Sukses

Jurus Hindari Perceraian yang Rawan Terjadi Selama Pandemi

Jakarta -  Sebagian pasangan suami-istri merasa hubungannya menjadi lebih erat selama pandemi corona COVID-19. Salah satu alasannya, mereka lebih banyak berada di rumah sehingga bisa lebih dekat dan biasanya.

Sebelum pandemi, beberapa pasangan mungkin sulit punya banyak waktu bersama karena kesibukan mereka di luar rumah. Meski begitu, ada juga yang justru jadi sering bertengkar dan adu argumen karena tidak saling mendengarkan kebutuhan satu sama lain, dan jika dibiarkan bisa berakibat fatal hingga perceraian.

Kunci sukses langgengnya rumah tangga adalah saling mendengarkan, kata Co-founder dan psikolog dari rumah konsultasi Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima M.Psi.

Mendengarkan memang terkesan mudah, namun pada praktiknya seseorang hanya mendengarkan suara tanpa tahu maksud dari pesan yang disampaikan.

"Kita kan kadang-kadang berpikir kalau dengerin orang itu gampang tapi padahal yang masuk cuma suara doang. Pasangan belum selesai ngomong tapi kita sudah balas, 'Tapi kan.. tapi kan..'," jelas Saskhya dalam bincang-bincang "Love in the Time of Corona", yang dilansir dari Antaranews, 6 November 2020.

Saskhya menambahkan, dalam berargumen setiap pasangan harus tahu apa yang ingin disampaikan dan tidak melebar pada topik lain atau masalah lama. yang bisa berujung pada perceraian.

"Dalam berargumen kita selalu berpikir pasangan harus lebih dengar. Sebelum kita listen each other, kita harus punya self awareness dulu, kita tuh dalam kondisi emosi apa tidak saat mau berdiskusi. Kalau kita enggak bisa mendengarkan apa yang pasangan ingin sampaikan, segala sesuatu bisa terjadi," ucap Saskhya.

2 dari 3 halaman

Berdiskusi dan Berkomunikasi

Mengajak pasangan berdiskusi secara tiba-tiba juga bisa menciptakan kesan yang menakutkan. Ditambah lagi, kalau suami-istri hanya berkomunikasi kalau ada masalah saja, termasuk di masa pandemi ini.

Sangat penting untuk selalu berdiskusi dengan pasangan walau hanya membicarakan hal-hal kecil. Saskhya juga mengatakan pemilihan waktu untuk berdiskusi sangat mempengaruhi emosi kedua pasangan.

"Misalnya baru selesai WFH kan kepalanya masih banyak pikiraan, tiba-tiba kita bilang, 'Aku mau ngomong'. Kita harus tahu juga waktu yang tepat, tempat yang tepat, kapan sih mungkin sambil makan snack, minum teh," kata Saskhya.

"Terus pembiasaan, itu adalah sebuah kebiasaan bicara sama pasangan saat masalah terjadi, sehingga kalau ada kalimat 'mau ngomong' malah sesuatu yang mengerikan padahal kalau terbiasa itu akan jadi hal normal," tutup Saskhya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: