

'Balik Kanan'

Seharusnya perjalanan gadis itu hanya butuh sehari lagi untuk sampai ke puncak Everest. Namun ia memutuskan segera turun karena khawatir akan ada gempa susulan.

"Kita kemudian memilih bermalam di Lobuche di ketinggian 4.934 meter di atas permukaan laut. Sekitar jam 11 malam ada gempa lagi. Ada bangunan ambruk karena hanya disusun batu tanpa semen. Paginya kita baru tahu bangunan di sebelah juga runtuh. Jadi kita lanjut jalan turun," kisahnya.

Selama perjalanan turun dari gunung, Oliver mengaku berkali-kali merasakan getaran akibat pergeseran lempeng bumi itu. Kurang lebih 6-7 kali gempa ia rasakan.

"Di Pangboche ada gempa lagi dikit. Besok siang di Pheriche ada gempa lagi sedikit. Total ada 6 sampai 7 kali. Soal di Kathmandu (katanya) sering gempa, kita cuma berasa ada 7 kali."

Oliver mengaku kecewa, pengalaman pertama kalinya menginjakkan kaki di Nepal tidak mampu mengantarkan mimpinya berdiri tegak di puncak tertinggi dunia. Meski demikian, ia mengaku sangat bersyukur bisa selamat dari gempa dahsyat berkekuatan 7,9 SR tersebut.

"Kerugian materi nggak ada. Cuma kecewa aja tujuan akhir tidak tercapai. Tapi kita bersyukur, dari sekian banyak korban kita masih dikasih kesempatan hidup," demikian Oliver.

Oliver merupakan salah satu dari 26 WNI yang berhasil dievakuasi tahap pertama dari bencana gempa di Nepal. Mereka tiba di Tanah Air menggunakan pesawat Boeing 737-400 milik TNI AU. Selain membawa pulang 26 WNI, pesawat yang diterbangkan Kapten Pnb Achmad Zailani ini juga membawa 30 tim relawan gabungan dari Indonesia. (Ali)

Loading