Sukses

Kiat Kimbab Family Mengelola Perbedaan Budaya di Dalam Keluarga

Liputan6.com, Jakarta - Nama Kimbab Family mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang Indonesia. Namun, keluarga multibudaya, yakni percampuran Indonesia dan Korea Selatan, terbilang populer di chanel Youtube lewat konten-konten seputar kehidupan sehari-hari.

Kimbab Family mengunggah video pertama pada Agustus 2018. Pasangan suami istri, Appa Jay dan Mama Gina, awalnya memanfaatkan chanel tersebut agar dapat terus terhubung dengan keluarganya.

Saat itu, Appa Jay yang masih tinggal di Bandung, Indonesia, banyak merekam tingkah polah ketiga anaknya, yaitu Suji, Yunji, dan Jio, untuk dapat dilihat oleh keluarganya di Korea Selatan. Mengunggahnya ke laman video berbagi lalu membagikan tautannya kepada keluarga dianggap lebih mudah dan efisien ketimbang harus mengirimkan file video besar melalui aplikasi chat yang memiliki keterbatasan.

Tak disangka, unggahan pertama mereka ditonton oleh sekitar 300 orang dan direspons baik. Appa Jay dan Mama Gina pun terpacu untuk terus membagikan kisah mereka di saluran tersebut. Saat ini, Kimbab Family telah memiliki satu juta Keluarga Online, sebutan bagi pengikut chanel tersebut, hanya dalam kurun waktu sekitar dua tahun. 

Video mereka banyak dipuji karena keharmonisan dan kebahagiaan yang ditularkan dari keseharian keluarga mereka. "Kami berdua bukan ahli dalam parenting, ahli dalam bahasa, ahli dalam rumah tangga, atau ahli dalam memasak. Kami hanya ingin membagikan kehidupan kami yang berbeda budaya di Korea kepada keluarga Indonesia," kata Mama Gina dalam rilis yang diterima Liputan6.com, Jumat, 18 September 2020.

Menjadi viral dan dikenal banyak orang awalnya menimbulkan kekhawatiran bagi pasangan Gina dan Jay, terutama tentang privasi dan perlindungan penggunaan internet bagi putra-putri mereka. Bagi pasangan itu, penting untuk memilah konten yang akan dibagikan kepada penonton keluarga multikultural itu.

Penting juga untuk menerapkan batasan dan mengawasi anak-anak mereka saat terlibat dalam sebuah konten, seperti merespons tanggapan dari pemirsa, hingga pada kegiatan berinternet sehari-hari. Biasanya, Appa Jay dan Mama Gina memberlakukan perjanjian kepada putra-putrinya sebelum memberikan akses internet di rumah.

"Peraturannya sangat fleksibel. Kami selalu berusaha untuk berkomunikasi yang baik, membuka dialog untuk mencapai kesepakatan bersama (dalam penggunaan internet) dengan anak-anak," Appa Jay menambahkan.

2 dari 3 halaman

Pengaruh Pandemi Covid-19

Bagi Kimbab Family, pandemi Covid-19 sedikit mengubah kebiasaan mereka dalam berinternet. Selain mengubah pola pembelajaran anak-anak yang kini dilakukan secara daring, pandemi juga memengaruhi isi konten yang dibagikan di kanal Kimbab Family.

Keluarga yang kini tinggal di Korea Selatan itu belakangan banyak mengunggah cerita tentang kebiasaan-kebiasaan baru selama pandemi, seperti penggunaan masker yang benar, penataan ulang ruangan, berkebun, belajar bahasa daerah, hingga membuat sajian lezat bersama. Lewat konten yang disajikan, kedua orangtua selalu berusaha menanamkan nilai pada anak-anaknya tentang pentingnya rasa hormat kepada orang lain.

Perihal bahasa, pasangan ini mengaku tidak memiliki trik khusus dalam penggunaan multi-bahasa. Anak-anak mereka sudah terbiasa dengan dua budaya dan bahasa sekaligus. Bahkan, sesekali Mama Gina mengajarkan Bahasa Sunda dalam keseharian, ataupun dalam konten video mereka.

"Kami sadar bahwa mengerti bahasa adalah hal yang mendasar untuk mengenali dan menghormati satu budaya. Yang paling penting bagi kami adalah mereka tahu bahasa orangtuanya. Jadi, mereka 100 persen dapat berkomunikasi dengan kami," jelas Appa Jay.

Mama Gina juga menambahkan bahwa bagi Kimbab Family, penting untuk menjadi channel yang bisa ditonton oleh siapa saja dan aman untuk seluruh anggota keluarga. Ke depan, ia juga berencana membuat konten video yang bisa terus menginspirasi para penontonnya, seperti kisah perjuangan Mama Gina sebagai orang Indonesia yang tinggal di Korea, maupun tentang bagaimana anak-anak mereka belajar berbagai budaya dan saling menghargai satu sama lain. (Brigitta Valencia Bellion)

 

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: