Liputan6.com, Garut: Kehangatan sinar matahari seakan tak bosan menyapa sebuah desa di Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Seperti pada pagi itu, sang surya pun menyinari perkampungan dan persawahan di kaki Gunung Papandayan tersebut. Suasana yang kerap ditemui di wilayah Priangan Timur lainnya.
Keceriaan pagi ini tampak pula di sebuah sungai kecil. Di aliran sungai ini terlihat dua lelaki bertopi sedang memandikan seekor domba berbulu putih. Sepintas hewan tersebut seperti domba biasa. Begitu pula dua pria tersebut, mereka sepintas seperti penggembala domba pada umumnya. Maklum, beternak domba menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian warga Garut.
Namun kalau diperhatikan lebih lanjut, ternyata mereka bukan penggembala biasa. Salah satu dari mereka adalah pemilik domba petarung. Dia bernama Wawan. Setidaknya, ia memerlukan waktu lima belas menit untuk melatih dombanya berenang. Ini bertujuan agar domba miliknya mempunyai napas yang prima saat berlaga kelak. Plus agar memiliki daya tahan tubuh serta otot-otot yang kuat.
Secara rutin, tepatnya dua kali dalam sebulan, Wawan membawa dombanya ke arena latihan di sebuah desa di Kecamatan Cisurupan. Latihan itu memang penting, terutama buat mengasah naluri bertarung hewan peliharaannya. Di kampung tersebut, Wawan bertemu dengan sejumlah pemilik domba petarung. Hewan-hewan bertanduk melingkar ini umumnya berasal dari Garut atau wilayah timur Bumi Parahyangan--julukan Jawa Barat sejak dahulu kala. Jenis domba petarung ini kemudian disebut domba priangan.
Keunggulan dari domba priangan adalah bentuk fisiknya yang kekar. Lantaran itulah, banyak peternak domba menganggap binatang berbulu lebat ini lebih cocok dijadikan hewan aduan. Pendapat itu memang wajar. Ini mengingat domba jantan asal Garut secara genetis memiliki naluri berkelahi, terutama jika menjumpai domba jantan lainnya.
Naluri bertarung domba priangan itu dibuktikan dalam latihan seni tradisional adu domba di Kecamatan Cisurupan. Lewat pengeras suara tua, musik khas pengiring pencak silat tradisional suku Sunda pun bertalu-talu di udara. Ini menandakan adu domba segera dimulai. Penduduk Cisurupan pun berbondong-bondong menuju suatu arena.
Di arena ini, para pemilik domba pun berkumpul mencari lawan latih tanding bagi hewan peliharaan mereka. Uniknya, domba-domba itu seolah tahu akan profesinya. Tanpa diperintah, sejumlah binatang itu langsung beradu menghantamkan tanduknya satu sama lain.
Konon, tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Padjadjaran--kerajaan terbesar di Tanah Pasundan, ratusan tahun lampau. Selain untuk mengumpulkan rakyat, tradisi ini juga sebagai hiburan. Sebab, waktu itu hanya kalangan kerajaan yang memiliki domba jenis aduan tersebut.
Kini, ajang latihan ini biasanya diikuti oleh beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Garut. Mereka datang saling mencoba kehebatan domba masing-masing sebelum mengikuti pertarungan domba sesungguhnya.
Sejatinya, domba priangan yang lebih dikenal dengan sebutan domba Garut itu memiliki nenek moyang dan silsilah yang panjang. Lembaran sejarah bangsa Babylonia menyebutkan, domba mulai dijadikan hewan peliharaan sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Seiring perubahan zaman, penyebaran domba meluas dari Asia Tengah hingga Benua Eropa.
Setelah memasuki tahun Masehi, kebudayaan agraris berkembang di Eropa. Domba Spanyol yang lazim disebut domba merino banyak dikembangbiakkan di wilayah pegunungan di Spanyol bagian utara. Pada abad XVII, domba merino yang terkenal berbulu tebal ini kemudian dibawa oleh bangsa Belanda ke Pulau Jawa. Oleh bangsa Belanda domba merino berhasil dikawinsilangkan dengan domba lokal dari Desa Cibuluh, Garut.
