Sukses

Rendang dan 'Triangle Concept' Kuliner Nusantara

Liputan6.com, Jakarta Penjelasan Vita Datau Messakh, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Kuliner dan Belanja Kemenpar, tentang Triangle Concept rendang di forum ASEAN Gastronomy Conference yang digelar di Hotel Shangri-La, Chiang Mai, membuat audiens terpukau.  

"Silakan Googling. Rendang adalah makanan terlezat di dunia pada tahun 2011 dan 2017," tutur Vita Datau menurut informasi yang diterima Liputan6.com, Kamis (25/1/2018). Ahli-ahli gastronomi ASEAN, chef-chef ternama hingga sejumlah stakeholder pariwisata langsung terdiam. Tak ada yang bisa membantahnya lantaran gelar itu diberikan CNN, sebuah media ternama berskala internasional.

Para peserta terlihat makin antusias saat Vita memaparkan  filosofi rendang. Filosofinya dinilai sangat sesuai dengan konsep gastronomi dan keberlanjutan. 

"Rendang memenuhi kriteria gastronomi karena di dalamnya terdapat proses pembuatan yang dinamakan 'marandang'. Dan filosofi dari setiap unsurnya seperti daging mencerminkan  prosperity (kesejahteraan), rempah-rempah mencerminkan enhancement (peningkatan), santan kelapa untuk integrator dan cabe merah untuk pelajaran baik," ungkap Vita.

 

1 dari 3 halaman

Triangle Concept

Melalui serangkaian diskusi dengan para pemangku kepentingan di tanah air, diperoleh data bahwa kekayaan dan keanekaragaman gastronomi Indonesia merupakan kontribusi dari 1.340 suku di Indonesia. Keanekaragaman hayati berupa hutan tropis yang luasnya lebih dari 80 juta hektare tempat berkembangnya lebih dari 40 ribu jenis tanaman serta perairan Indonesia yang sangat luas menyimpan 2.500 jenis ikan laut dan 2.184 jenis ikan tawar. Ini semua menjadikan suku-suku di Indonesia dapat berkreasi menciptakan makanan tradisional yang angkanya mencapai lebih dari 5.000 resep.

Kemudian, dari hasil diskusi kalangan pakar kuliner, keluarlah konsep gastronomi Indonesia yang disebut dengan Triangle Concept, yakni filosofi gastronomi berporos pada tiga tungku segitiga, masing-masing Makanan (food), Budaya (culture), dan Sejarah (history).

"Antara food dan history terhubungkan oleh spices (rempah-rempah), kemudian antara history dengan culture terhubungkan oleh story telling (hikayat), dan antara culture dengan food terhubungkan oleh ritual/ceremony (upacara)," papar Vita Datau yang juga Ketua Akademi Gastronomi Indonesia (AGI).

 

2 dari 3 halaman

Rendang dan citra Kuliner Indonesia

Menpar Arief Yahya yang sedang menghadiri Ministerial Meeting di Chiang Mai juga angkat bicara. Menurutnya, reputasi rendang ini akan menaikkan citra kuliner dan pariwisata Indonesia.

"Kuliner ketika sudah siap dipromosikan, dikapitalisasi, maka dia sudah masuk pariwisata. Semakin banyak makanan kita yang dikenal, maka semakin banyak yang ingin ke negara kita. Ini adalah kultur diplomasi bangsa kita,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya.

Artikel Selanjutnya
Kuliner Istimewa di Bulan Ramadan ala Kampung Betawi 
Artikel Selanjutnya
Lezatnya Kuliner Ramadan Perpaduan Timur Tengah dan Mediterania