Sukses

Seorang Perempuan Memakai Gaun 7 Cm di Bawah Lutut Dilarang Masuk Gedung Pemerintah Malaysia

Liputan6.com, Jakarta - Seorang wanita yang gaunnya sampai di bawah lutut ditolak masuk di kompleks Wisma Persekutuan Johor Baru, Malaysia. Seorang penjaga keamanan menganggap pakaiannya sebagai "provokatif dan tidak senonoh," lapor The Star, Rabu, 11 Mei 2022.

Pengacara Norman Fernandez mengatakan istrinya, Leni, sedang menuju ke kantin kompleks gedung pemerintah Malaysia untuk makan siang sekitar pukul 1 siang pada Senin, 9 Mei 2022, ketika dihentikan masuk.

"Istri saya memakai gaun lengan panjang yang panjangnya sekitar 7 cm di bawah lutut, dengan sepatu tertutup. Namun, satpam laki-laki mengatakan padanya 'Pakaian awak menjolok mata dan tidak sopan' (pakaian Anda provokatif dan tidak senonoh)," tuturnya.

Ia melanjutkan, "Setelah itu, Leni menelepon saya dan saya berjalan keluar dari kantor saya untuk mengetahui lebih banyak tentang situasinya. Penjaga itu juga bersikeras bahwa non-Muslim harus mengenakan pakaian (sepanjang) mata kaki atau paling tidak memakai celana panjang."

“Kami menemukan ini cukup aneh karena tugasnya adalah menjaga pos, bukan menilai pakaian orang," ucap Fernandez. "Saya pikir ia hanya memaksakan keyakinan dan nilai moralnya sendiri pada orang lain dalam memutuskan apa yang boleh atau tidak boleh mereka kenakan."

Perempuan itu, yang bekerja di firma hukum, telah mengunjungi kantin di kompleks pemerintah untuk makan siang selama bertahun-tahun dan tidak pernah dihadapkan pada insiden serupa sebelumnya. Fernandez menambahkan, mereka berjalan melewati pos penjagaan setelah memberi tahu penjaga keamanan bahwa ia ingin berbicara dengan atasannya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Bukan Kali Pertama

Setelah lebih dari satu jam, tidak ada petugas keamanan atau petugas lain yang datang untuk berbicara dengan mereka, katanya. "Kami memahami bahwa pengunjung wajib berpakaian sopan saat mengunjungi kantor pemerintah," Fernandez mengatakan.

"Selama kita tidak mengenakan gaun terbuka atau celana pendek, saya pikir penjaga keamanan seharusnya tidak mengharapkan semua orang menyesuaikan diri dengan ide mereka tentang 'berpakaian yang pantas,'" tambahnya.

Saat didekati publikasi tersebut, petugas keamanan menolak berkomentar. Sebuah tanda di pintu masuk kompleks tampak melarang masuknya mereka yang mengenakan pakaian tidak senonoh dan provokatif, pemasar, dan individu yang dibayar untuk mengisi formulir.

Insiden berbusana di Malaysia ini bukan kali pertama terjadi. Pada Juli 2021, seorang pengguna Twitter bercerita bahwa pacarnya ditolak masuk ke pusat vaksinasi COVID-19 di George Town, Penang, Malaysia. Itu terjadi karena wanita itu "tidak mematuhi aturan berpakaian."

Pengguna Twitter @penangstrays menandai Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia, Khairy Jamaluddin, Kementerian Kesehatan (MOH), dan direktur jenderal Kesehatan Dr Noor Hisham Abdullah dalam kicauannya.

3 dari 4 halaman

Kode Berpakaian

Si pengguna Twitter bertanya, "Mengapa ada aturan berpakaian untuk pusat vaksinasi di Kompleks Masyarakat Penyayang di Penang?" Ia melanjutkan bahwa pacarnya menemani bibinya ke pusat vaksinasi. Namun, karena rok di atas lututnya, perempuan itu dihentikan di pintu masuk. Baru setelah bernegosiasi dengan petugas keamanan, ia diizinkan menemani bibinya di dalam.

"Bagaimana dengan orang-orang yang mengenakan kostum dinosaurus atau kostum Donald Duck?" tulisnya sambil mempertanyakan perlunya aturan berpakaian di pusat vaksinasi. 

Dalam foto lain, ia mengunggah papan kode berpakaian yang menunjukkan seseorang harus mengenakan pakaian formal, seperti jas, untuk vaksinasi. Jeans, kaus, dan pakaian informal lain tidak diperbolehkan.

Kepada Says, si pemilik akun Twitter menjelaskan bahwa utas tersebut tidak bermaksud menyalahkan personel keamanan di pusat vaksinasi COVID-19. Ia justru ingin berterima kasih atas semua yang telah dilakukan para petugas garda depan, termasuk aparat keamanan, dalam upaya penanganan virus corona baru.

4 dari 4 halaman

Tanggapan Pihak Berwenang

Di kesempatan yang sama, ia mengaku belum menerima tanggapan dari pihak berwenang mengenai aturan berpakaian. Namun, ia menambahkan, vaksinasi bibi pacarnya berjalan lancar, terlepas dari insiden tersebut.

Panitia Khusus untuk Memastikan Akses Penyediaan Vaksin COVID-19 (JKJAV) dan Kemenkes Malaysia juga belum memberi keterangan resmi terkait ini.

Namun, pada Minggu, 18 Juli 2021, China Press melaporkan, petugas PKDTL Datin, Dr Azizah Abdul Manan, menekankan bahwa tidak ada aturan standar berpakaian di pusat vaksinasi COVID-19. Pengunjung hanya diminta berbusana sopan. 

Azizah mengatakan, "tidak ada yang salah dengan rok perempuan itu" dan penjaga keamanan mungkin terlalu ketat. Bagaimanapun, ia menegaskan kembali bahwa ini bukan kebijakan PKDTL.

Azizah dilaporkan telah meminta agar papan petunjuk berpakaian itu segera dicabut. "Aturan berpakain itu sebenarnya petunjuk lama sejak gedung itu digunakan sebagai kantor PKDTL," katanya.

Beberapa warganet mengutarakan empati mereka karena kejadian tersebut melanda si perempuan. "Itu memo lama dan harusnya tidak jadi isu bagi siapa pun yang datang ke pusat vaksinasi," tulis salah satunya.