Sukses

6 Fakta Menarik Tana Toraja, dari Rumah Adat hingga Prosesi Pemakaman

Liputan6.com, Jakarta - Tana Toraja adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan dengan keindahan alam dan budaya yang kaya. Tana Toraja telah lama sukses menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Tradisi di Tana Toraja juga masih sangat lekat dengan kehidupan masyarakat di sana dan masih dipertahankan hingga kini. Selain itu, Tana Toraja juga memiliki sederet destinasi wisata yang menawan, mulai dari situs religi hingga wisata alamnya.

Sebagian besar lanskap Tana Toraja didominasi rumah adatnya yang khas. Lantas, apa saja enam fakta menarik lainnya dari Tana Toraja? Simak rangkumannya seperti dikutip dari berbagai sumber berikut ini.

1. Tana Toraja Miliki 5 Kuburan

Tana Toraja memiliki beberapa kuburan unik dari pada yang lainnya, seperti kuburan Goa, kuburan Gantung, kuburan batu Liang, kuburan pohon Passiliran, hingga kuburan Pattane. Satu satunya adalah Goa Londa yang umumnya adalah kompleks pemakaman kubur batu.

Goa ini jadi tempat penyimpanan jenazah yang khusus bagi keturunan langsung leluhur Toraja. Goa Londa yang terletak di perbatasan antara Makale dan Rantepao, tepatnya di sebuah desa kecil bernama Sandan Uai.

Jauh sebelum masuknya agama Islam dan Kristen, nenek moyang masyarakat Tana Toraja mengenal kepercayaan bernama Alukta. Kepercayaan inilah yang banyak mengatur dan menjadi landasan berbagai ritual adat dan tradisi dalam masyarakat toraja, salah satunya adalah tradisi menyimpan jenazah.

2. Keunggulan Kopi

Tana Toraja berada di daerah pegunungan yang mayoritas penduduknya bertani kopi dan merupakan komoditas unggulan. Kopi Toraja adalah salah satu varian kopi yang populer dan berkualitas terbaik dengan cita rasa unik.

Uniknya, aroma herbal yang dihasilkan ini sangat khas dan jarang ditemui pada kopi lainnya menjadikan kopi ini spesial. Kopi Toraja berwarna cokelat tua dengan bentuk biji yang tidak beraturan serta rasanya yang tidak terlalu pahit.

2 dari 5 halaman

3. Ritual Rambu Solo

Ritual sakral masyarakat suku Toraja ini diyakini mampu mengantarkan jenazah ke alam damai, yang disebut puya. Secara umum, ritual ini terdiri atas tujuh tahapan, yakni Rapasan, Barata Kendek, Todi Balang, Todi Rondon, Todi Sangoloi, Di Silli, dan Tadi Tanaan.

Keunikan Rambu Solo lainnya, yakni dikorbankannya puluhan ekor kerbau. Masyarakat Toraja percaya, kian banyak kerbau yang dikorbankan, akan semakin cepat jenazah menuju puya.

Usai jenazah dikuburkan, saatnya bagi para ibu untuk menyediakan beragam hidangan dari potongan hewan yang dikorbankan untuk dimakan bersama. Keluarga, tetangga, dan tamu yang datang berbaur menyatu dalam satu jamuan.

4. Kerbau di Tana Toraja Bernilai Tinggi

Kerbau berperan penting dalam upacara Rambu Solo. Keluarga yang berduka biasanya berkurban beberapa kerbau untuk disembelih lalu dibagikan kepada warga.

Kian langka kerbau tersebut dapat menunjukkan kian tingginya strata sosial orang yang akan dimakamkan. Harga termahal kerbau di Tana Toraja dapat mencapai Rp1 miliar lebih, tergantung jenis kelangkaan kerbau.

Salah satu jenis kerbau termahal adalah tedong saleko. Kerbau langka ini berkulit putih dengan kombinasi belang hitam hingga bola matanya yang berwarna putih.

3 dari 5 halaman

5. Rumah Adat Tongkonan

Tongkonan adalah rumah panggung dari kayu dan atapnya yang menyerupai tanduk kerbau yang berfungsi penting bagi kehidupan sosial suku Toraja. Rumah ini jadi tempat tinggal, upacara adat, kegiatan sosial dan membina kekerabatan.

Tongkonan terdiri atas tiga bagian, yakni bagian selatan, tengah dan utara. Pada bagian selatan adalah ruangan untuk kepala keluarga, ruang tengah untuk tempat berkumpulnya keluarga, dapur dan tempat untuk meletakan jenazah sebelum disemayamkan. Di bagian utara adalah ruang tamu, tempat meletakkan sesaji dan sebagai tempat tidur.

Tradisi masyarakat Toraja biasanya tidak langsung menguburkan jenazah dan menyimpannya di rumah Tongkonan. Agar jenazah tidak cepat membusuk, maka jenazah dibalsem dengan ramuan tradisional.

6. Kain Tenun Khas Toraja

Peran penting dalam melakukan upacara Rambu Solo ini yaitu jenazah yang belum dimakamkan akan dibalut dengan kain tenun khas Toraja. Menurut kepercayaan suku Toraja yaitu Aluk Tadolo hal ini memang dilakukan sebagai syarat dalam upacar Rambu Solo.

Hal itu dilakukan sebagai ungkapan pertalian kasih yang menghubungkan sanak saudara. Namun, karena mahalnya harga kain yang dijual dengan harga Rp 300.000 hingga Rp 5 juta, lambat laun penggunaan kain tenun ini pun semakin berkurang.

Seiring berjalannya waktu kain tenun Jawa dengan motif khas Toraja pun di produksi dan dipasarkan di Toraja. Dengan harga lebih murah dari kain tenun asli hanya 100.000 ternyata membawa minat kembali masyarakat untuk menggunakan kain tenun. (Melia Setiawati)

4 dari 5 halaman

Daripada Jemput Virus Corona, Mendingan Liburan di Rumah Saja

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: