Sukses

Gunung Padang, Punden Berundak yang Ditinggali Berulang-ulang

Liputan6.com, Jakarta - Banyak pertanyaan yang muncul dari penemuan situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Tak sedikit pula yang mengatakan bahwa ada 'piramida' di dalam tubuh bukit dengan ketinggian 885 meter di atas permukaan laut tersebut.

Banyak juga yang mengaitkan Gunung Padang dengan Jabal Nur di Arab Saudi. Jabal Nur punya arti Mountain of Light atau Gunung Cahaya. Gunung Padang sendiri dalam bahasa Sunda juga berarti Gunung Cahaya.

‎Tapi seperti apa bentuk dan wujud asli situs Gunung Padang ini masih tanda tanya. Tabir itu belum terbuka, bahkan oleh Tim Nasional Peneliti Situs Gunung Padang. Setidaknya sejak beberapa tahun terakhir.

Timnas Peneliti sampai saat ini menduga, situs megalitikum ini merupakan punden berundak. Dengan 5 teras, di mana teras ke-5 adalah yang paling tinggi permukaan tanahnya.

Perkiraan lain dari Timnas Peneliti adalah situs ini dulunya merupakan bangunan multicomponent atau situs yang berulang kali ditempati oleh suatu komunitas tertentu di waktu tertentu.

"Ini bangunan multicomponent site atau situs yang berkali-kali dihuni," kata Wakil‎ Ketua Timnas Peneliti Situs Gunung Padang Bidang Arkeologi, Ali Akbar saat ditemui Liputan6.com baru-baru ini di puncak bukit Gunung Padang, Dusun Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Perkiraan itu didasarkan atas lapisan-lapisan yang diekskavasi Timnas. Pada lapisan di puncak bukit, tempat hamparan batu andesit tersusun dan terpola ini ditemukan diduga berusia 500 tahun sebelum masehi. ‎Kemudian di lapisan kedua dengan kedalaman sekitar 4 meter diperikirakan lebih tua lagi, yakni sekitar 5.200 tahun sebelum masehi.

Jika dirunut, maka lapisan 5.200 tahun sebelum masehi merupakan yang 'pertama'. Kemudian ditimbun atau‎ tertimbun lalu dibangun dan dihuni lagi. Begitu seterusnya sampai 500 tahun sebelum masehi atau bahkan sampai di era modern.

"Katakanlah paling tua itu 5.200 sebelum masehi. Lalu ditimbun, lalu dibangun lagi, ditimbun lagi, dibangun lagi," kata Abe, sapaan akrabnya.

Lalu komunitas dengan kebudayaan seperti apa yang pernah menempati Gunung Padang? Diduga ‎mereka berasal beberapa komunitas dan kebudayaan. Abe menyebut salah satunya adalah komunitas Tiong Hoa.

Sebab, kata Abe, Timnas Peneliti menemukan sejumlah temuan yang merupakan berasal dari kebudayaan China. Seperti keramik-keramik dan koin keteng.

"Indikasinya banyak ditemukan keramik China ‎di sini. Lalu ada mata uang keteng China," ucap Arkeolog lulusan Universitas Indonesia ini.

Tak cuma itu. Timnas Peneliti juga menemukan keramik dan koin mata uang diduga berasal dari Eropa. Misalnya mata uang Netherlan Indie. Bahkan juga ditemukan koin‎ mata uang dari Republik Indonesia pada 1957. Sehingga temuan-temuan itu yang membawa pada hipotesa awal, bahwa tak cuma satu komunitas dengan kebudayaannya di satu waktu saja yang pernah mendiami situs Gunung Padang ini.

"Jadi intinya situs ini atau bangunan ini berkali-kali dihuni sampai zaman sekarang," tandas Abe.