Belakangan, di sejumlah daerah di Jawa Barat, domba hasil persilangan itu kembali dikawinkan dengan domba ekor gemuk asal Afrika Selatan. Jenis domba terakhir ini umumnya bertubuh kekar, leher besar dan kuat. Ciri lainnya, tanduknya besar berbentuk spiral dengan pangkal tanduk hampir bersatu. Bahkan, ada domba persilangan yang memiliki panjang bulu hingga mencapai 10 sentimeter. Warnanya putih, hitam, cokelat, atau campuran ketiganya.
Nah, sejak itulah, kesenian dodombaan atau adu domba Bumi Parahyangan ini mulai berkembang dengan menggunakan domba-domba jantan yang besar dan kekar. Secara tradisional, para peternak menggunakan cara penyeleksian bibit domba terbaik melalui dodombaan. Pada akhirnya, kesenian adu domba ini menjadi ciri khas Priangan Timur, bahkan sejumlah daerah di Tanah Pasundan hingga sekarang.
Adapun ciri fisik domba priangan bentuk telinganya pendek, bahkan tidak terlihat. Bobotnya berkisar antara 60 kilogram hingga 100 kg, tergantung usia dan keturunannya. Khusus pejantan, ciri khasnya memiliki tanduk yang melengkung spiral menjauhi leher.
Jika pertumbuhan tanduk domba melengkung mendekati leher, berarti peternaknya sangat piawai. Dengan kata lain, ia dapat membentuk tanduk sesuai yang diinginkannya. Buat mendapat hasil maksimal, biasanya, peternak mengolesi tanduk domba dengan minyak pelumas. Ini dilakukan agar tanduk tidak lembek. Setelah itu, barulah tanduk dipanaskan dengan api dari obor bambu. Proses pemanasan tak lebih dari 10 menit. Dan, tanduk domba itu seakan memuai seperti besi yang dipanaskan.
Cara seperti itu juga dilakukan Wawan. Dengan sedikit tenaga dan sebuah alat khusus, ia mengungkit tanduk tersebut agar tampak sempurna. Wawan pun berhati-hati agar tetesan minyak pelumas tidak mengenai mata domba kesayangannya.
Namun, tidak semua domba layak dijadikan hewan aduan. Biasanya, para peternak menyeleksinya dengan melihat bibit, bebet, dan bobot. Bila tidak lolos, domba tersebut dijual sebagai hewan potong atau kurban.
Di Pasar Andir, Garut, misalnya, terlihat ratusan domba. Di tempat inilah, para peternak menjual domba-dombanya kepada pembeli yang datang dari berbagai wilayah Jawa Barat. Domba yang dijual kebanyakan yang tidak lolos dalam kriteria hewan aduan. Atau, domba yang sering kalah dalam kontes sehingga membuat harga jualnya jatuh di pasaran.
Lain lagi dengan domba aduan. Adapun perawatan domba aduan harus telaten. Bahkan, setiap hari domba perlu dijemur untuk menjaga kulitnya agar tidak lembab dan membantu pertumbuhan tulang. Terutama untuk mencegah penyakit kulit dan kram saat lomba.
Biasanya, sang pemilik mengoleskan anggur putih ke seluruh tubuh sang domba. Selanjutnya, domba unggulan ini juga mendapat perawatan khusus. Seperti dipijat untuk merenggangkan otot-ototnya. Tak cukup sampai di situ. Untuk menambah daya tahan tubuh, domba aduan harus diberi suplemen khusus berupa telor mentah dan berbagai macam ramuan jamu. Seluruh asupan itu diberikan agar domba tersebut tahan terhadap benturan dalam adu ketangkasan.
Di Jawa Barat, hampir setiap minggu, diadakan adu ketangkasan domba yang berpusat di Babakan Siliwangi, Kota Bandung. Di tempat inilah, para peternak domba aduan datang dari berbagai wilayah Tanah Pasundan. Tentunya, dengan membawa domba andalan masing-masing.
Mereka berkumpul sambil menunggu nomor panggilan domba aduannya. Saat nomornya disebut, setiap peternak lalu menggiring dombanya memasuki arena seluas 20 meter persegi. Seperti layaknya pertandingan olahraga, maka wasit yang memegang peran penting. Setelah wasit memberi aba-aba, domba pun dilepas.
Seketika itu, dua ekor domba petarung langsung mengambil ancang-ancang untuk menjatuhkan lawannya dengan tandukan. Tanduk pun beradu tanduk dengan sangat keras. Jika tak terlatih, domba tersebut bisa retak di bagian tulang lehernya. Berdasarkan aturan yang berlaku, lamanya adu ketangkasan ini sampai terjadi 25 kali tumbukan.
Seperti pertandingan tinju, wasit dapat menghentikan pertandingan bila salah satu domba petarung terlihat lemah. Untuk menyemangati domba maupun pemiliknya, bunyi-bunyian gamelan dan gendang pencak pun diperdengarkan di seputar arena. Alunan yang bertalu-talu ini jelas menambah semarak setiap kali pertandingan.
Boleh dikatakan, tradisi ini menjadi hiburan rakyat. Para peternak terkadang ikut larut dalam iringan musik dan berjoget ria tari pencak di sudut arena.
Sementara untuk menjaga pertandingan berjalan seimbang, setiap domba yang diadu harus sesuai dengan sejumlah kategori. Kelas ringan adalah domba seberat sekitar 60 kilogram. Sedangkan kelas berat adalah domba yang berbobot tubuh 90 kilogram lebih.
Juri pun mempunyai kriteria tersendiri. Setiap tumbukan antarkepala dinilai juri sebagai pukulan terbaik. Selain itu, semakin jauh domba mengambil ancang-ancang, maka kian bagus nilainya karena benturan yang dihasilkan juga semakin kuat.
Keriuhan penonton juga menandakan bahwa domba yang diadu merupakan yang terbaik. Situasi inilah yang dinanti para peternak. Mereka dapat mengetahui kualitas dombanya. Harga jual domba pun akan terdongkrak nilainya jika menjuarai lomba.
Bayangkan, domba aduan yang berkelas bisa mencapai kisaran Rp 10 juta hingga Rp 30 juta lebih. Tak mengherankan, bila tradisi warisan leluhur ini mampu bertahan hingga sekarang.(ANS/Hardjuno Pramundito dan Bambang Triono)
Keceriaan pagi ini tampak pula di sebuah sungai kecil. Di aliran sungai ini terlihat dua lelaki bertopi sedang memandikan seekor domba berbulu putih. Sepintas hewan tersebut seperti domba biasa. Begitu pula dua pria tersebut, mereka sepintas seperti penggembala domba pada umumnya. Maklum, beternak domba menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian warga Garut.
Namun kalau diperhatikan lebih lanjut, ternyata mereka bukan penggembala biasa. Salah satu dari mereka adalah pemilik domba petarung. Dia bernama Wawan. Setidaknya, ia memerlukan waktu lima belas menit untuk melatih dombanya berenang. Ini bertujuan agar domba miliknya mempunyai napas yang prima saat berlaga kelak. Plus agar memiliki daya tahan tubuh serta otot-otot yang kuat.
Secara rutin, tepatnya dua kali dalam sebulan, Wawan membawa dombanya ke arena latihan di sebuah desa di Kecamatan Cisurupan. Latihan itu memang penting, terutama buat mengasah naluri bertarung hewan peliharaannya. Di kampung tersebut, Wawan bertemu dengan sejumlah pemilik domba petarung. Hewan-hewan bertanduk melingkar ini umumnya berasal dari Garut atau wilayah timur Bumi Parahyangan--julukan Jawa Barat sejak dahulu kala. Jenis domba petarung ini kemudian disebut domba priangan.
Keunggulan dari domba priangan adalah bentuk fisiknya yang kekar. Lantaran itulah, banyak peternak domba menganggap binatang berbulu lebat ini lebih cocok dijadikan hewan aduan. Pendapat itu memang wajar. Ini mengingat domba jantan asal Garut secara genetis memiliki naluri berkelahi, terutama jika menjumpai domba jantan lainnya.
Naluri bertarung domba priangan itu dibuktikan dalam latihan seni tradisional adu domba di Kecamatan Cisurupan. Lewat pengeras suara tua, musik khas pengiring pencak silat tradisional suku Sunda pun bertalu-talu di udara. Ini menandakan adu domba segera dimulai. Penduduk Cisurupan pun berbondong-bondong menuju suatu arena.
Di arena ini, para pemilik domba pun berkumpul mencari lawan latih tanding bagi hewan peliharaan mereka. Uniknya, domba-domba itu seolah tahu akan profesinya. Tanpa diperintah, sejumlah binatang itu langsung beradu menghantamkan tanduknya satu sama lain.
Konon, tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Padjadjaran--kerajaan terbesar di Tanah Pasundan, ratusan tahun lampau. Selain untuk mengumpulkan rakyat, tradisi ini juga sebagai hiburan. Sebab, waktu itu hanya kalangan kerajaan yang memiliki domba jenis aduan tersebut.
Kini, ajang latihan ini biasanya diikuti oleh beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Garut. Mereka datang saling mencoba kehebatan domba masing-masing sebelum mengikuti pertarungan domba sesungguhnya.
Sejatinya, domba priangan yang lebih dikenal dengan sebutan domba Garut itu memiliki nenek moyang dan silsilah yang panjang. Lembaran sejarah bangsa Babylonia menyebutkan, domba mulai dijadikan hewan peliharaan sejak 6000 tahun sebelum Masehi. Seiring perubahan zaman, penyebaran domba meluas dari Asia Tengah hingga Benua Eropa.
Setelah memasuki tahun Masehi, kebudayaan agraris berkembang di Eropa. Domba Spanyol yang lazim disebut domba merino banyak dikembangbiakkan di wilayah pegunungan di Spanyol bagian utara. Pada abad XVII, domba merino yang terkenal berbulu tebal ini kemudian dibawa oleh bangsa Belanda ke Pulau Jawa. Oleh bangsa Belanda domba merino berhasil dikawinsilangkan dengan domba lokal dari Desa Cibuluh, Garut.
Belakangan, di sejumlah daerah di Jawa Barat, domba hasil persilangan itu kembali dikawinkan dengan domba ekor gemuk asal Afrika Selatan. Jenis domba terakhir ini umumnya bertubuh kekar, leher besar dan kuat. Ciri lainnya, tanduknya besar berbentuk spiral dengan pangkal tanduk hampir bersatu. Bahkan, ada domba persilangan yang memiliki panjang bulu hingga mencapai 10 sentimeter. Warnanya putih, hitam, cokelat, atau campuran ketiganya.
Nah, sejak itulah, kesenian dodombaan atau adu domba Bumi Parahyangan ini mulai berkembang dengan menggunakan domba-domba jantan yang besar dan kekar. Secara tradisional, para peternak menggunakan cara penyeleksian bibit domba terbaik melalui dodombaan. Pada akhirnya, kesenian adu domba ini menjadi ciri khas Priangan Timur, bahkan sejumlah daerah di Tanah Pasundan hingga sekarang.
Adapun ciri fisik domba priangan bentuk telinganya pendek, bahkan tidak terlihat. Bobotnya berkisar antara 60 kilogram hingga 100 kg, tergantung usia dan keturunannya. Khusus pejantan, ciri khasnya memiliki tanduk yang melengkung spiral menjauhi leher.
Jika pertumbuhan tanduk domba melengkung mendekati leher, berarti peternaknya sangat piawai. Dengan kata lain, ia dapat membentuk tanduk sesuai yang diinginkannya. Buat mendapat hasil maksimal, biasanya, peternak mengolesi tanduk domba dengan minyak pelumas. Ini dilakukan agar tanduk tidak lembek. Setelah itu, barulah tanduk dipanaskan dengan api dari obor bambu. Proses pemanasan tak lebih dari 10 menit. Dan, tanduk domba itu seakan memuai seperti besi yang dipanaskan.
Cara seperti itu juga dilakukan Wawan. Dengan sedikit tenaga dan sebuah alat khusus, ia mengungkit tanduk tersebut agar tampak sempurna. Wawan pun berhati-hati agar tetesan minyak pelumas tidak mengenai mata domba kesayangannya.
Namun, tidak semua domba layak dijadikan hewan aduan. Biasanya, para peternak menyeleksinya dengan melihat bibit, bebet, dan bobot. Bila tidak lolos, domba tersebut dijual sebagai hewan potong atau kurban.
Di Pasar Andir, Garut, misalnya, terlihat ratusan domba. Di tempat inilah, para peternak menjual domba-dombanya kepada pembeli yang datang dari berbagai wilayah Jawa Barat. Domba yang dijual kebanyakan yang tidak lolos dalam kriteria hewan aduan. Atau, domba yang sering kalah dalam kontes sehingga membuat harga jualnya jatuh di pasaran.
Lain lagi dengan domba aduan. Adapun perawatan domba aduan harus telaten. Bahkan, setiap hari domba perlu dijemur untuk menjaga kulitnya agar tidak lembab dan membantu pertumbuhan tulang. Terutama untuk mencegah penyakit kulit dan kram saat lomba.
