Sukses

Kecelakaan Diduga Akibat Kesalahan Pemberangkatan Kereta

Liputan6.com, Jakarta: Penyebab tabrakan Kereta Api Eksekutif Sembrani serta KA Ekonomi Kertajaya di sekitar Stasiun Gubug, Purwodadi, Jawa Tengah, diduga karena adanya kesalahan pemberangkatan kereta api. "Kertajaya yang seharusnya menunggu kereta di belakangnya [KA Sembrani] untuk didahulukan tanpa perintah bergerak," ungkap Menteri Perhubungan Hatta Rajasa di Jakarta, Sabtu (15/4).

Berdasarkan informasi yang diperolehnya, Hatta menuturkan bahwa Kertajaya seharusnya tak dulu masuk jalur pemberangkatan sebelum Sembrani lewat. Meski demikian, ia menyebut petugas stasiun sudah bertugas sesuai prosedur yakni mendahulukan kereta cepat KA Sembrani. "Ini [laporan] sementara karena saya tak punya kewenangan apa pun untuk mengatakan penyebabnya selain dari tim investigasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi," tambah Hatta.

Tabrakan yang terjadi pukul 02.15 WIB itu menewaskan 12 penumpang dan puluhan lainnya terluka. Tujuh dari 12 korban tewas sudah diketahui, masing-masing Sodo, Sungkono, Priyono--masinis KA Kertajaya, Ranti, Nurhadi, Suwarto, dan Warsito. Semua korban luka sudah dibawa ke sejumlah rumah sakit. Di antaranya Pusat Kesehatan Masyarakat Gubug, RS PKU Muhammadiyah Gubug, RS Umum Daerah Purwodadi, RS Yakung, RS Rumani, dan RS Panti Wiloso Semarang, Jateng.

Selain memakan korban, kecelakaan yang terjadi di kilometer 30 jalur Surabaya-Semarang ini mengakibatkan lalu lintas kereta api terhambat. Untuk sementara, pihak PT Kereta Api Indonesia mengalihkan jalur selatan menuju tengah.

Sejauh ini, penyidik Kepolisian Wilayah Pati tengah memeriksa sejumlah saksi. Selain warga, polisi mengorek informasi dari petugas jaga stasiun, kondektur, dan pembantu masinis Kereta Api Eksekutif Sembrani serta KA Ekonomi Kertajaya. Rencananya, masinis KA Sembrani yang kini masih tergolek di rumah sakit juga bakal diperiksa.

Namun, hingga sekitar pukul 11.30 WIB, polisi belum dapat menyimpulkan penyebab pasti kecelakaan maut tersebut. Kepala Polwil Pati Komisaris Besar Polisi Didik Triwidodo mengatakan, sejauh ini pihaknya belum bisa memberikan keterangan apa-apa seputar penyebab kecelakaan. Polisi juga belum menetapkan seorang tersangka pun dalam kasus ini [baca: Sejumlah Saksi Diperiksa].

Kecelakaan ini menambah panjang daftar hitam perkereta-apian di Tanah Air. Lagi-lagi, hasil penyelidikan sementara menunjukkan kesalahan manusia atau human error diduga menjadi penyebab kecelakaan. Masinis Kertajaya menjalankan kereta setelah mendengar peluit aba-aba bergerak dari petugas stasiun. Namun tak lama kemudian, petugas stasiun berteriak agar masinis menghentikan keretanya karena pada saat yang sama KA Sembrani sedang melaju dalam kecepatan tinggi.

Selain itu, faktor gangguan teknis seperti kerusakan pada modul sinyal atau kabel konektor juga sering menjadi kambing hitam. Tengok saja tabrakan kereta di Pasarminggu, Jakarta Selatan pada akhir Juni tahun silam. Kereta Rangkaian Listrik (KRL) Ekspres Pakuan jurusan Bogor-Jakarta bertabrakan dengan KRL Ekonomi 583 Bogor-Jakarta akibat gangguan sinyal di perlintasan sekitar lokasi tabrakan. Menurut masinis KRL 583 Acep Darma, kerusakan sinyal itu sudah lama dilaporkan kepada PT KAI, tapi tak kunjung diperbaiki [baca: Masinis KRL 583: Sinyal di Perlintasan Terganggu].

Masih tingginya tingkat kecelakaan kereta api ini tentu sangat memprihatinkan. Karena bagaimanapun, kereta api adalah angkutan massal yang sulit digantikan. Selain memiliki daya angkut tinggi, alat transportasi ini lebih ekonomis bagi rakyat kecil dibanding bus apalagi pesawat terbang.

Sayangnya, PT KAI sepertinya tak mau belajar dari berbagai kasus kecelakaan yang berulang kali terjadi dengan penyebab yang hampir sama. Yang sering terdengar pascakecelakaan hanyalah masinis atau petugas stasiun yang dipersalahkan. Namun, akar persoalan yang lebih besar dan menjadi penyebab utama berbagai kecelakaan itu seolah tak pernah disentuh.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)