Sukses

Dikira Sakit Usus Buntu, Ibu Muda Ini Malah Melahirkan Bayi

Liputan6.com, Jakarta Emma Murray tak pernah menyangka, sakit perut luar biasa yang ia alami pada maret 2013 silam merupakan tanda bahwa dirinya akan melahirkan seorang bayi. Pada tengah malam, Emma dilarikan ke rumah sakit karena diduga mengalami radang usus buntu.

Namun, setelah diperiksa dokter, Emma ternyata akan melahirkan seorang bayi. Ia pun dilarikan ke rumah sakit lain untuk dibantu proses persalinannya.

Emma tidak menyadari bahwa ia hamil karena tidak mengalami pertambahan berat badan yang signifikan. “Saya juga tidak merasa mual dan ngidam serta masih mengalami menstruasi,” ujarnya seperti dikutip dari Dailymail, Jumat (30/10/2015).

Keterkejutan Emma tidak sampai di situ. Hal kedua yang mengagetkannya adalah bayi yang dilahirkannya tidak memiliki otak yang sempurna.

Bayi yang dinamakan Aaron Murray itu mengalami kondisi kesehatan yang sangat jarang terjadi, yakni holoprosensefali. Kelainan itu menyebabkan Aaron hanya memiliki batang otak tetapi bukan otak secara keseluruhan. Kondisi itu memungkinan Aaron hanya bisa bernapas dan bergerak tetapi tidak dapat berpikir selayaknya manusia normal.

Ia pun divonis meninggal sesaat setelah dia dilahirkan. Kalaupun bisa bertahan, dirinya mungkin hanya akan bertahan bertahan tiga menit, tiga jam, atau tiga hari. Dokter bilang, jika ada organ yang gagal bertumbuh, mungkin mereka bisa menumbuhkannya, tetapi tidak untuk otak.

Kondisi Aaron yang mengalami holoprosensefali hanya dialami kira-kira dua dari 10.000 kelahiran. Kondisi ini bisa jadi ringan atau parah, tergantung kasusnya. Namun, kebanyakan bayi yang menderitanya meninggal sebelum dilahirkan.

Kondisi ini berbeda pada Aaron yang ternyata semakin membaik beberapa jam setelah dilahirkan. Ia pun mampu bernapas tanpa bantuan alat napas. Organ dalamnya bisa bekerja, maka ia bisa bernapas, mendengar, dan melihat. Ia pun dipindahkan ke Yorkhill Royal Hospital untuk anak sakit dan menjalani operasi pengangkatan cairan di kepalanya.

Kini Aaron mampu tertawa dan bercanda meski dengan segala keterbatasannya. “Ia sangat senang terlibat dalam kegiatan bersama orang lain, ia senang membuka hadiah dan menonton televisi,” kata Emma. (Uno/Ibo)