Biasanya, sang pemilik mengoleskan anggur putih ke seluruh tubuh sang domba. Selanjutnya, domba unggulan ini juga mendapat perawatan khusus. Seperti dipijat untuk merenggangkan otot-ototnya. Tak cukup sampai di situ. Untuk menambah daya tahan tubuh, domba aduan harus diberi suplemen khusus berupa telor mentah dan berbagai macam ramuan jamu. Seluruh asupan itu diberikan agar domba tersebut tahan terhadap benturan dalam adu ketangkasan.
Di Jawa Barat, hampir setiap minggu, diadakan adu ketangkasan domba yang berpusat di Babakan Siliwangi, Kota Bandung. Di tempat inilah, para peternak domba aduan datang dari berbagai wilayah Tanah Pasundan. Tentunya, dengan membawa domba andalan masing-masing.
Mereka berkumpul sambil menunggu nomor panggilan domba aduannya. Saat nomornya disebut, setiap peternak lalu menggiring dombanya memasuki arena seluas 20 meter persegi. Seperti layaknya pertandingan olahraga, maka wasit yang memegang peran penting. Setelah wasit memberi aba-aba, domba pun dilepas.
Seketika itu, dua ekor domba petarung langsung mengambil ancang-ancang untuk menjatuhkan lawannya dengan tandukan. Tanduk pun beradu tanduk dengan sangat keras. Jika tak terlatih, domba tersebut bisa retak di bagian tulang lehernya. Berdasarkan aturan yang berlaku, lamanya adu ketangkasan ini sampai terjadi 25 kali tumbukan.
Seperti pertandingan tinju, wasit dapat menghentikan pertandingan bila salah satu domba petarung terlihat lemah. Untuk menyemangati domba maupun pemiliknya, bunyi-bunyian gamelan dan gendang pencak pun diperdengarkan di seputar arena. Alunan yang bertalu-talu ini jelas menambah semarak setiap kali pertandingan.
Boleh dikatakan, tradisi ini menjadi hiburan rakyat. Para peternak terkadang ikut larut dalam iringan musik dan berjoget ria tari pencak di sudut arena.
Sementara untuk menjaga pertandingan berjalan seimbang, setiap domba yang diadu harus sesuai dengan sejumlah kategori. Kelas ringan adalah domba seberat sekitar 60 kilogram. Sedangkan kelas berat adalah domba yang berbobot tubuh 90 kilogram lebih.
Juri pun mempunyai kriteria tersendiri. Setiap tumbukan antarkepala dinilai juri sebagai pukulan terbaik. Selain itu, semakin jauh domba mengambil ancang-ancang, maka kian bagus nilainya karena benturan yang dihasilkan juga semakin kuat.
Keriuhan penonton juga menandakan bahwa domba yang diadu merupakan yang terbaik. Situasi inilah yang dinanti para peternak. Mereka dapat mengetahui kualitas dombanya. Harga jual domba pun akan terdongkrak nilainya jika menjuarai lomba.
Bayangkan, domba aduan yang berkelas bisa mencapai kisaran Rp 10 juta hingga Rp 30 juta lebih. Tak mengherankan, bila tradisi warisan leluhur ini mampu bertahan hingga sekarang.(ANS/Hardjuno Pramundito dan Bambang Triono)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5515623/original/045243200_1772182225-dinas_perhubungan_-_klaim_facebook_cpns.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8336960/original/043977000_1782207955-cek_fakta_-_bibit_Ikan_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8327596/original/000770900_1782197299-cek_fakta_-_dishub_lowongan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5471300/original/019987800_1768283249-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-13T124627.766.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/441531/original/090705bPotret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8361929/original/059220800_1782237469-000_B8324TW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262482/original/047548300_1781803743-Croatia_s_Ivan_Perisic.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8361794/original/064983200_1782237341-000_B8324T4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257143/original/047056400_1781226984-mexico-city-stadium.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261515/original/075937400_1781733992-IMG-20260618-WA0000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257797/original/022434900_1781257127-South_Africa_s_Themba_Zwane__11__receives_a_red_card.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258737/original/031550300_1781406712-063_2281462946.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263365/original/096832600_1781914237-063_2282418040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8359730/original/054220900_1782235074-063_2282965616.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258053/original/067867800_1781307185-cyle_larin_gol_kanada_bosnia_ap_sam_balkansky.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8319326/original/066926200_1782187594-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262486/original/089294900_1781817493-000_B7KZ4JN.jpg)